5 Tips Mengelola Keuangan bagi Bisnis UKM

Anda harus mengelola keuangan yang baik bagi bisnis UKM anda. Keuangan menjadi salah satu aspek yang paling penting dalam bisnis UKM. Bagaimana pun juga, Anda pasti ingin agar UKM yang dijalankan mampu memberi pemasukan tinggi sehingga keuntungannya pun besar. Demi mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan pengelolaan keuangan yang benar. Apa saja hal yang bisa anda lakukan?

  1. Pisahkan Uang Pribadi dan Bisnis

    Hanya karena usaha Anda masih terbilang “kecil”, bukan berarti Anda boleh menggabung keuangan bisnis dengan keuangan pribadi Anda. Jika hal tersebut dilakukan, Anda hanya akan kesulitan membedakan pengeluaran pribadi dan bisnis. Kontrol terhadap pemasukan dan pengeluaran pun akan membingungkan. Akibatnya, keuangan pribadi akan banyak digunakan untuk kepentingan usaha Anda. Sebaiknya, buka rekening baru khusus untuk menyimpan segala dana yang terkait dengan UKM Anda. Di sisi lain, Anda juga harus disiplin dalam menerapkan pemisahan keuangan antara keperluan pribadi dan bisnis. Anda harus dengan baik mengelola keuangan pribadi Anda.

  2. Buat Rincian Penggunaan Uang

    Setelah keuangan UKM terpisah dari keuangan pribadi, saatnya Anda membuat rician terhadap penggunaan uang tersebut. Tanpa perencanaan matang, bisnis UKM Anda bisa terhambat karena kekuragan dana. Sesuaikan rincian penggunaan dana sesuai dengan target penjualan dan penerimaan kas. Jangan menghamburkan dana meski mungkin saldo kas Anda sedang berlebih. Sebaiknya, lakukan analisis untung dan rugi (cost and benefit) untuk memastikan bahwa penggunaan uang akan menghasilkan keuntungan besar sehingga tidak akan sia-sia.

  3. Pencatatan Keuangan

    Banyaknya hal yang harus dikerjakan membuat Anda lupa untuk “menyentuh” hal satu ini. Padahal, pencatatan keuangan berpengaruh besar dalam penentuan masa depan bisnis UKM Anda. Selalu catat setiap pemasukan dan pengeluaran yang terjadi, lalu cocokkan saldo dengan jumlah uang yang tercatat di pembukuan setiap hari untuk memastikan tidak ada yang terselip. Jangan lupa mencatat segala saldo utang dan berbagai aset tetap yang Anda miliki. Sebaiknya, lakukan pencatatan keuangan menggunakan sistem komputer seperti Kiper untuk memudahkan Anda.

  4. Putar Arus Kas

    Sebagai pemilik UKM, tentu Anda ingin bisnis selalu menghasilkan keuntungan besar. Meski begitu, pengelolaan keuangan bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga mengelola utang hingga persediaan produk yang dijual. Memiliki pembukuan yang baik harus disertai dengan perputaran arus kas yang lancar pula. Putaran kas akan melambat ketika termin penjualan kredit lebih lama daripada kulakannya atau ketika Anda harus menyimpan persediaan barang dagangan. Usahakan agar termin penjualan kredit selalu sama dengan pembelian kredit Anda. Tekan tingkat persediaan agar mampu memenuhi pesanan tanpa membebani keuangan.

  5. Siapkan Dana Darurat

    Tidak ada yang dapat memprediksi masa depan UKM Anda. Bisnis yang kini sedang berjalan baik bisa mengalami hal-hal tidak terduga di kemudian hari. Misalnya omzet menurun atau terjadi musibah lain. Itulah mengapa penting bagi Anda untuk menyiapkan dana darurat, yang hanya boleh digunakan ketika Anda benar-benar membutuhkan. Jadi jika mengalami kerugian, bisnis UKM Anda tidak akan langsung terjerembap. Dana darurat juga bisa mengurani beban saat bisnis UKM Anda dilanda masa sulit.

Itulah beberapa tips mengelola keuangan yang bisa Anda terapkan pada bisnis UKM Anda. Semoga tips tersebut dapat membantu Anda dalam mengembangkan bisnis UKM dan keuntungan yang masuk pun semakin besar. Apabila perlu, rekrutlah orang lain yang memang ahli dalam bidang finansial untuk membantu Anda.

 

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami di:

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

Kiper.com

Advertisements

Cara Membaca Laporan Keuangan

Hasil akhir dari proses akuntansi yang paling penting, adalah laporan keuangan. Dengan membaca laporan keuangan, manajemen, pemilik perusahaan, atau siapapun yang berkepentingan bisa mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Kondisi apa saja yang bisa dilihat dengan membaca laporan keuangan? Untuk sungguh-sungguh memahami logikanya, Anda harus memposisikan diri sebagai sesorang yang sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Misalnya anggap diri Anda sebagai pemilik usaha atau orang yang akan berinvestasi diperusahaan tersebut.

Contoh sederhananya Anda bisa memposisikan diri Anda sebagai pemilik usaha, pada umumnya jika memposisikan sebagai pemilik usaha, minimal Anda ingin mengetahui 2 hal berikut ini :

1. Kekayaan Perusahaan

Pertanyaan paling mendasar mengenai kekayaan perusahaan bisaanya “Apakah perusahaan dalam kondisi baik-baik saja?” dalam hal ini yang dimaksud adalah “Dapatkah perusahaan beroperasi secara lancar”. Perusahaan hanya akan bisa beroperasi secara lancar bila, Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari; memenuhi kewajiban-kewajibannya sepeti membayar hutang kepada vendor/supplier, bank, dan membayar dividen kepada pemegang saham; Memiliki persediaan  baik bahan baku untuk diproduksi atau barang jadi untuk di jual kembali; dan yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki sarana dan fasilitas yang cukup untuk menunjang kelancaran operasional perusahaan.

Hal tersebut diatas tercermin pada Neraca atau yang sering juga disebut sebagai “Laporan Posisi Keuangan.” Dari neraca tersebutakan terlihat berapa jumlah kekayaan perusahaan mulai dari jumah kas, bank, piutang dan lain sebagainya.

2. Untung dan Rugi

Belumlah cukup jika hanya dengan mengetahui berapa besarnya kekayaan perusahaan, atau mengetahui apakah perusahaan mampu melunasi hutang-hutangnya. Sebagai orang yang membutuhkan informasi mengenai keuangan sebuah perusahaan atau sebagai pemilik usaha sebaiknya juga perlu untuk mengetahui beberapa hal ini:

  • Apakah bulan/tahun ini Anda untung atau rugi? Jika rugi, mengapa?
  • Apakah operasional perusahaan berjalan dengan efisien atau sebaliknya, boros?
  • Apakah sumber daya perusahaan lebih banyak digunakan untuk aktivitas yang menghasilkan barang/jasa atau untuk hal-hal di luar itu?

Selain itu juga harus peka untuk beberapa kondisi seperti  :

  • Angka pendapatan tinggi, tetapi mengapa Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang sangat kecil?
  • Angka penjualan rendah, tetapi mengapa Laporan Laba Ruginya menunjukan angka minus alias rugi? Bisaanya jika penjualan rendah aktivitas produksipun ikut juga rendah sehingga tidak menimbulkan kerugian?
  • Penjualan begitu tinggi, Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang signifikan, tetapi mengapa begitu banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran?
  • Ekuitas Pemilik menunjukan peningkatan yang cukup besar, tetapi mengapa tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham?

Untuk bisa mengetahui jawaban atas masalah seperti di atas yang pertama kali Anda butuhkan adalah laporan laba rugi. Pada laporan laba rugi ini Angka pada kolom “Pendapatan ” Anda bandingkan dengan “Harga Pokok Penjualan”, untuk melihat gross profit-nya apakah angkanya terlihat logis/wajar atau tidak? bagai mana bisa mengetahui jika angka tersebut logis/wajar atau tidak? Anda bisa menggunakan kelaziman dan benchmark. Dari sana bisa diketahui bahwa untuk jenis usaha manufaktur gross profit margin ada di kisaran 25 hingga 50%. Untuk jenis perusahaan jasa ada di kisaran 50 hingga 70%. Dan untuk jenis usaha trading (termasuk retail) ada di kisaran 70 hingga 200%.

Jika angka gros pforit-nya tidak bermasalah maka pengamatan dilanjutkan kembali pada elemen beban dan biaya perusahaan, perhatikan untuk setiap beban dan biayanya. Dalam keadaan seperti ini telitilah dalam melihat suatu biaya yang terjadi dalam sebuah perusahaan jika diperlukan bandingkan dengan periode atau tahun sebelumnya. Seperti apakah wajar jika biaya X senilai Y kemudian lakukan pengecekan mengapa bisa terjadi hal demikian dan segera lakukan penanganan terhadap biaya tersebut.

Selanjutnya perusahaan bisa memenuhi kewajibannya, tetapi mengapa banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan atas keterlambatan dalam pembayarannya?

Untuk mengetahui mengapa demikian maka perhatian harus diarahkan ke elemen-elemen neraca yang lebih kecil. Perhatikan masing-masing dari saldo per-akun-nya pada posisi aktiva, sebagai contoh pada nilai piutang usaha lebih besar dibandingkan dengan persediaan atau kas atau asset yang lainnya hal ini salah satu kemungkinan yang menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam pembayaran ke vendor walaupun penjualan atau laba usaha besar/meningkat jika dibandingkan dengan periode atau tahun yang sebelumnya.

Keadan demikian bisa diatasi dengan cara mencegahnya di waktu yang akan datang?. Untuk mengatasinya pihak manajemen perusahaan perlu memfokuskan perhatian pada proses penagihan piutang atau manajemen perlu mengubah kebijakan dalam  hal untuk mempercepat pembayaran piutang misalnya dengan menawarkan potongan untuk pembayaran lebih awal, jika dibutuhkan unttuk panggil debt collector jika mengalami kesulitan penagihan. Dalam perkreditan misalnya di buat lebih ketat lagi atau pembatasan maksimal kredit, lebih selektif terhadap pemberian kredit,  termin pembayaran di perpendek, dan lain sebagainya.

Ekuitas pemiliki meningkat tetapi dividen tidak/belum bisa dibagikan kepada pemegang saham”? Dengan kata lain perusahaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan perusahaan tidak memiliki cukup persediaan Kas. Dan untuk mengatasinya bisa dengan mengelola pengalokasian kas sesuai dengan yang sudah direncanakan, pergunakan kas secara efektif dan efeisien, dan lain sebagainya dengan melihat rincian “Laporan Arus Kas”.

Dari penjelasan diatas bisa diketahui bagai mana cara untuk memahami dan mencari pemecahan masalahnya, hal ini menjadi dasar mengapa sangat perlu untuk bisa membaca laporan keuangan. Dengan mengetahui segala kemungkinan yang terjadi maka keputusan yang tepatpun akan dapat diambil secara cepat untuk keberlangsungan sebuah perusahaan. Dan semua itu akan menjadi mudah jika pencatatan akuntansinya dikelola dengan baik dan benar. 

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami di:

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

Kiper.com

CARA MEMPROMOSIKAN BRAND BISNIS DI INSTAGRAM

Di jaman yang serba terhubung dengan internet seperti sekarang ini, sosial media menjadi salah satu alat yang paling ampuh untuk mempromosikan brand dari bisnis yang Anda jalankan. Selain mudah dijalankan dan lebih terjangkau, pesan yang ingin disampaikan melalui sosial media akan langsung ditujukan kepada para target atau pengguna yang diinginkan. Di antara sekian banyaknya platform sosial media di internet, Instagram menjadi pilihan yang utama dan penting sebagai alat sosial marketing.

Instagram merupakan salah satu sosial media yang tepat untuk mempromosikan bisnis online Anda dan banyak digandrungi para pebisnis. Visualisasi Instagram yang menarik dan bervariasi, membuat banyak orang senang berjualan melalui Instagram. Dengan demikian, penting bagi para pebisnis untuk mendukung brand sebaik mungkin demi mempertahankan tingkat pertumbuhan bisnis serta membangun interaksi dengan audiens Anda.

Nah, berikut ini adalah 3 cara mempromosikan brand bisnis Anda di Instagram.

1. Gunakan Alat Untuk Mengelola Akun Anda

Instagram baik di ponsel ataupun website tidak menawarkan pilihan yang terbaik bagi merek untuk bisa secara efektif terlibat dengan komunitas mereka. Sebelum Instagram melakukan peluncuran versi website, banyak alat yang dikembangkan dan berfungsi untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh para pengelola instagram seperti Statigram bagi para audiens dan Nitrogram untuk pengukuran.

  • Statigram

Statigram berfungsi untuk memantau komunitas Anda serta terlibat dalam berbagai cara. Alat ini membantu Anda untuk melihat foto dan news feed Instagram Anda, menyelenggaran kontes, melacak metric dari akun dan juga menanggapi komentar dari para audiens Anda.

  • Nitrogram

Tujuan utama dari Nitogram yaitu untuk secara efektif mengukur popularitas dari akun Instagram. Banyak aplikasi yang fokus kepada para pengikut, namun jangan lupa untuk selalu mencermati lebih dalam tentang bagaimana audiens melibatkan diri dengan konten Anda.

2. Balas Komentar dan Tumbuhkan Komunitas Anda

Hal penting yang perlu Anda lakukan untuk komunitas Instagram Anda yaitu tetap aktif dan memberikan berbagai manfaat nyata dengan menanggapi komentar. Pantau hashtags Anda dan juga foto-foto bersama dari akun Anda sebagai umpan balik dari audiens Anda. Tanggapi setiap komentar yang ada secara tepat waktu, dan selalu ingatlah bahwa tujuannya yaitu untuk menambah manfaat yang dapat diambil dari percakapan sehingga para pengikut Anda merasa terhubung dan dihormati oleh Anda.

Pada saat Anda menjawab pertanyaan dan menanggapi komentar, disitu Anda akan membantu membangun basis audiens yang setia serta membantu memberikan visibilitas yang lebih baik untuk akun Anda di Instagram. Saat Anda aktif mengomentari foto maka Anda telah membangkitkan percakapan yang menarik dan Anda juga telah membantu meningkatkan jumlah komentar pada foto Anda.

3. Hashtags Untuk Mengukur Pertumbuhan Komunitas

Hashtags merupakan cara sederhana yang justru sering diabaikan untuk membantu Anda dalam memantau dan mengukur pertumbuhan komunitas dari waktu ke waktu. Tidak jauh berbeda dengan Twitter dan Google+, hashtags membantu para pengguna untuk menampilkan foto-foto dengan subjek tertentu berdasarkan pada kata yang digunakan dalam hashtags.

Penting bagi Anda para pebisnis untuk melihat jumlah foto yang diunggah mengenai merek Anda guna mengukur pertumbuhan dari waktu ke waktu dan juga kesan audiens Anda terhadap bisnis Anda.

Semoga beberapa cara diatas bisa bermanfaat bagi Anda para pelaku bisnis online yang ingin menggunakan Instagram sebagai salah satu sosial media untuk mempromosikan brand atau bisnis Anda. Salam sukses!

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

bisnisukm.com

Apakah Perusahaan Kecil Perlu Menerapkan Pembukuan-Akuntansi?

Pertanyaan “apakah perusahaan (kecil) saya perlu menerapkan pembukuan-akuntansi” ini sangat sering diajukan oleh pengusaha kecil (UKM), misalnya: salon kecantikan, toko kelontong, penjahit pakaian (tailor), konveksi, bengkel, gerai cellular, bistro, sampai e-commerce dan bisnis online dadakan yang belakangan menjamur via Facebook dan media sosial lainnya. Pertanyaan serupa yang cukup sering ditanyakan adalah: “kapan perusahaan saya memerlukan pembukuan dan akuntansi?

Jika anda—orang accounting—yang ditanya, kira-kira apa jawaban anda? Apakah perusahaan kecil seperti itu perlu pembukuan dan akuntansi? Kapan suatu usaha memerlukan pembukuan dan akuntansi?

ObviouslyDi satu sisi, kita—sebagai orang accounting—sudah pasti menyarankan mereka untuk menerapkan akuntansi, minimal pembukuan. Iya kan?

Di sisi lainnya, saya yakin, para pelaku usaha kecil rata-rata sudah tahu bahwa, menerapkan pembukuan dan akuntansi adalah bagus. Dari buku, majalah, radio, televisi, koran, media online, pasti mereka pernah baca/dengar.

Anehnya, entah mengapa, sampai saat ini sebagian besar pengusaha kecil seolah-olah tak terbujuk oleh anjuran itu, dan masih saja menganggap bahwa….

 

Proses Pembukuan/Akuntansi Merepotkan, Mengkonsumsi Biaya dan Waktu

Bukan anggapan yang salah. Proses menjalankan pembukuan—terlebih akuntansi—memang merepotkan, mengkonsumsi biaya dan waktu. Mari kita gunakan ‘kaca-mata’ pengusaha, sejenak:

1. Biaya – Proses pembukuan dan akuntansi adalah pekerjaan teknikal. Tidak semua orang bisa menjalankannya. Untuk bisa, perlu melalui proses pembelajaran khusus (workshop, kursus, atau belajar akuntansi di bangku kuliah). Mereka yang tidak bisa, terpaksa merekrut-dan-menggaji pegawai pembukuan/accounting. Atau, menggunakan jasa pembukuan/akuntansi dari pihak ketiga (konsultan). Dan itu, bisa jadi beban (biaya) serius bagi para pelaku usaha kecil.

Misalnya: revenue (mereka menyebutnya “omset”) usaha salon kecantikan hanya 15 juta, dengan keuntungan rata-rata 5 juta per bulan. Kalau bayar konsultannya sampai 2 juta/bulan, habislah untungnya. Merekrut dan menggaji pegawai accounting Rp 2 – 3 juta/bulan, ya sama saja.

2. Waktu – Katakanlah pengusahanya memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, sehingga tidak perlu merekrut (dan menggaji) pegawai accounting atau pakai konsultan, semua dikerjakan sendiri. Tetap saja proses akuntansi mengkonsumsi waktu. Apalagi bagi pengusaha kecil yang tidak menguasai akuntansi, sudah pasti sangat merepotkan. Dalam pandangan umum, pembukuan dan akuntansi sifatnya administrative belaka, tidak menghasilkan uang. Bagi banyak pegusaha kecil, waktu mereka akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membuat barang-dagangan atau melayani pelanggan (ketimbang melakukan pekerjaan administrative macam pembukuan dan akuntansi).

Itu sebabnya mengapa jarang ada perusahaan kecil yang mau menerapkan pembukuan (terlebih-lebih akuntansi) secara serius. Dari sekian banyak usaha kecil yang pernah saya tangani, kalaupun ada pencatatan (dan pengarsipan bukti transaksi), biasanya masih berantakan. Pencatatan dilakukan—sekedarnya saja—oleh pegawai yang tidak memiliki skill yang cukup. Itupun masih dianggap aktivitas sambilan, setelah pekerjaan lainnya selesai.

Memangnya akuntansi bisa membuat aku dapat banyak pelanggan, dapat supply bahan baku murah, sehingga menjadi untung?

…tanya saudara sepupu saya (pengusaha handicraft di Yogayakarta sana), antara skeptis dan sinis.

Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Lha wong saya bukan pengusaha, cuma lulusan SMEA, mantan pegawai accounting abal-abal. Lagipula, saya tidak pintar menjelaskan sesuatu—apalagi debat. I definitely am not.

Tapi saya ingin share satu kasus yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh pengusaha kecil. Siapa tahu, ada manfaatnya. Jika tertarik, silahkan lanjutkan membaca…

 

Mengapa Usaha Kecil Rentan Terhadap Kebangkrutan?

Sekitar 2 tahun lalu, salah satu klien saya, pengusaha (menengah) yang cukup sukses, menanyakan tentang bagaimana caranya mengelola uang pinjaman agar kelak tidak menimbulkan masalah bagi perusahaanya (baik dari aspek keuangan maupun perpajakan).

Tadinya saya pikir dia meminjam uang bank untuk menambah modal kerja. Ternyata tidak. Justru dia yang meminjamkan uang kepada adiknya, pengusaha konveksi sekaligus bistro (outlet pakaian jadi) yang kondisi keuangannya kembang kempis, nyaris bangkrut.

Selesai memberikan masukan seperlunya, waktunya mendengarkan keluh-kesah klien dalam menjalankan usaha. Ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi saya.

Klien saya itu mengeluhkan betapa capeknya dia meminjamkan uang kepada adiknya. Dikasih pinjaman 1 M habis dalam setahun. Pinjam 500 juta, tidak seberapa lama habis lagi. Begitu terus berkali-kali.

Ya mau bagaimana lagi?” kata klien saya itu setengah putus-asa.

Terlebih-lebih adik, membantu tetangga yang sedang ditimpa kesusahanpun baik, malahan wajib (dalam banyak kasus). Hanya saja, pada kondisi-kondisi tertentu bisa jadi bantuan itu (terutama uang) justru menjerumuskan orang yang kita bantu. Contohnya? Ya, klien saya itu. Bantuan kas yang terus-menerus membuat si adik tak pernah menyadari kalau pengelolaan usaha konveksinya, selama ini, tidak beres.

In general, perusahaan yang meminjam kas berkali-kali (darimanapun sumbernya), sesungguhnya, tidak sedang mengalami masalah uang, tetapi masalah pengelolaan uang—yang bisa jadi berawal dari ketidakberesan dalam pengelolaan operasional.

Hutang/pinjaman kas, tidak menyembuhkan penyakit keuangan maupun operasional. Jika dianalogikan dengan penderita typus, cairan infus memang bisa membuat dia tetap bertahan hidup, tetapi tidak membebaskannya dari rongrongan virus. Selain asupan infus, hal terpenting yang dibutuhkan adalah antibiotic. Setuju?

Demikian halnya dengan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan; pinjaman kas hanya bisa membuat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek (membayar tagihan-tagihan jatuh tempo), sehingga bisa ‘stay-in-business’, untuk sementara waktu. Jika pengelolaan keuangan dan operasional tidak diperbaiki, maka akan terlilit masalah yang sama begitu kas pinjamannya habis.

Itulah yang saya sampaikan ke klien. Atas rekomendasi kakaknya, beberapa hari kemudian si adik (pemilik konveksi dan bistro yang kembang-kempis) menghubungi saya—untuk konsultasi.

Hal pertama yang saya sampaikan adalah: pentingnya menerapkan akuntansi dengan serius, setidaknya pembukuan. Tetapi (sudah saya duga), dia menggunakan mindset yang sama seperti adik sepupu saya: pembukuan dan akuntansi lebih banyak merepotkan (dan membebani) ketimbang membantu.

Ada solusi lain, pak?” dia bertanya.

Saya katakan “tidak ada.” Percuma jika saya jelaskan—apa itu fungsi pembukuan dan akuntansi panjang lebar—dengan cara klise.

Sebagai gantinya, saya menanyakan apa hambatan terberat yang dia hadapi selama menjalankan usaha.

Jawabannya: “Saya selalu kesulitan kas”.

Ketika saya tanya apakah perusahaan dalam posisi untung atau rugi, dia mengatakan “kayaknya sih rugi.” Dan, ketika saya menanyakan “berapa kerugian bulan lalu?” dia tidak tahu berapa persisnya.

Saya tidak kaget—itu kondisi yang khas di lingkungan usaha kecil; tidak banyak pengusaha kecil yang tahu persis berapa keuntungan yang mereka peroleh (atau kerugian yang mereka derita) setiap bulannya. Lebih parahnya (dan ini mayoritas), mereka bahkan tidak tahu persis apakah perusahaannya sedang untung atau rugi. Yang mereka pakai adalah ‘sense’ (“kira-kira untung” atau “kira-kira rugi”), dari ketersediaan kas:

  • Jika kas melimpah (bisa membayar dengan lancar), berarti untung
  • Jika kas sedikit (mengalami kesulitan membayar), berarti rugi

Soal menggunakan instinct dan sense, tidak perlu diragukan lagi. Mereka (para pengusaha) memiliki keistimewaan dalam menggunakan instinct. Sehingga dalam mengambil keputusan, asalkan ‘make (business) sense’, mereka jalan.

Mereka jarang mengarahkan perhatian pada hal-hal yang detail, apalagi angka-angka kecil, lebih memilih mencurahkan perhatian pada hal-hal yang lebih besar, khususnya business strategy (menarik pelanggan, memenangkan kompetisi, mencari supplier bagus, cari pinjaman modal kerja, dan sejenisnya).

Apakah itu buruk, kaitannya dengan pengelolaan keuangan?

First of all. Yang namanya usaha, ada pasang surutnya, ‘peak-and-valley’, ‘high-and-low season‘. Dan sudah pasti, kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat laba/rugi, ketersediaan kas, dan lancar-tidaknya operasional perusahaan.

  • Pada tingkat profitabilitas yang tinggi (terlepas apakah si pengusahanya tahu berapa persisnya),  risiko yang timbul akibat lebih banyak menghandalkan sense (ketimbang detail), tidak terlalu terasa. Konkretnya, gangguan kas maupun operasional nyaris tidak ada, sehingga mereka berpikir “we are fine”. Padahal, bisa jadi itu hanya kondisi sementara—sebelum gelombang surut datang.
  • Giliran gelombang sedang surut (low season), tingkat laba perusahaan menurun (atau bahkan merugi), ketersediaan kas menipis dan tersendat, operasional perusahaan mulai terganggu. Apakah sense mereka sudah tidak tajam lagi? Oh masih. Rata-rata pengusaha memiliki ‘sense-of-crisis’ yang tinggi. Jika tidak, mana mungkin mereka panik mencari pinjaman kesana-kemari. Mereka ‘merasakan’ adanya ketidakberesan, tetapi dalam banyak kasus (pengusaha konveksi di atas misalnya), mereka tidak tahu; apa persisnya yang tidak beres, di bagian mana persisnya ketidakberesan terjadi.

Untuk tahu apa PERSIS-nya yang tidak beres dan dimana terjadi, INSTINCT dan SENSE SAJA TIDAK CUKUP. Diperlukan perhatian khusus hingga ke hal-hal detail. Jika mau bicara ekstrim, angka satu rupiahpun penting untuk diketahui; darimana berasal dan kemana perginya.

  • Untuk menelusuri (tracking) uang masuk dari mana dan digunakan untuk apa, apakah digunakan dengan efektif atau dihambur-hamburkan, perlu minimal MENERAPKAN PEMBUKUAN. Apa itu pembukuan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang beres dalam pengelolaan keuangan dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI KEUANGAN. Apa itu akuntansi keuangan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang yang beres dalam pengelolaan operasional dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI MANAJEMEN. Apa itu akuntansi manajemen? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.

Minimal 3 hal itu yang harus diperhatikan hingga ke hal yang paling detail, untuk bisa mengendalikan kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Tidak bisa lagi mengandalkan sense dan instinct.

Mereka yang tetap mengandalkan instinct-dan-sense dalam segala kondisi—dan ogah menerapkan pembukuan/akuntansi—sudah pasti mengalami kesulitan untuk keluar dari gangguan keuangan. Sayangnya, tidak banyak pengusaha kecil yang bisa lolos dari masalah keuangan, sehingga lebih banyak yang bangkrut ketimbang yang ‘stay-in-business’ dalam jangka waktu panjang.

Sebagai pembanding….

 

Mengapa Korporasi Besar Relative Lebih Stabil Dibandingkan Usaha Kecil

Aktivis dan pengamat ekonomi boleh menggiring opini publik—melalui media masa—dengan mengatakan bahwa, “usaha kecil lebih tahan terhadap gangguan ekonomi.” Bisa jadi apa yang para pengamat katakan itu benar—setidaknya jika dikaitkan dengan gangguan ekonomi makro, tetapi tidak dalam scope kondisi keuangan perusahaan itu sendiri.

Hasil pandangan mata saya sendiri setiap hari—bergelut dengan laporan keuangan mereka setiap hari, terlibat dalam cost reduction exercise, mengevaluasi sistim pengendalian intern, menyiapkan due diligent akuisisi—menemukan kenyataan bahwa: korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil. Ini kenyataan.

Jika anda pengusaha kecil, silahkan rasakan sendiri bagaimana kondisi keuangan dan operasional perusahaan anda? Mulus atau ngos-ngosan setiap hari?

Tidak perlu dijawab. Saya sudah tahu. Dan itu typical, lumrah, terjadi dimana-mana dari Sabang sampai Merauke.

Pertanyaannya: mengapa korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil?

Mirip seperti pembalap off-road yang berpacu di alam bebas, harus melewati berbagai macam rintangan untuk sampai di garis finish.

1. Korporasi Besar – Ibarat pembalap off-road  PRO yang sudah kenyang pengalaman. Mungkinkah mereka gagal mencapai garis finish? Bisa saja, tetapi kemungkinannya  kecil. Masih lebih besar peluang berhasilnya.

  • Apakah karena mereka tidak menemui hambatan di perjalanan? Namanya juga off-road, sudah pasti ada banyak rintangan.
  • Apakah karena mereka menggunakan 4WD powered vehicle yang CC-nya sangat besar? Pada umumnya, IYA, dan memang ada pengaruhnya, tetapi bukan itu kunci utama keberhasilannya.

Saya kenal beberapa PRO OFF-ROADers (pengusaha yang sudah berpengalaman, termasuk mantan boss saya). Yang pasti sekali, mereka turun ke lintasan balap dengan persiapan yang matang dan dilengkapi peralatan yang cukup. Mengajak navigator yang siap dengan peta dan kompas di tangan.

Disepanjang lintasan pacu, sang pembalap fokus untuk mengatur laju-gerak mesin mobil yang dikendarainya. Sementara sang navigator fokus untuk mengamati peta lintasan dan melihat kompas. Hasilnya?

Mereka lebih sering berada dalam lintasan (on-track) ketimbang nyasar ke luar kemana-mana, karena sang navigator selalu memandu sang pembalap, sesekali dia berteriak “banting kanan” atau “kiri” untuk menghindari kubangan atau batu besar. Beberapa dari mereka (meskipun jarang) pernah jauh keluar lintasan—mungkin karena pembalapnya rada ugal dan bandel. Bila itu terjadi, biasanya mereka berhenti sejenak, melihat peta dan kompas bersama-sama, berembug untuk mencari jalan kembali ke lintasan. Dan memang berhasil. Begitu cara kerja pembalap off-road yang PRO.

2. Usaha Kecil – Ibarat pembalap off-road amatiran. Nekat berangkat sendiri karena TIDAK MAMPU membayar navigator. Sudah tanpa navigator, tidak membawa peta dan kompas pula. Modalnya cuma nekat. Pakai instinct dan sense-pun, keduanya juga belum cukup terasah, masih tumpul (By the way: Instinct business itu bukan bawaan lahir, tapi hasil akumulasi pengalaman-panjang yang mengendap di bawah alam-sadar, dan muncul ke permukaan ketika dibutuhkan).

Kemungkinan berhasil melewati rintangan? Sangat rendah. Yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ arah lintasan, sehingga kemungkinan terjebak lubang atau terhalang batu, sangat tinggi. Dan… ketika tersesat keluar lintasan, yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ lalu menginjak pedal gas sekencang mungkin, sambil berharap bisa kembali ke lintasan. Iya kalau persediaan bensin tidak terbatas, bagimana kalau bensin habis sebelum sampai ke garis finish? Dan itu, most likely. Kalau pinjam istilahnya IFRS, “more than probable”.

Idealnya, setiap pembalap (amatir dan pro) turun ke medan balap dengan persiapan dan peralatan yang memadai. Demikian halnya dengan mereka yang terjun untuk menjalankan roda usaha.

Oke. Hidup memang tidak seindah itu. Pada kenyataannya, kondisi ideal tidak selalu bisa kita hadirkan (atau capai). Tetapi dengan pertimbangan yang sedikit lebih matang, mau bersusah-payah dan kerepotan, mestinya bisa menghadirkan kondisi yang setidaknya masih lebih baik ketimbang buruk samasekali.

Pertanyaannya: apa navigator, peta lintasan dan kompasnya roda usaha?

 

Pembukuan dan Akuntansi Menjaga Perusahaan Agara Tetap On-Track

Pengusaha kecil tidak mampu bayar konsultan untuk dijadikan navigator (“muahaal!” kata mereka), sangat masuk-akal dan bisa dimengerti. Tetapi mereka bisa merekrut pegawai pembukuan atau accounting yang tentu costnya lebih murah.

Untuk bisa tetap on-track mereka juga bisa membuat budget sederhana, menerapkan pembukuan, sebagai peta-lintasan dan kompas.

Iya. Bagi pengelolaan keuangan dan operasional,

Pembukuan dan akuntansi adalah peta dan kompasnya perusahaan

Untuk yang tidak berlatarbelakang pendidikan akuntansi, saya jelaskan sedikit apa itu pembukuan dan akuntansi, dan apa fungsi mereka masing-masing—dari perspektif pengusaha kecil (bukan dari perspektif regulator, investor atau lantai bursa saham).

1. PEMBUKUAN – Sederhahanya, “pembukuan” adalah istilah yang digunakan untuk mewakili aktivitas: mengumpulan bukti transaksi (nota) —> mencatat (menjurnal)—> mengelompokan (ke dalam akun-akun buku besar sesuai aktivitas)—> menyusunan laporan keuangan.

Proses pembukuan, dilakukan oleh seorang pegawai pembukuan yang memiliki skill khusus pembukuan (lumrah disebut “bookkeeper”). Tidak perlu sarjana akuntansi. D3 akuntansi (bahkan lulusan SMK Akuntansi) pun sudah cukup, sehingga tidak harus berbayar super-mahal.

Data yang dihasilkan dari proses pembukuan (pengumpulan bukti transkasi, pencatatan, pengelompokan, dan penyusunan laporan keuangan) minimal bisa digunakan untuk mengelola 3 elemen penting ini:

  • Mengelola Modal Kerja Berupa Kas – Apakah persediaan kas cukup untuk membiayai operasional hari ini, satu minggu, satu bulan atau satu kuartal ke depan. Lebih jauh lagi, bisa melihat dari mana datangnya kas, untuk apa kas digunakan, apakah kas digunakan secara efisien atau tidak.
  • Mengelola Modal Kerja Non Kas – Modal kerja non-kas meliputi: (a) Piutang: data pembukuan bisa digunakan untuk mengetahui berapa jumlah piutang hari ini, satu minggu ini, dan satu bulan ini. Dari total itu, berapa piutang yang jatuh tempo (akan cair) dan siapa saja pelanggannya—sehingga pengusaha bisa mengkoordinasikan penagihan dengan tepat waktu. (b) Utang: di sisi lainnya, pengusaha juga bisa tahu berapa nilai utang yang jatuh tempo (harus dibayar) hari ini, minggu ini dan bulan ini—sehingga bisa merencanakan pembayaran dengan lebih teratur (tanpa mengecewakan supplier). (c) Persediaan: data pembukuan juga bisa menjadi alat pengelola persediaan; berapa jumlah persediaan yang ada hari ini, akhir minggu ini, akhir bulan ini—apakah cukup atau berlebih-lebihan.
  • Mengola Aktiva Tetap – Disamping bangunan dan kendaraan operasional yang relative lebih mudah untuk dikelola, pada jenis usaha tertentu mesin dan peralatan adalah aset vital yang membuat perusahaan bisa beroperasi dengan lancar. Memastikan peralatan ini tidak hilang atau rusak adalah penting. Pembukuan menyediakan data pasti atas aset-aset ini, sehingga bisa diawasi dengan lebih mudah.

Dengan menggunakan data pembukuan saja, minimal pengusaha sudah bisa mengetahui: (a) darimana dan kemana kas mengalir; (b) apakah perusahaan dalam kondisi untung/rugi dan berapa; (c) berapa besar kekayaan perusahaan; (d) berapa besarnya kewajiban (utang) perusahaan. Secara global, informasi itu bisa diperoleh hanya dengan membaca laporan keuangan. Untuk menelusuri sampai ke detail, bisa melihat catatan transaksi yang sudah dikelompoka secara sistematis dalam buku besar. Dari informasi-informasi itu pengusaha sudah bisa mengetahui apakah perusahaan ‘on-track’ atau tidak.

2. AKUNTANSI – Pembukuan hanya sebagian dari cakupan proses akuntansi secara keseluruhan. Selain proses pembukuan (pengumpulan bukti transaksi, pencatatan, pengelompokan dan penyusunan laporan keuangan), akuntansi juga melakukan proses-proses analisa untuk pengambilan keputusan yang sifatnya lebih strategis. Proses akuntansi biasanya dilakukan oleh seorang akuntan atau konsultan yang bisa menjadi navigator dalam menjalan roda opersional perusahaan.

Oke. Akuntansi itu sendiri terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

a. Akuntansi Keuangan – Dalam akuntansi keuangan, data hasil proses pembukuan (yang sudah saya bahas di atas) dianalisa lebih jauh untuk mengetahui: apakah transaksi telah diproses sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Melalui proses audit, pengusaha bisa menemukan transaksi-transaksi aneh yang bisa jadi merupakan gejala awal adanya penyelewengan (fraud)—yang jika tidak terdeteksi bisa menimbulkan kerugian besar bagi perushaan.

b. Akuntansi Manajemen – Mengguanakan data yang dihasilkan dari proses pembukuan ditambah dengan data cost, lalu dibandingkan dengan budget, pengusaha bisa memperoleh informasi untuk digunakan sebagai dalam pengambilan-keputusan yang sifatnya lebih strategis. Misalnya:

  • Dari data kas (laporan arus kas dan detailnya), pengusaha bisa mengetahui apakah kas teralokasikan ke aktivitas-aktivitas yang bernilai-tambah atau bukan, dengan cara membandingkan antara budget (rencana) dengan realisasinya.
  • Dari data penjualan (di laporan laba-rugi) dan persediaan (neraca), pengusaha bisa tahu mana produk yang menghasilkan profit tinggi (sehingga perlu dikembangkan) dan mana yang tidak (mungkin lebih baik dihentikan produksinya). Lebih jauh lagi, pengusaha juga bisa tahu mana channel pemasaran yang efektif dan mana yang tidak—sehingga tahu strategi pemasaran seperti apa yang diperlukan ke depannya.
  • Dari data piutang (neraca), pengusaha bisa tahu pelanggan mana yang tepat waktu dalam membayar, malas membayar, sulit ditagih dan gagal tagih—sehingga bisa menilai pelanggan mana yang perlu diberi insentif kredit berjangkawaktu lebih panjang dan mana yang harus diketatkan. Bahkan pengusaha bisa tahu mana pelanggan yang profitable mana yang tidak—sehingga tahu harus berbuat apa terhadap mereka.
  • Dan lain sebagainya.

c. Akuntansi Pajak – Sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak adalah salah satu beban perusahaan yang jika salah-kelola bisa menimbulkan masalah yang sulit diatasi. Dengan data akuntansi pajak, pengusaha bisa melakukan kendali yang lebih efektif terhadap setiap unsur pajak yang timbul dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perushaan selama beroperasi. Misalnya: dengan membuat tax planning.

 

Kesimpulan: Kapan Perusahaan Perlu Menerapkan Pembukuan dan Akuntansi?

Akuntansi dan pembukuan, oleh pengusaha kecil, cenderung dianggap sebagai beban, sesuatu yang merepotkan—sehingga tidak banyak usaha kecil yang mau menerpkan keduanya secara serius. Pengalaman saya selama ini menunjukan; pengusaha kecil baru menyadari pentingnya menerapkan pembukuan dan akuntansi setelah mereka mengalami masalah keuangan.

Jika diterapkan secara serius, saya pribadi berani menjamin: beban gaji untuk pegawai bookkeeper/accounting atau fee untuk konsultan, sangat kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari proses pembukuan dan akuntansi yang diterapkan. Kerepotan yang ditimbulkan akibat proses pembukuan dan akuntansi, tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerepotan yang timbul jika tidak menerapkan.

Bagaimanapun juga, khususnya kepada perusahaan kecil (UKM), saya tidak pernah memaksa mereka untuk menerapkan pembukuan dan akuntansi. Keputusan natara menerapkan-atau-tidak, adalah  ‘trade-off’ untuk dipilih antara:

  • Repotnya menerapkan pembukuan-akuntansi serta beban yang ditimbulkannya; dengan
  • Potensi manfaat yang akan diperoleh.

Jadi, kapan suatu perusahaan perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi?

Suatu perusahaan belum perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi, bila PENGUSAHA (atau pengelolanya) BISA TAHU SECARA PERSIS:

  • Berapa keuntungan/kerugian perusahaan
  • Berapa profit margin perusahaan
  • Berapa penjualan hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Produk mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan
  • Channel pemasaran mana yang efektif dan mana yang tidak
  • Berapa biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead dan biaya umum lainnya
  • Aktivitas mana yang efisien dan mana yang boros
  • Berapa saldo kas hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Dari mana dan kemana kas mengalir
  • Siapa saja pelanggan yang belum bayar, berapa piutang (tagihan) ke pelanggan hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya
  • Berapa persediaan hari ini, minggu ini, bulan ini
  • Persediaan mana yang lancar dan mana yang negndon digudang berbulan-bulan
  • Siapa saja supplier yang belum dibayar, berapa utang ke supplier hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya.
  • Berapa saldo utang bank dan kreditur lainnya dan kapan jatuh temponya
  • Berapa kewajiban pajak yang timbul hari ini, atas obyek apa, dan kapan harus dibayar

TANPA MENGALAMI KESULITAN dan pemerintah/pihak otoritas lainnya belum mewajibkan.

Catatan Untuk Teman-Teman di Accounting

Salah-satu alasan mengapa pengusaha kecil enggan merekrut bookkeeper (terlebih-lebih akuntan) adalah karena mereka menemukan kenyataan bahwa: belum banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan penuh. Sebagian besar hanya sampai pada proses pencatatan dan penyusunan laporan keuangan ‘THOK’, belum sampai melakukan analisa yang bisa dijadikan bahan pengambilan keputusan.

Itu sebabnya, banyak pengusaha kecil yang menganggap MANFAAT yang diperoleh dari menerapkan pembukuan dan akuntansi BELUM SEBANDING dengan BIAYA dan KEREPOTAN yang ditimbulkan.

Semoga kedepannya semakin banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan lebih penuh, sehingga pengusaha tidak merasa sia-sia. Dengan terus memperdalam ilmu akuntansi dan belajar mengenai proses suatu usaha (bisnis), saya optimis semua orang accounting (management dan public accountant), BISA.

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | ISO

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

jurnalakuntansikeuangan

 

4 Tips Bisnis Plan Untuk Startup yang Layak Dicoba

Q: Seberapa penting memiliki bisnis plan dan termasuk apa saja?

A: Sebagai seorang pengusaha muda, mungkin kamu saat ini sedang bersemangat membangun startup dari bawah. Namun, merencanakan masa depan itu penting dengan memiliki bisnis plan dari awal.

Apakah kamu sudah membayangkan perusahaanmu dapat membantumu hingga kamu pensiun dan kamu perlu mengeluarkan biaya besar nantinya. untuk itu kamu merencakan bisnis planmu. Berikut ada 4 tips untuk meciptakan bisnis plan:

  1. Merencanakan Masa Depan

Mendefinisikan apa yang kamu inginkan dalam jangak panjang akan membantu membentuk bisnis planmu. Misalnya, sebuah bisnis keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tentunya ini membutuhkan langkah yang berbeda dibandingkan jika kamu menghitung penjualan per hari.

  1. Menentukan Pembeli yang Potensial

Jika kamu berencana menjual, berfikirlah tentang ketertarikan pembeli dalam menilai produkmu. Seringkali, ini menjadi sebuah pesaing atau perusahaan yang lebih besar dalam industri gratis. Meskipun, kamu bisa menjadi seorang karyawan.

  1. Melakukan Penelitian Teori dengan Penilaian yang Berbeda

Memahami konsep “net present value” dan “multiple of earning” sangat penting untuk menciptakan kekayaan. Melakukan pekerjaan jangan lupa untuk menilai secara subyektif, sampai akhirnya bisnis tersebut layak kamu jual.

  1. Mempertimbangakan Penjualan Bagian Dari Bisnismu

Perlu diingat bahwa kamu pasti bisa menjual bagian struktur perusahaanmu. Kamu dapat membagi kepemilikkan menjadi 2 jenis saham, yaitu voting dan non voting, ini untuk menjaga kontrol dari keputasan besar.

Jika kamu tidak memiliki bisnis plan, maka kamu telah membuat kesalahan strategi dalam menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri dan kamu tidak bisa meninggalkannya. Sebagian pengusaha tidak pernah lupa untuk bekerja dibisnis.

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

jejualan

 

Kenali Pasar, Ketahui Potensi dan Atasi Kelemahan Usaha Anda dengan Analisa SWOT

Memiliki ide untuk membuat sebuah usaha atau produk bisa di katakan gampang-gampang susah. Karena ketika kita sudah bisa menentukan usaha apa atau barang apa yang akan kita jalankan atau jual di pasaran, terkadang kita binggung untuk siapakah produk tersebut atau target dari usaha tersebut. Sebelum memasarkan sebuah produk ke pasaran atau menjalankan sebuah usaha, sebaiknya terlebih dahulu Anda ketahui dari segi kekuatan, kekurangan, peluang, dan ancaman yang mempengaruhi pemasaran produk Anda atau usaha yang akan dijalankan. Sebab tanpa informasi tersebut, Anda tidak dapat mengetahui seberapa besar potensi pasar , minat dan peluang pasar yang dapat dimanfaatkan, serta tingginya tingkat persaingan pasar pada produk atau udaha Anda. Untuk itu, analisa produk atau usaha (organisasi) sangat penting dilakukan sebelum Anda menawarkan produk Anda dan juga menjalankan usaha Anda.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menganalisa produk atau usaha (organisasi) adalah dengan metode analisis SWOT. Metode ini menganalisa dengan menggunakan dua faktor penting, yaitu faktor internal yang berupa kekuatan dan kelemahan. Serta faktor eksternal yang terdiri dari kesempatan dan ancaman. Cara ini menjadi salah satu kunci bagi para pengusaha untuk mengetahui potensi dari sebuah produk dan usaha yang dijalankan, sebelum akhirnya menentukan strategi pemasaran yang paling efektif untuk sebuah produk dan jenis usaha Anda.

Manfaat SWOT Bagi Para Pelaku Usaha

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa Metode analisis SWOT menganalisa dari dua faktor yaitu faktor internal berupa kekuatan (strengths), dan kelemahan (weaknesses), serta faktor eksternal yang berupa kesempatan (opportunities) dan ancaman (threats). Kedua faktor tersebut kemudian dapat diuraikan menjadi 4 (empat) sisi yang saling terkait, sebagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan dari sebuah peluang (opportunities) yang ada, kemudian bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan untuk bisa Anda dapatkan, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata. Dengan membuat analisis ini keterhungan 4 sisi tersebut, akan memberikan kemudahan untuk mewujudkan visi dan misi suatu perusahaan atau produk.

Sebagai pemahan atas analisis SWOT berikut contoh analisis SWOT untuk usaha penjualan tas wanita online

Menganalisis dan menguraikan faktor internal dan eksternal dalam usaha usaha penjualan tas wanita online.

1. Strengths | Kekuatan

  • Tempat usaha atau lokasi usaha di sekitar rumah yang kebanyakan wanita dan kecenderungan menyukai fashion terutama tas.
  • Konsep gaya yang ditawarkan adalah kekinian atau update trendy terkini.
  • Bisa dijadikan tempat berkumpulnya para pecinta tas ber-merek atau model terbaru.
  • Harga merakyat atau bisa dijangkau semua kalangan.
  • Lokasi yang mudah dijangkau dan tempat yang nyaman.
  • Memiliki website dan forum pribadi juga kontak delivery order.
  • Mengutamakan Brand dan model terbaru.
  • Keterjaminan dalam penyampaian barang yang dijual.

2. Weakness | Kelemahan

  • Banyak Pesaing.
  • Kurangnya kemampuan untuk menyediakan barang (ready stock) terkadang harus menunggu untuk bisa mendapatkan barang yang dipesan.
  • Modal untuk memulai usaha masih kurang.
  • Membutuhkan modal besar.
  • Masih belum membuat produk tas sendiri sebagai Brand unggulan.

3. Opportunities | Kesempatan

  • Dengan adanya inovatif dan kreatif usaha ini memiliki kesempatan besar untuk menjadi toko online besar.
  • Belum banyak tempat penjualan tas wanita yang menyediakan tempat yang nyaman dan menjadi tempat berkumpulnya para pecinta tas ber merk dan keluaran terbaru.
  • Masih Jarangnya toko tas online yang menyediakan forum untuk saling berbagi satu sama lainnya.
  • Memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

4. Threats | Ancaman

  • Terkadang forum memiliki gangguan karena internetnya sedang down.
  • Ketika harga meningkat, otomatis harga jual juga semakin mahal
  • Banyak pesaing yang mengikuti konsep atau gaya yang telah kita buat.

Kesimpulan dari analisis SWOT ini adalah :

Setelah menganalisis semua faktor, langkah selanjutnya adalah bagaimana memaksimalkan kekuatan (strengths), menutupi kelemahan (weaknesses), memanfaatkan peluang (opportunities), dan mengatasi semua ancaman (threats) yang datang. (Dari berbagai sumber)

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

kiper

DASAR MANAJEMEN KEUANGAN YANG BAIK BAGI UKM

Manajemen keuangan tidak hanya sekedar bagaimana cara mengelola uang kas. Namun bagaimana cara mengelola keuangan untuk menghasilkan keuntungan.

Meskipun terlihat mudah dan sangat sederhana, setiap pelaku usaha kecil menengah (UKM) penting untuk menerapkan manajemen keuangan yang baik. Minimal pelaku UKM mempunyai buku catatan kas masuk dan juga kas keluar. Kenyataannya para pelaku UKM lebih tertarik membahas ide dan inovasi bisnis, produksi dan target penjualan serta strategi pemasaran dibandingkan dengan berbicara manajemen keuangan.
Pelaku UKM menganggap bahwa manajemen keuangan adalah salah satu hal yang bisa berjalan dengan sendirinya. Jika bisnis bagus maka keuangan bisnis juga akan sama bagusnya. Persepsi tersebut mungkin ada benarnya, namun tetaplah berhati-hati karena bisa menyesatkan. Benar adanya jika sumber kas usaha adalah penjualan dan keuntungan. Akan tetapi bisnis tidak hanya sekedar bagaimana cara menghasilkan uang, melainkan juga mengenai bagaimana cara membelanjakan dan mengendalikan.

Manajemen keuangan tidak hanya sekedar bagaimana cara mengelola uang kas. Namun lebih dari itu, manajemen keungan merupakan bagaimana cara mengelola keuangan untuk menghasilkan keuntungan serta memanfaatkan sumber modal demi untuk membiayai usaha. Walaupun sederhana, UKM tetap perlu menerapkan manajemen keuangan. Berikut adalah beberapa dasarnya.
Buat Anggaran Arus Kas
Update kondisi keuangan perusahaan Anda terkait dengan komponen utama seperti penjualan, arus kas masuk dan keluar atau yang lain-lainnya. Anggaran untuk arus kas membantu memastikan bahwa perusahaan bisa membayar semua pengeluaran dan memungkinkan perusahaan untuk dapat mengelola pendapatan dan pengeluaran dengan efektif.
Mengenal Perubahan Arus Kas
Beban pokok operasional mempunyai dampak yang signifikan pada arus kas perusahaan. Di saat yang sama tekanan yang berasal dari kenaikan harga bahan baku akan terus membebani keuangan pada perusahaan. Arus kas juga dipengaruhi oleh keadaan hutang piutang perusahaan. Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi beban bunga.
Mengelola Piutang Terhadap Klien
Ada sejumlah cara yang berbeda tentang bagaimana cara mengelola piutang perusahaan. Menetapkan kebijakan kredit yang efektif adalah salah satu bagian penting dari manajemen arus kas. UKM juga harus mempunyai strategi tentang bagaimana cara mendorong klien untuk mau membayar lebih cepat. Misalnya membebankan bunga pada rekening yang sudah lewat jatuh tempo.
Periksa Status Hutang
Periksalah secara teratur keuangan perusahaan dengan jadwal pembayaran hutang. Hal ini bisa membantu di mata kreditur mengenai seberapa baik perusahaan bisa menjaga kewajiban kreditnya. Praktik berguna untuk melihat berapa banyak perusahaan berhutang, kepada siapa saja dan apakah perusahaan sekarang ini mempunyai jadwal pembayaran yang telah jatuh tempo atau tidak.
Mengurangi Biaya Opersional
Carilah bagaimana cara memotong biaya operasional. Misalnya saja dengan mencari bahan baku yang lebih murah, tetapi tetap bisa menjaga kualitas dari produk. Pada saat perusahaan menerima orderan yang banyak, Anda bisa menambahkan pekerja dengan status kontrak. Setelah itu, upgrade mesin produksi dengan menggunakan teknologi yang terbaru agar bisa lebih efisien dari sisi power konsumsi untuk menekan biaya listrik.
Menggunakan Kredit Secara Efektif
Fasilitas kredit tergantung dari keadaan perusahaan, rencana bisnis serta fasilitas kredit yang ada. Semakin baik keadaan dari perusahaan Anda maka akan semakin bagus juga prospek perusahaan di masa depan. Maka, hal itu akan berdampak pada pemberian kredit ke perusahaan dengan lebih mudah. Oleh karena itu, gunakanlah dana kredit tersebut secara tepat dan juga efisien.
Kelebihan Arus Kas Untuk Expansi
Pertimbangkan mengenai bagaimana perubahan perekonomian yang mempengaruhi keuangan perusahaan seperti untuk mata uang maupun suku bunga. Dengan begitu hal ini bisa mempengaruhi pendapatan maupun beban keuangan perusahaan. Setiap surplus arus kas bisa digunakan untuk ekspansi usaha, melunasi hutang serta mempertahankan tingkat produktifitas dari perusahaan.
Berbisnis tidak hanya soal strategi, promosi, pilihan bisnis serta popularitas bisnis Anda. Menjalankan suatu bisnis perlu memikirkan soal manajemen keuangan juga. Manajemen keuangan usaha yang baik akan sangat menentukan kesuksesan bisnis Anda. Salam sukses!

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
http://www.canconsulting.net / http://www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

http://bisnisukm.com/dasar-manajemen-keuangan-yang-baik-bagi-ukm.html