5 CARA MEMPERTAHANKAN CIRI KHAS BISNIS

Dalam menjalankan sebuah bisnis, kita akan menghadapi berbagai bentuk kendala, tak terkecuali adanya persaingan usaha. Menghadapi hal yang kadang diluar dugaan sudah menjadi bumbu yang jika kita jeli, maka akan membuat kita semakin giat dalam menjalankan bisnis tersebut.

Setiap bisnis yang ada sampai dengan saat ini tentu memiliki ciri khas masing-masing, dan untuk mempertahankan suatu ciri khas memanglah bukan perkara mudah, tapi bukan berarti kita tak bisa melakukannya. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman seputar tips cara mempertahankan ciri khas bisnis Anda agar tak seragam dengan pelaku bisnis lainnya.

1. Tentukan Identitas Warna

Setiap hari kita melihat warna, sedari kita bangun tidur, sampai dengan tidur lagi. Saya sering melakukan eksperimen kepada teman-teman saya tentang menanyakan warna dari produk tertentu. Dan 80% ketika menjawab, mereka menjawab warna yang mendominasi dari bisnis tersebut. Begitu pentingnya warna untuk identitas bisnis kita.

2. Panggilan Sayang Terhadap Konsumen

Bisnis yang ideal adalah bisnis yang meyapa dengan panggilan tertentu terhadap konsumen atau calon konsumen yang akan membeli atau menggunakan jasa kita. Seperti ketika rekan tim saya menyapa calon pengguna jasa mbojosouvenir, saya memanggil calon konsumen saya dengan panggilan “sob” atau “sobat mbojo”, ini akan memberikan kesan santai dan tidak terlalu kaku terhadap konsumen. Hati-hati dalam pemilihan panggilan, usahakan tidak terkesan menyinggung calon konsumen kita.

3. Penyajian Produk di SosialMedia

Untuk setiap apa saja yang disajikan di sosial media, kita harus memperhatikan kualitas penyajian dari produk atau tawaran jasa dari bisnis yang kita jalani. Untuk mendapatkan kualitas dalam penyajian, seorang pebisnis harus pandai dalam mengetahui umuran calon konsumen yang menggunakan bisnis kita. Pastikan penyajian kita bersifat universal, tidak kaku dan juga tidak kekanak-kanakan.

4. Jangan Jiplak Gaya Bisnis Pesaing

Hati-hati, bisnis bukan tentang kita bisa mengikuti peluang bisnis yang sudah berkembang, bisnis sebaiknya yang iconik alias bisa memberi hal baru yang tidak sama dengan yang lainnya. Walaupun pada akhirnya ada saja yang mengikuti atau plagiat bisnis kita, setidaknya konsumen akan tahu mana yang berkualitas, mana founder dan mana follower. Percayalah diri dengan gaya konten dari bisnis yang kita miliki.

5. Tak Hanya Tentang Untung, Gift Sangat Penting

Banyak yang mengira bahwa bisnis hanya tentang untung dan rugi, ya benar, kita juga harus memikirkan untung. Akan lebih beruntung lagi jika kita bisa membuat konsumen menjadi loyal terhadap bisnis kita (untuk jangka panjang), berilah gift gratis kepada konsumen. Dalam menjalankan bisnis, saya selalu memberi hal gratis kepada konsumen saya, dan hubungan saya dengan konsumen sangat erat sampai dengan saat ini.

Tetaplah percaya diri dengan ciri khas dari bisnis kita, jangan mudah terpancing untuk “menjiplak” gaya bisnis lainnya. Karena, konsumen sekarang sudah sangat pintar membandingkan sesuatu. Salam Sukses!

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

bisnisukm.com

Advertisements

CARA MEMPROMOSIKAN BRAND BISNIS DI INSTAGRAM

Di jaman yang serba terhubung dengan internet seperti sekarang ini, sosial media menjadi salah satu alat yang paling ampuh untuk mempromosikan brand dari bisnis yang Anda jalankan. Selain mudah dijalankan dan lebih terjangkau, pesan yang ingin disampaikan melalui sosial media akan langsung ditujukan kepada para target atau pengguna yang diinginkan. Di antara sekian banyaknya platform sosial media di internet, Instagram menjadi pilihan yang utama dan penting sebagai alat sosial marketing.

Instagram merupakan salah satu sosial media yang tepat untuk mempromosikan bisnis online Anda dan banyak digandrungi para pebisnis. Visualisasi Instagram yang menarik dan bervariasi, membuat banyak orang senang berjualan melalui Instagram. Dengan demikian, penting bagi para pebisnis untuk mendukung brand sebaik mungkin demi mempertahankan tingkat pertumbuhan bisnis serta membangun interaksi dengan audiens Anda.

Nah, berikut ini adalah 3 cara mempromosikan brand bisnis Anda di Instagram.

1. Gunakan Alat Untuk Mengelola Akun Anda

Instagram baik di ponsel ataupun website tidak menawarkan pilihan yang terbaik bagi merek untuk bisa secara efektif terlibat dengan komunitas mereka. Sebelum Instagram melakukan peluncuran versi website, banyak alat yang dikembangkan dan berfungsi untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh para pengelola instagram seperti Statigram bagi para audiens dan Nitrogram untuk pengukuran.

  • Statigram

Statigram berfungsi untuk memantau komunitas Anda serta terlibat dalam berbagai cara. Alat ini membantu Anda untuk melihat foto dan news feed Instagram Anda, menyelenggaran kontes, melacak metric dari akun dan juga menanggapi komentar dari para audiens Anda.

  • Nitrogram

Tujuan utama dari Nitogram yaitu untuk secara efektif mengukur popularitas dari akun Instagram. Banyak aplikasi yang fokus kepada para pengikut, namun jangan lupa untuk selalu mencermati lebih dalam tentang bagaimana audiens melibatkan diri dengan konten Anda.

2. Balas Komentar dan Tumbuhkan Komunitas Anda

Hal penting yang perlu Anda lakukan untuk komunitas Instagram Anda yaitu tetap aktif dan memberikan berbagai manfaat nyata dengan menanggapi komentar. Pantau hashtags Anda dan juga foto-foto bersama dari akun Anda sebagai umpan balik dari audiens Anda. Tanggapi setiap komentar yang ada secara tepat waktu, dan selalu ingatlah bahwa tujuannya yaitu untuk menambah manfaat yang dapat diambil dari percakapan sehingga para pengikut Anda merasa terhubung dan dihormati oleh Anda.

Pada saat Anda menjawab pertanyaan dan menanggapi komentar, disitu Anda akan membantu membangun basis audiens yang setia serta membantu memberikan visibilitas yang lebih baik untuk akun Anda di Instagram. Saat Anda aktif mengomentari foto maka Anda telah membangkitkan percakapan yang menarik dan Anda juga telah membantu meningkatkan jumlah komentar pada foto Anda.

3. Hashtags Untuk Mengukur Pertumbuhan Komunitas

Hashtags merupakan cara sederhana yang justru sering diabaikan untuk membantu Anda dalam memantau dan mengukur pertumbuhan komunitas dari waktu ke waktu. Tidak jauh berbeda dengan Twitter dan Google+, hashtags membantu para pengguna untuk menampilkan foto-foto dengan subjek tertentu berdasarkan pada kata yang digunakan dalam hashtags.

Penting bagi Anda para pebisnis untuk melihat jumlah foto yang diunggah mengenai merek Anda guna mengukur pertumbuhan dari waktu ke waktu dan juga kesan audiens Anda terhadap bisnis Anda.

Semoga beberapa cara diatas bisa bermanfaat bagi Anda para pelaku bisnis online yang ingin menggunakan Instagram sebagai salah satu sosial media untuk mempromosikan brand atau bisnis Anda. Salam sukses!

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

bisnisukm.com

Software Akuntansi Online untuk UMKM

K I P E R – Software Akuntansi Online

KIPER merupakan sebuah software akuntansi online yang ditujukan untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

KIPER diakses dan digunakan sepenuhnya melalui jaringan Internet. Tidak ada instalasi pada komputer pengguna, cukup gunakan browser dan aplikasi bisa langsung dipakai.

Pengguna tidak membeli KIPER secara fisik (seperti dalam bentuk CD) tetapi dengan cara berlangganan paket layanan yang disesuaikan dengan ukuran perusahaan yang di kelola oleh pengguna. Model ini dikenal dengan istilah Software as a Service (SaaS).

Semua data tersimpan pada Cloud Server, sehingga pengguna dapat mengakses data kapan saja dan dimana saja. Keamanan data pun relatif lebih terjamin, sebagai contoh jika komputer pengguna rusak atau hilang, data tetap tersimpan dengan aman pada Cloud Server.

Cloud Server adalah tempat penyimpanan data yang terhubung dengan jaringan Internet dan dapat diakses setiap saat menggunakan komputer atau perangkat elektronik lainnya. Contoh Cloud Serveradalah seperti Email, kita dapat mengakses-nya dengan aman dari mana saja asalkan terhubung dengan Internet.

Manfaat dan Keuntungan

  • Delegasi tanggung jawab

    Kerumitan dalam mengelola dan merawat software beserta komponen-komponen perangkat keras dari aplikasi direncanakan dan dikelola oleh penyedia layanan.

  • Pengurangan biaya

    Tidak ada investasi dimuka, pelanggan tidak perlu membeli server baru, ruang disk baru atau PC baru. Cukup gunakan browser pada komputer yang telah dimiliki oleh pelanggan.

  • Tidak memerlukan penyesuaian atau adaptasi yang rumit

    Prosedur inisialisasi penggunaan KIPER sangat sederhana, pelanggan cukup menerima email aktifasi dan akan aktif saat itu juga. KIPER tidak memerlukan penyesuaian atau adaptasi yang rumit dengan biaya konsultasi yang mahal.

  • Akses cepat dan mudah dari manapun dan kapanpun

    KIPER dapat dengan mudah diakses melalui koneksi Internet sederhana. Pengguna dapat bekerja dari lokasi manapun dan kapanpun selama koneksi Internet tersedia.

  • Aplikasi selalu terbaru dan terus menerus dikembangkan

    Pelanggan tidak perlu khawatir program menjadi out-of-date (ketinggalan zaman), karena program secara berkelanjutan dirawat, diperbaiki dan dikembangkan tanpa biaya tambahan dan tanpa instalasi/konfigurasi ulang.

  • Mengurangi duplikasi data dan mempercepat pencarian informasi

    Karena semua data tersimpan secara terpusat pada server, masalah-masalah duplikasi data atau sulitnya mencari informasi dapat terpecahkan.

  • Meningkatkan keamanan data

    Aplikasi dan data yang tersimpan pada Cloud dalam banyak kasus memberikan keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan aplikasi tradisional yang di-install secara lokal. Resiko-resiko hilang nya data seperti terkena virus, komputer rusak atau hilang (di curi) menjadi tidak ada. Selain dikunci dengan password, database secara fisik di-isolasi secara terpisah (1 pelanggan 1 database).

  • Go Green

    Karena sejumlah pelanggan menggunakan infrastruktur server yang sama, kebutuhan akan hardware pun menjadi berkurang, limbah industri menjadi berkurang dan penggunaan energi juga akan berkurang, sehingga menjadikan KIPER salah satu solusi bisnis yang ramah lingkungan.

    ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

    www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

    email : info@canconsulting.net

    Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Cara Membuat Laporan Keuangan UKM

Cara Membuat Laporan Keuangan UKM – Salah satu kendala yang paling sering dihadapi oleh para pelaku usaha bisnis UKM adalah masalah penyusunan laporan keuangan, hal ini bisa di maklumi karena tidak semua pelaku bisnis UKM memiliki latar belakang Akuntansi, sedangkan jika harus memperkerjakan seorang akuntan masih belum memungkinkan secara finansial, apalagi harus membuat laporan keuangan sendiri tambah tidak memungkinkan lagi. Hal tersebut tentu saja akan membuat setiap pelaku ukm pusing tujuh keliling, alhasil pembukuan yang di lakukan pun berantakan dan tidak jelas, atau malah tidak melakukan pembukuan.

Jika anda adalah salah satu pelaku UKM yang belum mampu dalam membuat laporan keuangan, anda harus segera mengatasi masalah ini karena laporan keuangan sangatlah penting. Selain karena akan menghasilkan informasi keuangan yang jelas dan dapat di terima, laporan keuangan juga akan membantu anda dan atau calon investor dalam mengambil keputusan.

Jadi sebelum terlambat, ada baiknya jika mulai sekarang anda mencoba untuk belajar membuatnya, membuat laporan keuangan itu sebenarnya cukup mudah, hanya sedikit belajar pun semua orang nantinya akan bisa membuatnya. Tidak percaya? Coba deh kalian perhatikan cara membuat laporan keuangan UKM berikut ini.

Identifikasi Transaksi dan Penggolongan Akun
Sebelum anda membuat laporan keuangan, terlebih dahulu anda harus bisa dalam menggolongkan transaksi-transaksi yang sudah anda lakukan ke dalam suatu akun tertentu, ini berguna untuk memisahkan dan membedakan jenis transaksi yang terjadi. Misal, transaksi penjualan tunai, maka nanti transaksi penjualan tersebut anda masukkan ke dalam akun “Kas di tangan” untuk debet, dan anda masukkan ke dalam akun “Penjualan” untuk kredit. Perlu anda ketahui bahwa setiap transaksi tidak mungkin hanya di masukkan ke dalam satu akun saja, nanti pasti ada pasangan akunnya, akun di debet dan akun di kredit, hal ini dikarenakan suatu transaksi pasti akan mempengaruhi akun lain.

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

forum-ukm

MENENTUKAN HARGA JUAL BARANG BEKAS

Sekarang kita bicara cara menentukan harga jual barang bekas. Tidak hanya barang baru, sekarang ini masyarakat juga sering memburu barang-barang bekas. Situs penjualan barang-barang bekas bermunculan di internet. Penggunanya adalah mereka yang mencari barang bekas dengan berbagai alasan. Ada yang membeli karena melihat nilai histori dari barang sehingga barang itu juga disebut sebagai barang antik. Alasan lainnya adalah faktor keaslian produk. Banyak pabrik yang tidak lagi mengeluarkan seri produk tertentu sehingga para pemakai produk dengan seri tersebut harus mencari komponen sejenis di tempat penjualan barang bekas. Kemudian, alasan lain mengapa barang second menjadi incaran adalah faktor harga.

Walaupun suatu barang merupakan keluaran terbaru, namun bila sudah berpindah tangan, maka nilai jualnya akan lebih rendah. Dari beberapa alasan tersebut, baik pasar loak tradisional maupun situs jual beli barang bekas online akan tetap diminati oleh banyak kalangan. Itu artinya ada peluang bisnis yang besar bagi pemilik barang bekas.

Apakah Anda memiliki banyak barang bekas yang tidak dipakai lagi? Apakah benda-benda tersebut masih bisa dimanfaatkan? Daripada menyimpannya di gudang, lebih baik Anda menjualnya. Ada banyak pembeli potensial yang tentunya mencari penawaran harga terbaik untuk setiap produk second. Misalnya saja furniture, produk elektronik, produk otomotif dan lain sebagainya. namun, pastikan Anda mengetahui cara bermain dalam transaksi jual beli barang bekas. Yang harus diperhatikan adalah harga jual. Anda tidak bisa menawarkan produk yang sudah dipakai dengan harga setara dengan produk baru. Misalnya saja untuk produk elektronik, harga jual untuk produk bekas umumnya sekitar 60 -70% dari harga pasar.

Bisnis barang bekas mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian orang. akan tetapi tingginya minat akan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau membuat pasar barang bekas selalu ramai. Selain untuk lahan bisnis, pemilih barang sendiri juga bisa memanfaatkan kondisi ini untuk mengurangi tumpukan barang lama yang masih layak pakai di rumahnya. Untuk mengetahui harga jual yang tepat untuk barang bekas yang akan Anda tawarkan, lakukanlah survey terlebih dahulu. Anda dapat mencari informasi tersebut di internet. kemudian, sesuaikan pula kisaran harga dengan kondisi barang, lama pemakaian, kelengkapan barang serta tingkat kebutuhannya di pasaran. Selain itu, jangan lupa untuk memperhatikan kelebihan dan kekurangan barang tersebut. untuk produk yang sangat diminati pasar, Anda dapat mengedepankan faktor merek sehingga harga jualnya nanti tidak sebatas berapa lama produk tersebut sudah tidak dipakai. Untuk barang yang memiliki nilai artistik tinggi serta termasuk antik, unik dan langka, biasanya harga jual justru bisa lebih tinggi dari pasaran.

Berikut ini tips untuk menentukan harga jual barang bekas:

1. Cek kondisi barang second yang akan dijual. Pastikan bahwa benda-benda tersebut masih layak pakai
Perhatikan setiap detailnya seperti tampilan apakah ada kerusakan atau tidak. pisahkan masing-masing item berdasarkan kondisinya tersebut misalnya Baik, Cukup dan Kurang. Untuk produk yang tidak memiliki atau sedikit cacat, masih memungkinkan untuk dikategorikan dalam produk yang masih tampak seperti baru.
2. Cari informasi tentang harga resmi dan tidak resmi di pasaran. Gunakan petunjuk dalam menentukan harga barang tertentu. Anda juga bisa mendapatkan kisaran harga untuk barang sejenis sebagai gambaran untuk membandrol barang bekas jualan Anda.
Pelajari pula bagaimana para penjual lain mendeskripsikan produk second mereka sehingga Anda juga dapat memberikan informasi yang bisa diterima oleh calon pembeli dan tentunya sesuai dengan harga yang mereka inginkan.
3. Tawarkan harga yang bersaing namun tetap masuk akal. Saat menentukan harga, pastikan tidak terlampau tinggi dari pasaran karena akan membuat pembeli tidak tertarik. Sebaliknya, harga yang terlalu rendah dari pasaran justru bisa membuat pembeli berpikir bahwa produk yang Anda tawarakan tidak berkualitas.

Tidak hanya penjual, pembeli juga perlu mengetahui bagaimana cara menafsir harga jual sebuah barang bekas. Apabila Anda kesulitan untuk menentukan kiasaran harga tersebut, maka Anda dapat meminta tolong kepada ahlinya, terutama untuk barang-barang yang memiliki nilai jual sangat tinggi saat masih baru, seperti perhiasan dan kendaraan bermotor.

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email :info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

rumuslengkap

Software Akuntansi Cloud

Untuk saat ini bagi Anda para UMKM dapat menggunakan software akuntansi dengan harga terjangkau dimulai dari harga Rp. 89.000/bulan.

Software Akuntansi Cloud untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Akses, Kelola dan Kolaborasikan data usaha Anda secara Online

Semua yang anda butuhkan untuk usaha anda

Pembelian, Penjualan, Invoicing, Kas dan Bank, Penggajian, Kontak Customer maupun Supplier dan Pelaporan Keuangan semua bisa anda lakukan dengan mudah

Mudah digunakan

Tampilan sederhana dan ramah pengguna, dilengkapi dengan panduan penggunaan serta dukungan Customer Support yang siap membantu anda setiap hari dan jam kerja

Kapanpun dan dimanapun

Anda dapat bekerja darimana saja dan kapan saja, bisnis anda dapat diakses setiap saat, dari desktop, laptop atau bahkan telepon pintar anda

Keamanan terjamin

Kami mengunci data-data rahasia anda sebaik mungkin
1 Database per Organisasi dan Backup otomatis

Pay as you go

Coba gratis semua fitur, bayar ketika sudah siap atau berhenti kapan saja anda mau. Tidak ada kontrak yang mengikat
semua anda yang menentukan

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami di:

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Apakah Perusahaan Kecil Perlu Menerapkan Pembukuan-Akuntansi?

Pertanyaan “apakah perusahaan (kecil) saya perlu menerapkan pembukuan-akuntansi” ini sangat sering diajukan oleh pengusaha kecil (UKM), misalnya: salon kecantikan, toko kelontong, penjahit pakaian (tailor), konveksi, bengkel, gerai cellular, bistro, sampai e-commerce dan bisnis online dadakan yang belakangan menjamur via Facebook dan media sosial lainnya. Pertanyaan serupa yang cukup sering ditanyakan adalah: “kapan perusahaan saya memerlukan pembukuan dan akuntansi?

Jika anda—orang accounting—yang ditanya, kira-kira apa jawaban anda? Apakah perusahaan kecil seperti itu perlu pembukuan dan akuntansi? Kapan suatu usaha memerlukan pembukuan dan akuntansi?

ObviouslyDi satu sisi, kita—sebagai orang accounting—sudah pasti menyarankan mereka untuk menerapkan akuntansi, minimal pembukuan. Iya kan?

Di sisi lainnya, saya yakin, para pelaku usaha kecil rata-rata sudah tahu bahwa, menerapkan pembukuan dan akuntansi adalah bagus. Dari buku, majalah, radio, televisi, koran, media online, pasti mereka pernah baca/dengar.

Anehnya, entah mengapa, sampai saat ini sebagian besar pengusaha kecil seolah-olah tak terbujuk oleh anjuran itu, dan masih saja menganggap bahwa….

 

Proses Pembukuan/Akuntansi Merepotkan, Mengkonsumsi Biaya dan Waktu

Bukan anggapan yang salah. Proses menjalankan pembukuan—terlebih akuntansi—memang merepotkan, mengkonsumsi biaya dan waktu. Mari kita gunakan ‘kaca-mata’ pengusaha, sejenak:

1. Biaya – Proses pembukuan dan akuntansi adalah pekerjaan teknikal. Tidak semua orang bisa menjalankannya. Untuk bisa, perlu melalui proses pembelajaran khusus (workshop, kursus, atau belajar akuntansi di bangku kuliah). Mereka yang tidak bisa, terpaksa merekrut-dan-menggaji pegawai pembukuan/accounting. Atau, menggunakan jasa pembukuan/akuntansi dari pihak ketiga (konsultan). Dan itu, bisa jadi beban (biaya) serius bagi para pelaku usaha kecil.

Misalnya: revenue (mereka menyebutnya “omset”) usaha salon kecantikan hanya 15 juta, dengan keuntungan rata-rata 5 juta per bulan. Kalau bayar konsultannya sampai 2 juta/bulan, habislah untungnya. Merekrut dan menggaji pegawai accounting Rp 2 – 3 juta/bulan, ya sama saja.

2. Waktu – Katakanlah pengusahanya memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, sehingga tidak perlu merekrut (dan menggaji) pegawai accounting atau pakai konsultan, semua dikerjakan sendiri. Tetap saja proses akuntansi mengkonsumsi waktu. Apalagi bagi pengusaha kecil yang tidak menguasai akuntansi, sudah pasti sangat merepotkan. Dalam pandangan umum, pembukuan dan akuntansi sifatnya administrative belaka, tidak menghasilkan uang. Bagi banyak pegusaha kecil, waktu mereka akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membuat barang-dagangan atau melayani pelanggan (ketimbang melakukan pekerjaan administrative macam pembukuan dan akuntansi).

Itu sebabnya mengapa jarang ada perusahaan kecil yang mau menerapkan pembukuan (terlebih-lebih akuntansi) secara serius. Dari sekian banyak usaha kecil yang pernah saya tangani, kalaupun ada pencatatan (dan pengarsipan bukti transaksi), biasanya masih berantakan. Pencatatan dilakukan—sekedarnya saja—oleh pegawai yang tidak memiliki skill yang cukup. Itupun masih dianggap aktivitas sambilan, setelah pekerjaan lainnya selesai.

Memangnya akuntansi bisa membuat aku dapat banyak pelanggan, dapat supply bahan baku murah, sehingga menjadi untung?

…tanya saudara sepupu saya (pengusaha handicraft di Yogayakarta sana), antara skeptis dan sinis.

Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Lha wong saya bukan pengusaha, cuma lulusan SMEA, mantan pegawai accounting abal-abal. Lagipula, saya tidak pintar menjelaskan sesuatu—apalagi debat. I definitely am not.

Tapi saya ingin share satu kasus yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh pengusaha kecil. Siapa tahu, ada manfaatnya. Jika tertarik, silahkan lanjutkan membaca…

 

Mengapa Usaha Kecil Rentan Terhadap Kebangkrutan?

Sekitar 2 tahun lalu, salah satu klien saya, pengusaha (menengah) yang cukup sukses, menanyakan tentang bagaimana caranya mengelola uang pinjaman agar kelak tidak menimbulkan masalah bagi perusahaanya (baik dari aspek keuangan maupun perpajakan).

Tadinya saya pikir dia meminjam uang bank untuk menambah modal kerja. Ternyata tidak. Justru dia yang meminjamkan uang kepada adiknya, pengusaha konveksi sekaligus bistro (outlet pakaian jadi) yang kondisi keuangannya kembang kempis, nyaris bangkrut.

Selesai memberikan masukan seperlunya, waktunya mendengarkan keluh-kesah klien dalam menjalankan usaha. Ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi saya.

Klien saya itu mengeluhkan betapa capeknya dia meminjamkan uang kepada adiknya. Dikasih pinjaman 1 M habis dalam setahun. Pinjam 500 juta, tidak seberapa lama habis lagi. Begitu terus berkali-kali.

Ya mau bagaimana lagi?” kata klien saya itu setengah putus-asa.

Terlebih-lebih adik, membantu tetangga yang sedang ditimpa kesusahanpun baik, malahan wajib (dalam banyak kasus). Hanya saja, pada kondisi-kondisi tertentu bisa jadi bantuan itu (terutama uang) justru menjerumuskan orang yang kita bantu. Contohnya? Ya, klien saya itu. Bantuan kas yang terus-menerus membuat si adik tak pernah menyadari kalau pengelolaan usaha konveksinya, selama ini, tidak beres.

In general, perusahaan yang meminjam kas berkali-kali (darimanapun sumbernya), sesungguhnya, tidak sedang mengalami masalah uang, tetapi masalah pengelolaan uang—yang bisa jadi berawal dari ketidakberesan dalam pengelolaan operasional.

Hutang/pinjaman kas, tidak menyembuhkan penyakit keuangan maupun operasional. Jika dianalogikan dengan penderita typus, cairan infus memang bisa membuat dia tetap bertahan hidup, tetapi tidak membebaskannya dari rongrongan virus. Selain asupan infus, hal terpenting yang dibutuhkan adalah antibiotic. Setuju?

Demikian halnya dengan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan; pinjaman kas hanya bisa membuat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek (membayar tagihan-tagihan jatuh tempo), sehingga bisa ‘stay-in-business’, untuk sementara waktu. Jika pengelolaan keuangan dan operasional tidak diperbaiki, maka akan terlilit masalah yang sama begitu kas pinjamannya habis.

Itulah yang saya sampaikan ke klien. Atas rekomendasi kakaknya, beberapa hari kemudian si adik (pemilik konveksi dan bistro yang kembang-kempis) menghubungi saya—untuk konsultasi.

Hal pertama yang saya sampaikan adalah: pentingnya menerapkan akuntansi dengan serius, setidaknya pembukuan. Tetapi (sudah saya duga), dia menggunakan mindset yang sama seperti adik sepupu saya: pembukuan dan akuntansi lebih banyak merepotkan (dan membebani) ketimbang membantu.

Ada solusi lain, pak?” dia bertanya.

Saya katakan “tidak ada.” Percuma jika saya jelaskan—apa itu fungsi pembukuan dan akuntansi panjang lebar—dengan cara klise.

Sebagai gantinya, saya menanyakan apa hambatan terberat yang dia hadapi selama menjalankan usaha.

Jawabannya: “Saya selalu kesulitan kas”.

Ketika saya tanya apakah perusahaan dalam posisi untung atau rugi, dia mengatakan “kayaknya sih rugi.” Dan, ketika saya menanyakan “berapa kerugian bulan lalu?” dia tidak tahu berapa persisnya.

Saya tidak kaget—itu kondisi yang khas di lingkungan usaha kecil; tidak banyak pengusaha kecil yang tahu persis berapa keuntungan yang mereka peroleh (atau kerugian yang mereka derita) setiap bulannya. Lebih parahnya (dan ini mayoritas), mereka bahkan tidak tahu persis apakah perusahaannya sedang untung atau rugi. Yang mereka pakai adalah ‘sense’ (“kira-kira untung” atau “kira-kira rugi”), dari ketersediaan kas:

  • Jika kas melimpah (bisa membayar dengan lancar), berarti untung
  • Jika kas sedikit (mengalami kesulitan membayar), berarti rugi

Soal menggunakan instinct dan sense, tidak perlu diragukan lagi. Mereka (para pengusaha) memiliki keistimewaan dalam menggunakan instinct. Sehingga dalam mengambil keputusan, asalkan ‘make (business) sense’, mereka jalan.

Mereka jarang mengarahkan perhatian pada hal-hal yang detail, apalagi angka-angka kecil, lebih memilih mencurahkan perhatian pada hal-hal yang lebih besar, khususnya business strategy (menarik pelanggan, memenangkan kompetisi, mencari supplier bagus, cari pinjaman modal kerja, dan sejenisnya).

Apakah itu buruk, kaitannya dengan pengelolaan keuangan?

First of all. Yang namanya usaha, ada pasang surutnya, ‘peak-and-valley’, ‘high-and-low season‘. Dan sudah pasti, kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat laba/rugi, ketersediaan kas, dan lancar-tidaknya operasional perusahaan.

  • Pada tingkat profitabilitas yang tinggi (terlepas apakah si pengusahanya tahu berapa persisnya),  risiko yang timbul akibat lebih banyak menghandalkan sense (ketimbang detail), tidak terlalu terasa. Konkretnya, gangguan kas maupun operasional nyaris tidak ada, sehingga mereka berpikir “we are fine”. Padahal, bisa jadi itu hanya kondisi sementara—sebelum gelombang surut datang.
  • Giliran gelombang sedang surut (low season), tingkat laba perusahaan menurun (atau bahkan merugi), ketersediaan kas menipis dan tersendat, operasional perusahaan mulai terganggu. Apakah sense mereka sudah tidak tajam lagi? Oh masih. Rata-rata pengusaha memiliki ‘sense-of-crisis’ yang tinggi. Jika tidak, mana mungkin mereka panik mencari pinjaman kesana-kemari. Mereka ‘merasakan’ adanya ketidakberesan, tetapi dalam banyak kasus (pengusaha konveksi di atas misalnya), mereka tidak tahu; apa persisnya yang tidak beres, di bagian mana persisnya ketidakberesan terjadi.

Untuk tahu apa PERSIS-nya yang tidak beres dan dimana terjadi, INSTINCT dan SENSE SAJA TIDAK CUKUP. Diperlukan perhatian khusus hingga ke hal-hal detail. Jika mau bicara ekstrim, angka satu rupiahpun penting untuk diketahui; darimana berasal dan kemana perginya.

  • Untuk menelusuri (tracking) uang masuk dari mana dan digunakan untuk apa, apakah digunakan dengan efektif atau dihambur-hamburkan, perlu minimal MENERAPKAN PEMBUKUAN. Apa itu pembukuan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang beres dalam pengelolaan keuangan dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI KEUANGAN. Apa itu akuntansi keuangan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang yang beres dalam pengelolaan operasional dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI MANAJEMEN. Apa itu akuntansi manajemen? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.

Minimal 3 hal itu yang harus diperhatikan hingga ke hal yang paling detail, untuk bisa mengendalikan kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Tidak bisa lagi mengandalkan sense dan instinct.

Mereka yang tetap mengandalkan instinct-dan-sense dalam segala kondisi—dan ogah menerapkan pembukuan/akuntansi—sudah pasti mengalami kesulitan untuk keluar dari gangguan keuangan. Sayangnya, tidak banyak pengusaha kecil yang bisa lolos dari masalah keuangan, sehingga lebih banyak yang bangkrut ketimbang yang ‘stay-in-business’ dalam jangka waktu panjang.

Sebagai pembanding….

 

Mengapa Korporasi Besar Relative Lebih Stabil Dibandingkan Usaha Kecil

Aktivis dan pengamat ekonomi boleh menggiring opini publik—melalui media masa—dengan mengatakan bahwa, “usaha kecil lebih tahan terhadap gangguan ekonomi.” Bisa jadi apa yang para pengamat katakan itu benar—setidaknya jika dikaitkan dengan gangguan ekonomi makro, tetapi tidak dalam scope kondisi keuangan perusahaan itu sendiri.

Hasil pandangan mata saya sendiri setiap hari—bergelut dengan laporan keuangan mereka setiap hari, terlibat dalam cost reduction exercise, mengevaluasi sistim pengendalian intern, menyiapkan due diligent akuisisi—menemukan kenyataan bahwa: korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil. Ini kenyataan.

Jika anda pengusaha kecil, silahkan rasakan sendiri bagaimana kondisi keuangan dan operasional perusahaan anda? Mulus atau ngos-ngosan setiap hari?

Tidak perlu dijawab. Saya sudah tahu. Dan itu typical, lumrah, terjadi dimana-mana dari Sabang sampai Merauke.

Pertanyaannya: mengapa korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil?

Mirip seperti pembalap off-road yang berpacu di alam bebas, harus melewati berbagai macam rintangan untuk sampai di garis finish.

1. Korporasi Besar – Ibarat pembalap off-road  PRO yang sudah kenyang pengalaman. Mungkinkah mereka gagal mencapai garis finish? Bisa saja, tetapi kemungkinannya  kecil. Masih lebih besar peluang berhasilnya.

  • Apakah karena mereka tidak menemui hambatan di perjalanan? Namanya juga off-road, sudah pasti ada banyak rintangan.
  • Apakah karena mereka menggunakan 4WD powered vehicle yang CC-nya sangat besar? Pada umumnya, IYA, dan memang ada pengaruhnya, tetapi bukan itu kunci utama keberhasilannya.

Saya kenal beberapa PRO OFF-ROADers (pengusaha yang sudah berpengalaman, termasuk mantan boss saya). Yang pasti sekali, mereka turun ke lintasan balap dengan persiapan yang matang dan dilengkapi peralatan yang cukup. Mengajak navigator yang siap dengan peta dan kompas di tangan.

Disepanjang lintasan pacu, sang pembalap fokus untuk mengatur laju-gerak mesin mobil yang dikendarainya. Sementara sang navigator fokus untuk mengamati peta lintasan dan melihat kompas. Hasilnya?

Mereka lebih sering berada dalam lintasan (on-track) ketimbang nyasar ke luar kemana-mana, karena sang navigator selalu memandu sang pembalap, sesekali dia berteriak “banting kanan” atau “kiri” untuk menghindari kubangan atau batu besar. Beberapa dari mereka (meskipun jarang) pernah jauh keluar lintasan—mungkin karena pembalapnya rada ugal dan bandel. Bila itu terjadi, biasanya mereka berhenti sejenak, melihat peta dan kompas bersama-sama, berembug untuk mencari jalan kembali ke lintasan. Dan memang berhasil. Begitu cara kerja pembalap off-road yang PRO.

2. Usaha Kecil – Ibarat pembalap off-road amatiran. Nekat berangkat sendiri karena TIDAK MAMPU membayar navigator. Sudah tanpa navigator, tidak membawa peta dan kompas pula. Modalnya cuma nekat. Pakai instinct dan sense-pun, keduanya juga belum cukup terasah, masih tumpul (By the way: Instinct business itu bukan bawaan lahir, tapi hasil akumulasi pengalaman-panjang yang mengendap di bawah alam-sadar, dan muncul ke permukaan ketika dibutuhkan).

Kemungkinan berhasil melewati rintangan? Sangat rendah. Yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ arah lintasan, sehingga kemungkinan terjebak lubang atau terhalang batu, sangat tinggi. Dan… ketika tersesat keluar lintasan, yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ lalu menginjak pedal gas sekencang mungkin, sambil berharap bisa kembali ke lintasan. Iya kalau persediaan bensin tidak terbatas, bagimana kalau bensin habis sebelum sampai ke garis finish? Dan itu, most likely. Kalau pinjam istilahnya IFRS, “more than probable”.

Idealnya, setiap pembalap (amatir dan pro) turun ke medan balap dengan persiapan dan peralatan yang memadai. Demikian halnya dengan mereka yang terjun untuk menjalankan roda usaha.

Oke. Hidup memang tidak seindah itu. Pada kenyataannya, kondisi ideal tidak selalu bisa kita hadirkan (atau capai). Tetapi dengan pertimbangan yang sedikit lebih matang, mau bersusah-payah dan kerepotan, mestinya bisa menghadirkan kondisi yang setidaknya masih lebih baik ketimbang buruk samasekali.

Pertanyaannya: apa navigator, peta lintasan dan kompasnya roda usaha?

 

Pembukuan dan Akuntansi Menjaga Perusahaan Agara Tetap On-Track

Pengusaha kecil tidak mampu bayar konsultan untuk dijadikan navigator (“muahaal!” kata mereka), sangat masuk-akal dan bisa dimengerti. Tetapi mereka bisa merekrut pegawai pembukuan atau accounting yang tentu costnya lebih murah.

Untuk bisa tetap on-track mereka juga bisa membuat budget sederhana, menerapkan pembukuan, sebagai peta-lintasan dan kompas.

Iya. Bagi pengelolaan keuangan dan operasional,

Pembukuan dan akuntansi adalah peta dan kompasnya perusahaan

Untuk yang tidak berlatarbelakang pendidikan akuntansi, saya jelaskan sedikit apa itu pembukuan dan akuntansi, dan apa fungsi mereka masing-masing—dari perspektif pengusaha kecil (bukan dari perspektif regulator, investor atau lantai bursa saham).

1. PEMBUKUAN – Sederhahanya, “pembukuan” adalah istilah yang digunakan untuk mewakili aktivitas: mengumpulan bukti transaksi (nota) —> mencatat (menjurnal)—> mengelompokan (ke dalam akun-akun buku besar sesuai aktivitas)—> menyusunan laporan keuangan.

Proses pembukuan, dilakukan oleh seorang pegawai pembukuan yang memiliki skill khusus pembukuan (lumrah disebut “bookkeeper”). Tidak perlu sarjana akuntansi. D3 akuntansi (bahkan lulusan SMK Akuntansi) pun sudah cukup, sehingga tidak harus berbayar super-mahal.

Data yang dihasilkan dari proses pembukuan (pengumpulan bukti transkasi, pencatatan, pengelompokan, dan penyusunan laporan keuangan) minimal bisa digunakan untuk mengelola 3 elemen penting ini:

  • Mengelola Modal Kerja Berupa Kas – Apakah persediaan kas cukup untuk membiayai operasional hari ini, satu minggu, satu bulan atau satu kuartal ke depan. Lebih jauh lagi, bisa melihat dari mana datangnya kas, untuk apa kas digunakan, apakah kas digunakan secara efisien atau tidak.
  • Mengelola Modal Kerja Non Kas – Modal kerja non-kas meliputi: (a) Piutang: data pembukuan bisa digunakan untuk mengetahui berapa jumlah piutang hari ini, satu minggu ini, dan satu bulan ini. Dari total itu, berapa piutang yang jatuh tempo (akan cair) dan siapa saja pelanggannya—sehingga pengusaha bisa mengkoordinasikan penagihan dengan tepat waktu. (b) Utang: di sisi lainnya, pengusaha juga bisa tahu berapa nilai utang yang jatuh tempo (harus dibayar) hari ini, minggu ini dan bulan ini—sehingga bisa merencanakan pembayaran dengan lebih teratur (tanpa mengecewakan supplier). (c) Persediaan: data pembukuan juga bisa menjadi alat pengelola persediaan; berapa jumlah persediaan yang ada hari ini, akhir minggu ini, akhir bulan ini—apakah cukup atau berlebih-lebihan.
  • Mengola Aktiva Tetap – Disamping bangunan dan kendaraan operasional yang relative lebih mudah untuk dikelola, pada jenis usaha tertentu mesin dan peralatan adalah aset vital yang membuat perusahaan bisa beroperasi dengan lancar. Memastikan peralatan ini tidak hilang atau rusak adalah penting. Pembukuan menyediakan data pasti atas aset-aset ini, sehingga bisa diawasi dengan lebih mudah.

Dengan menggunakan data pembukuan saja, minimal pengusaha sudah bisa mengetahui: (a) darimana dan kemana kas mengalir; (b) apakah perusahaan dalam kondisi untung/rugi dan berapa; (c) berapa besar kekayaan perusahaan; (d) berapa besarnya kewajiban (utang) perusahaan. Secara global, informasi itu bisa diperoleh hanya dengan membaca laporan keuangan. Untuk menelusuri sampai ke detail, bisa melihat catatan transaksi yang sudah dikelompoka secara sistematis dalam buku besar. Dari informasi-informasi itu pengusaha sudah bisa mengetahui apakah perusahaan ‘on-track’ atau tidak.

2. AKUNTANSI – Pembukuan hanya sebagian dari cakupan proses akuntansi secara keseluruhan. Selain proses pembukuan (pengumpulan bukti transaksi, pencatatan, pengelompokan dan penyusunan laporan keuangan), akuntansi juga melakukan proses-proses analisa untuk pengambilan keputusan yang sifatnya lebih strategis. Proses akuntansi biasanya dilakukan oleh seorang akuntan atau konsultan yang bisa menjadi navigator dalam menjalan roda opersional perusahaan.

Oke. Akuntansi itu sendiri terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

a. Akuntansi Keuangan – Dalam akuntansi keuangan, data hasil proses pembukuan (yang sudah saya bahas di atas) dianalisa lebih jauh untuk mengetahui: apakah transaksi telah diproses sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Melalui proses audit, pengusaha bisa menemukan transaksi-transaksi aneh yang bisa jadi merupakan gejala awal adanya penyelewengan (fraud)—yang jika tidak terdeteksi bisa menimbulkan kerugian besar bagi perushaan.

b. Akuntansi Manajemen – Mengguanakan data yang dihasilkan dari proses pembukuan ditambah dengan data cost, lalu dibandingkan dengan budget, pengusaha bisa memperoleh informasi untuk digunakan sebagai dalam pengambilan-keputusan yang sifatnya lebih strategis. Misalnya:

  • Dari data kas (laporan arus kas dan detailnya), pengusaha bisa mengetahui apakah kas teralokasikan ke aktivitas-aktivitas yang bernilai-tambah atau bukan, dengan cara membandingkan antara budget (rencana) dengan realisasinya.
  • Dari data penjualan (di laporan laba-rugi) dan persediaan (neraca), pengusaha bisa tahu mana produk yang menghasilkan profit tinggi (sehingga perlu dikembangkan) dan mana yang tidak (mungkin lebih baik dihentikan produksinya). Lebih jauh lagi, pengusaha juga bisa tahu mana channel pemasaran yang efektif dan mana yang tidak—sehingga tahu strategi pemasaran seperti apa yang diperlukan ke depannya.
  • Dari data piutang (neraca), pengusaha bisa tahu pelanggan mana yang tepat waktu dalam membayar, malas membayar, sulit ditagih dan gagal tagih—sehingga bisa menilai pelanggan mana yang perlu diberi insentif kredit berjangkawaktu lebih panjang dan mana yang harus diketatkan. Bahkan pengusaha bisa tahu mana pelanggan yang profitable mana yang tidak—sehingga tahu harus berbuat apa terhadap mereka.
  • Dan lain sebagainya.

c. Akuntansi Pajak – Sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak adalah salah satu beban perusahaan yang jika salah-kelola bisa menimbulkan masalah yang sulit diatasi. Dengan data akuntansi pajak, pengusaha bisa melakukan kendali yang lebih efektif terhadap setiap unsur pajak yang timbul dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perushaan selama beroperasi. Misalnya: dengan membuat tax planning.

 

Kesimpulan: Kapan Perusahaan Perlu Menerapkan Pembukuan dan Akuntansi?

Akuntansi dan pembukuan, oleh pengusaha kecil, cenderung dianggap sebagai beban, sesuatu yang merepotkan—sehingga tidak banyak usaha kecil yang mau menerpkan keduanya secara serius. Pengalaman saya selama ini menunjukan; pengusaha kecil baru menyadari pentingnya menerapkan pembukuan dan akuntansi setelah mereka mengalami masalah keuangan.

Jika diterapkan secara serius, saya pribadi berani menjamin: beban gaji untuk pegawai bookkeeper/accounting atau fee untuk konsultan, sangat kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari proses pembukuan dan akuntansi yang diterapkan. Kerepotan yang ditimbulkan akibat proses pembukuan dan akuntansi, tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerepotan yang timbul jika tidak menerapkan.

Bagaimanapun juga, khususnya kepada perusahaan kecil (UKM), saya tidak pernah memaksa mereka untuk menerapkan pembukuan dan akuntansi. Keputusan natara menerapkan-atau-tidak, adalah  ‘trade-off’ untuk dipilih antara:

  • Repotnya menerapkan pembukuan-akuntansi serta beban yang ditimbulkannya; dengan
  • Potensi manfaat yang akan diperoleh.

Jadi, kapan suatu perusahaan perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi?

Suatu perusahaan belum perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi, bila PENGUSAHA (atau pengelolanya) BISA TAHU SECARA PERSIS:

  • Berapa keuntungan/kerugian perusahaan
  • Berapa profit margin perusahaan
  • Berapa penjualan hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Produk mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan
  • Channel pemasaran mana yang efektif dan mana yang tidak
  • Berapa biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead dan biaya umum lainnya
  • Aktivitas mana yang efisien dan mana yang boros
  • Berapa saldo kas hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Dari mana dan kemana kas mengalir
  • Siapa saja pelanggan yang belum bayar, berapa piutang (tagihan) ke pelanggan hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya
  • Berapa persediaan hari ini, minggu ini, bulan ini
  • Persediaan mana yang lancar dan mana yang negndon digudang berbulan-bulan
  • Siapa saja supplier yang belum dibayar, berapa utang ke supplier hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya.
  • Berapa saldo utang bank dan kreditur lainnya dan kapan jatuh temponya
  • Berapa kewajiban pajak yang timbul hari ini, atas obyek apa, dan kapan harus dibayar

TANPA MENGALAMI KESULITAN dan pemerintah/pihak otoritas lainnya belum mewajibkan.

Catatan Untuk Teman-Teman di Accounting

Salah-satu alasan mengapa pengusaha kecil enggan merekrut bookkeeper (terlebih-lebih akuntan) adalah karena mereka menemukan kenyataan bahwa: belum banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan penuh. Sebagian besar hanya sampai pada proses pencatatan dan penyusunan laporan keuangan ‘THOK’, belum sampai melakukan analisa yang bisa dijadikan bahan pengambilan keputusan.

Itu sebabnya, banyak pengusaha kecil yang menganggap MANFAAT yang diperoleh dari menerapkan pembukuan dan akuntansi BELUM SEBANDING dengan BIAYA dan KEREPOTAN yang ditimbulkan.

Semoga kedepannya semakin banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan lebih penuh, sehingga pengusaha tidak merasa sia-sia. Dengan terus memperdalam ilmu akuntansi dan belajar mengenai proses suatu usaha (bisnis), saya optimis semua orang accounting (management dan public accountant), BISA.

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | ISO

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

jurnalakuntansikeuangan