MENGAPA LAPORAN KEUANGAN PERLU DI AUDIT

 

MENGAPA LAPORAN KEUANGAN PERLU DI AUDIT ?

 

Guru memeriksa berkas ujian mahasiswa agar tahu jawaban yang diisi muridnya. Montir bengkel memeriksa ban mobil yang bocor agar tahu bagian mana yang bocor. Ibu hamil memeriksakan kandungannya kedokter agar ibu tahu kondisi anak dalam kandungannya.  Ayah memeriksa kesehatannya ke dokter agar ayah tahu kondisi kesehatannya dan lain sebagainya.

Begitu pula dalam perusahaan, laporan keuangan perlu diaudit untuk memberikan informasi tentang perusahaan. Untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak akan informasi akuntansi mengenai persediaan barang dagang dibutuhkan pengujian kesesuaian antara praktek akuntansi persediaan barang dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Proses pengujian tersebut dikenal dengan istilah auditing yang dilakukan oleh akuntan publik sebagai pihak yang indipenden.

Audit dapat dikatakan sebagai perbandingan antara kondisi dan kriteria kegiatan yang diaudit dan kegiatan yang seharusnya terjadi.

Sukrino agoes (2004) auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan.

Arens dan Loebbecke, 2003), auditing sebagai “Suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten.”

Mulyadi  (2002), auditing merupakan “Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.”

Menurut Konrath  auditing adalah serangkaian proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi berbagai kegiatan dan kejadian ekonomi. Tujuannya adalah untuk menyakinkan seberapa besar tingkat keterkaitan antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan yang kemudian hasilnya akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Apabila tidak diaudit maka ada kemungkinan laporan keuangan tersebut mengandung kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, oleh karena itu laporan keuanngan yang belum di audit kurang dipercaya kewajarannya oleh pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut

 

| Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

Www.accounting.binus.ac.id

Cara menghitung keuntungan restaurant

Saat anda ingin mengetahui waktu yang tepat investasi Anda kembali, Anda perlu memperhatikan manajemen keuangan restoran Anda. Hal yang biasanya diperhatikan dalam Managemen keuangan bisnis adalah 3 laporan penting ini yaitu Laporan Laba Rugi, Laporan Neraca dan Laporan Arus Kas.

Kegunaan laporan ini dibagi berdasarkan perannya :

1. Laporan Arus Kas

Digunakan untuk laporan dana kas restoran yang mencatat hasil transaksi penjualan dan pengeluaran restoran.

2. Laporan Laba rugi

Digunakan untuk mengetahui secara keseluruhan keuntungan tanpa melihat uang yang tersedia.

3. Laporan Neraca 

Digunakan untuk melihat keseimbangan asset dalam restoran anda yang digabung dengan kewajiban tanggungan.

Untuk mengetahui lebih lanjut total hasil investasi Anda pada usaha restoran. Anda perlu melakukan penghitungan lebih dalam mengenai tingkat pengembalian atas investasi dengan ROI (Return of Investment), perhitungan jumlah produk yang harus dijual untuk menutup modal dengan BEP  (Break Even Point), dan perhitungan jangka waktu pengembalian modal dalam restoran Anda PBP (Pay Back Period).

Dalam penerapannya Anda bisa melihat contoh kasus ini : 

Ada sebuah usaha nasi goreng dengan rincian sebagai berikut:

Harga Jual  Rp                       150,000
Harga Produksi  Rp                          5,000
Investasi Dana  Rp                  50,000,000
Sewa Tempat  Rp 10,000,000/tahun
Gaji Pegawai  Rp 1,500,000/bulan
Biaya lain-lain  Rp 500,000/bulan

Target minimal penjualan sebanyak 30 Piring setiap harinya, maka

Berapa BEP,PBP, dan  ROI nya?

BEP

Jumlah Pengeluaran per Hari :

Sewa Tempat   = 10 Juta / 366 Hari    = 28 Ribu

Gaji Pegawai  = 1,5 Juta / 30 Hari     = 50 Ribu

Biaya Lain-Lain    = 500 Ribu / 30 Hari  = 17 Ribu

Total investasi = 50 Juta / 365 Hari    = 137 Ribu

Total Pengeluaran = 232.000/Hari

Maka untuk BEP nya :

Laba per piring = Harga Jual –  Harga Produksi = 15.000-5.000 = 10.000

Dengan Laba sejumlah tersebut, BEP = 232 ribu : 10 ribu =23 Piring

Jadi, jumlah produk (nasi goreng) yang harus terjual setiap harinya untuk memenuhi penutupan modal adalah sebanyak 23 Piring Nasi Goreng

PBP= Total Investasi (Penanaman Modal) /  Laba Per Bulan

Dengan soal yang menyatakan bahwa setiap harinya, usaha tersebut memiliki target untuk menjual setidaknya 30 piring setiap harinya, maka laba/bulannya adalah

10ribu x 30 piring x 30 hari = 9 Juta

Jadi, PBP = 50 Juta : 9 Juta = 5,5 Bulan

ROI  =  (Laba per Bulan /  Total Investasi) x 100 %

=  (9 Juta / 50 Juta) x 100% = 18%

Bila dilihat dari contoh di atas hasil ROInya Cukup bagus. semakin besar ROI yang dihasilkan semakin besar peluang untuk menarik perhatian investor dan Anda dapat mengambil keuntungan dari investasi yang Anda lakukan. Jangan lupa untuk menggaji diri sendiri meskipun Anda pemiliknya bila Anda terlibat dalam operasional Restoran Anda.

 

 

| Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

 

 

 

Beeaccounting.com

Prosedur audit persediaan

  1. Lakukan Stock Opname.

Stock opname dilakukan terutama untuk persediaan yang berada di gudang perusahaan, Untuk barang consignment out dan barang-barang yang tersimpan di public warehouse jika jumlahnya material harus dilakukan stock opname, jika tidak material, cukup dikirim konfirmasi. Stock opname bisa dilakukan pada akhir tahun atau beberapa waktu sebelum/ sesudah akhir tahun.

  1. Lakukan Observasi atas Stock Opname

Amati kembali hasil perhitungan fisik persediaan (stock Opname) yang dilakukan. Cek Final Inventory List [Inventory Compilation) dan lakukan prosedur pemeriksaan berikut ini:

ü  check mathematical accuracy (penjumlahan dan perkalian).

ü  cocokkan “quantity per book” dengan kartu stok (persediaan).

ü  cocokkan “quantity per count dengan “count sheet kita (auditor)

ü  cocokkan “total value” dengan buku besar persediaan.

ü  Kirimkan konfirmasi untuk persediaan consignment out.

  1. Lakukan Peninjauan ulang terhadap Konsep Persediaan
    1. Periksa unit price dari persediaan
    2. periksa ada tidaknya barang-barang yang rusak,dipakai dan hilang.
    3. Periksa cut-off penjualan dan cut-off pembelian.
    4. Lakukan rekonsiliasi jika stock opname dilakukan beberapa waktu sebelum atau sesudah tanggal neraca.
  1. Buatkan Laporan Hasil akhir Stock Opname

Buat kesimpulan dari hasil pemeriksaan persediaan dan buat usulan adjustment jika diperlukan.

  1. Adjustment Persediaan

Lakukan penyesuaian persediaan dari usulan yang di ajukan dan tentukan kebijakan penyesuaian persediaan dari hasil stock opname yang akan dilakukan

  1. Periksa apakah penyajian persediaan di laporan keuangan sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK.

Agar proses Audit Persediaan di perusahaan anda berjalan dengan baik, perlu internal control yang baik pula atas persediaan, berikut ciri ciri internal control yang baik :

  1. Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara bagial pembelian, penerimaan barang, gudang, akuntansi dan keuangan.
  2. Digunakannya formulir-formulir yang bernomor urut tercetak, seperti:
    • purchase requisition (permintaan pembelian), purchase order (order pembelian)
    • delivery order (surat jalan), receiving report (laporan penerimaan barang), sales order (order penjualan), sates invoice (faktur penjualan).
  1. Adanya sistem otorisasi, baik untuk pembelian, penjualan, penerimaan kas/bank, maupun pengeluaran kas/bank.
  2. Digunakannya anggaran {budget) untuk pembelian, produksi, penjualan, dan penerimaan serta pengeluaran kas.

            Dari penjelasan di atas, jelas bahwa audit persediaan di perusahaan dagang mampu memberikan manfaat yang begitu besar bagi perusahaan untuk mengurangi resiko terjadinya selisih, kehilangan, mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecurangan dan memastikan bahwa prosedur telah dilakukan dengan baik. Diperlukan pengelolahan dan pemeriksaan yang memadai terhadap persediaan barang dagang, agar kita tetap bisa bersaing di tengah kompetisi yang hebat.

 

| Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

http://ekofitriyana.blogspot.com/2016/01/prosedur-audit-persediaan.html

PENGUJIAN PENGENDALIAN SIKLUS PENGELUARAN

 

Ada dua (2) kelas transaksi utama pada Siklus Pengeluaran:

  1. Transaksi pembelian (purchases transaction).
  2. Transaksi pengeluaran kas (cash disbursements transaction)

Adapun akun yang dipengaruhi oleh kedua kelas di atas adalah:

  1. Inventori barang jadi dan mentah
  2. Beban dibayar di muka
  3. Aset tetap
  4. Aset lain-lain
  5. Hutang
  6. Retur pembelian
  7. Diskon pembelian
  8. Beban-beban
  9. Kas

Dokumen dan catatan yang biasa digunakan adalah:

  1. Permohonan pembelian
  2. Order pembelian
  3. Laporan penerimaan
  4. Faktur penjual
  5. Bon Hutang / Invoice

Salam,
CAN CONSULTING

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

  1. info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070

Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Kas

Adanya atau terjadinya – Saldo kas yang tercatat benar-benar ada pada tanggal neraca.

Kelengkapannya – Saldo kas yang tercatat telah meliputi pengaruh semua transaksi yang telah terjadi ; Transfer kas antarbank akhir tahun telah dicatat pada periode yang benar.

Hak dan kewajiban – Klien memiliki hak secara sah atas seluruh saldo kas yang tampak pada tanggal neraca.

Penilaiannya atau alokasi – Saldo kas yang tercatat akan terealisir sejumlah yang dinyatakan dalam neraca dan sesuai dengan dokumen pendukungnya.

Penyajian dan pengungkapan – Saldo kas telah diidentifikasi dan diklasifikasikan di neraca secara benar ; Pembatasan penggunaan kas telah diidentifikasikan dan diungkapkan pada neraca ; Saldo kompensasi, jaminan kredit, utang bersyarat dengan bank telah diungkapkan secara memadai.

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070

Audit Akun Piutang

Pemeriksaan Piutang

Salah satu tujuan pemeriksaan piutang adalah:

Untuk mengetahui apakah terdapat internal control yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas. Beberapa ciri internal control yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas adalah

  1. Terdapat pemisahan tugas dan tanggung jawab antara yang melakukan penjualan, mengirimkan barang, melakukan penagihan, memberikan otorisasi atas penjualan kredit, membuat faktur penjualan dan melakukan pencatatan;
  2. Digunakan formulir-formulir yang bernomor urut tercetak (prenumbered), misalnya sales order (pesanan penjualan), sales invoice (faktur penjualan), delivery order (surat pengiriman barang);
  3. Digunakan price list (daftar harga jual) dan setiap penyimpangan dari price list atau setiap diskon yang diberikan kepada pelanggan harus disetujui oleh pejabat perusahaan yang berwenang;
  4. Adanya buku besar pembantu piutang atau kartu piutang (account receivable subledger card) untuk masing-masing pelanggan yang selalu diupdate;
  5. Setiap akhir bulan dibuat aging schedule piutang (analisa umur piutang);
  6. Setiap akhir bulan jumlah saldo piutang dari masing-masing pelanggan dibandingkan (direkonsiliasi) dengan jumlah saldo piutang menurut buku besar;
  7. Setiap akhir bulan dikirim laporan bulanan (monthly statement of account) kepada masing-masing pelanggan;
  8. Uang kas, check, atau giro yang diterima dari pelanggan harus disetor dalam jumlah seutuhnya paling lambat keesokan harinya;
  9. Mutasi kredit perkiraan piutang (buku besar dan sub buku besar) yang berasal dari retur penjualan dan penghapusan piutang harus diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang.

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070

AUDIT PENERIMAAN KAS

Tujuan Audit Penerimaan Kas adalah untuk memperoleh keyakinan bahwa:
1. Posisi kas pada tanggal neraca benar-benar ada dan milik perusahaan (existence and ownership),
2. Semua transaksi penerimaan kas telah dicatat dengan lengkap dan adalah transaksi yang sah (completeness),
3. Kas di bank seperti yang dinyatakan dalam data rekonsiliasi telah dijumlahkan dengan benar dan sesuai dengan buku besar (mathematical accuracy),
4. Kas di bank seperti yang dinyatakan dalam rekonsiliasi adalah absah dan benar (validity and valuation),
5. Transaksi penerimaan kas dicatat dalam periode yang tepat (cut-off).
6. Kas telah diungkapkan dengan benar (disclosure).

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
http://www.canconsulting.net / http://www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070

Faktor Salah Saji dalam Siklus Penerimaan Kas

Berikut adalah faktor-faktor yang menyebabkan salah saji dalam siklus penerimaan kas:

  1. Penjualan tunai mungkin tidak dicatat, hal ini sengaja dilakukan dalam rangka pencurian kas.
  2. Uang dan cek yang diterima untuk disimpan mungkin tidak sesuai dengan lembar perhitungan kas dan prelist (daftar penerimaan kas yang disiapkan sebelumnya)
  3. Kas mungkin tidak disetor setiap hari. Hal ini dilakukan sebagai upaya menumpuk kas pada pemegang kas untuk keuntungan pribadi.
  4. Beberapa penerimaan mungkin tidak dicatat. Ini terjadi karena banyaknya transaksi penerimaan kas yang dokumennya mungkin tidak langsung disimpan atau dicatat secara rapi.
  5. Terjadi kekeliruan dalam menjurnal penerimaan. Faktor human error karena banyaknya transaksi yang berhubungan dengan kas seperti salah input angka, tanggal dsb.
  6. Penerimaan mungkin dimasukkan ke akun pelanggan yang salah.

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070

TRANSAKSI PENERIMAAN KAS

TRANSAKSI PENERIMAAN KAS

Penerimaan kas dapat berasal dari berbagai aktivitas. Contohnya:

–          Kas yang diterima dari transaksi pendapatan

–          Pinjaman jangka pendek dan jangka panjang

–          Penerbitan saham

–          Penjualan surat berharga

–          Investasi jangka panjang

–          Aset lainnya

Dokumen dan catatan yang digunakan dalam proses penerimaan kas terdiri dari:

  1. Nota pembayaran (remittance advice)
  2. Daftar penerimaan kas yang disiapkan sebelumnya (prelisting of cash receipt)
  3. Lembar perhitungan kas (cash count sheet)
  4. Ringkasan kas harian (daily cash summary)
  5. Slip penyimpanan yang divalidasi (validated deposit slip)
  6. Berkas transaksi penerimaan kas (cash receipt transaction file)
  7. Jurnal penerimaan kas (cash receipt journal)

 

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070

Jenis Jenis Risiko Audit

JENIS-JENIS RISIKO AUDIT
Dari rumusan model risiko audit ada 4 (empat) jenis risiko audit. Masing-masing jenis risiko audit tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Planned Detection Risk (Risiko Penemuan yang Direncanakan)
Adalah risiko bahwa bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan kekeliruan yang melampaui jumlah yang dapat ditolerir. Jika kekeliruan semacam itu timbul. Ada dua hal penting yang harus diperhatikan:
a. PDR tergantung pada tiga unsur risiko lainnya dalam model. Jadi risiko penemuan yang direncanakan hanya akan berubah jika auditor mengubah salah satu unsur lainnya.
b. PDR menentukan besarnya bukti yang akan dikumpulkan. Hubungan antara PDR dengan bukti berbanding terbalik. Jika nilai risiko penemuan yang direncanakan diperkecil, berarti jumlah bukti yang harus dikumpulkan auditor dalam audit lebih banyak.
2. Acceptable Audit Risk (Risiko Audit yang dapat diterima)
Adalah ukuran ketersediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangn mengandung salah saji material tanpa pengecualian telah diberikan. Risiko ini ditetapkan secara subyektif bahwa auditor bersedia menerima laporan keuangan tidak disajikan secara wajar setelah audit selesai dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah diberikan. Kalau auditor menetapkan tingkat risiko audit yang dapat diterima rendah, berarti ia ingin lebih memastikan bahwa tidak ada kekeliruan yang material dalam laporan keuangan.
Tingkat risiko nol berarti kepastian penuh bahwa laporan keuangan tidak mengandung kekeliruan yang materia dan tingkat risiko ini 100% berarti auditor sangat tidak yakin kalau laporan keuangan tidak mengandung salah saji atau kekeliruan yang material.
3. Inherent Risk (Risiko Bawaan atau Risiko Melekat)
Adalah penetapan auditor akan kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melampaui batas toleransi, sebelum memperhitungkan faktor efektivitas pengendalian intern.
Risiko bawaan menunjukkan faktor kerentanan laporan keuangan terhadap kekeliruan yang material dengan asumsi tidak ada pengendalian intern.
Bila auditor berkesimpulan bahwa akan banyak kemungkinan terjadi kekeliruan tanpa pengendalian intern, berarti risiko bawaannya tinggi.
Faktor pengendalian intern tidak diperhitungkan dalam menetapkan inherent risk (risiko bawaan) karena dalam model risiko audit hal itu akan diperhitungkan tersendiri sebagai risiko pengendalian.
Hubungan antara risiko bawaan (inherent risk) dengan risiko penemuan (planned detection risk) serta rencana pengumpulan bukti adalah bahwa inherent risk sifatnya berbanding terbalik dengan planned detection risk rendah, maka planned detection risk tinggi dan bukti yang harus dikumpulkan pun sedikit.
4. Control Risk (Risiko Pengendalian)
Adalah ukuran penetapan auditor akan kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melampaui batas toleransi yang tidak terdeteksi atau tercegah oleh struktur pengendalian intern klien. Risiko pengendalian (control risk) mengandung unsur:
a. Apakah struktur pengendalian intern klien cukup efektif untuk mendeteksi atau mencegah kekeliruan.
b. Keinginan auditor untuk membuat penetapan tersebut di bawah nilai maksimum (100%) dalam rencana audit.
Misalnya: auditor menyimpulkan bahwa struktur pengendalian intern yang ada sama sekali tidak efektif dalam mencegah atau mendeteksi kekeliruan.