Perbedaan Biaya dan Beban dalam Akuntansi

Dalam akuntansi terdapat dua istilah yang sudah sangat sering kita dengar yaitu biaya dan beban, tetapi tidak semua paham dengan apa yang dimaksud biaya dan beban, bahkan ada yang mengartikan sama untuk dua kategori ini. Untuk lebih jelasnya mari kita simak apa yang dimaksud biaya dan beban.

Secara sederhana biaya bisa diartikan sebagai pengorbanan demi suatu manfaat tertentu. Salah satu contohnya dari bentuk biaya sesuai dengan pengertian adalah sewa yang dibayar dimuka.

Pengertian dasar beban diartikan sebagai penurunan nilai ekonomi berbentuk kas keluar atau aktiva berkurang. Beban sering kali dianggap sebagai kewajiban yang menyebabkan penurunan nilai ekiutas. Beberapa kalangan menganggap beban sebagai pengorbanan atau kewajiban yang telah terjadi sebelumnya. Sebagai salah satu contoh dari beban adalah bunga pinjaman.

Letak di Laporan Keuangan :

Letak perbedaan biaya dan beban ada di dalam penyusunan laporan keuangan. Biaya digunakan dalam penyusunan neraca, biasanya berupa biaya yang belum terpakai dan dianggap mampu memberi manfaat sehingga dianggap aktiva. Beban akan masuk ke dalam penyusunan laporan laba-rugi, dimana termasuk pengeluaran yang sudah terpakai, tak memberi manfaat dimasa depan dan periodenya kurang dari satu tahun.

  • Biaya, di neraca (Belum terpakai, biaya-biaya yang dianggap akan memberi manfaat dimasa yang akan datang, berupa aktiva).
  • Beban, di laporan laba-rugi (Pengeluaran/Biaya yang telah terpakai dan tidak dapat memberikan manfaat lagi dimasa yang akan datang).

Periode Akuntansi :

Perbedaan antara biaya dan beban dapat dilihat dari periode dalam akuntansi. Periode biaya umumnya lebih dari satu tahun karena dianggap sebagai pengeluaran modal. Jumlah yang dikeluarkan dalam satuan rupiah jauh lebih besar daripada beban. Sedangkan beban jumlah rupiah yang harus dikeluarkan tidak begitu besar, bahkan relatif kecil bila dibandingkan biaya.

  • Biaya periodenya lebih dari satu tahun, merupakan pengeluaran modal (capital expenditure)
  • Beban periodenya kurang dari satu tahun, merupakan pengeluaran pendapatan (revenue expenditure)

Jumlah Rupiah Yang Dikeluarkan :

  • Biaya jumlah rupiah yang dikeluarkan dalam jumlah yang besar.
  • Beban jumlah rupiah yang dikeluarkan relatif kecil.

Dari kesemua contoh berikut pada saat penjurnalan menggunakan nama akun  Biaya, seperti biaya sewa atau biaya penyusutan kenapa tidak dibedakan dengan beban? karena yang harus digaris bawahi adalah kapan biaya tersebut diakui atau dianggap sebagai beban dan biaya tersebut memang sebagai biaya. Bukan berarti kita membedakan akun dengan biaya dan beban. Sebagai contoh pada Kiper semua akun biaya menggunakan nama Akun Biaya dan tidak di bedakan menggunakan akun beban karena konteks dari biaya dan beban hanya pengistilahan atau bagaimana memahami biaya dan beban itu sendiri.

Agar lebih bisa memahami dari konsep biaya dan beban perhatikan contoh dari kasus sebagai berikut :

Pada awal bulan tanggal 1 Januari 2015, PT. Untung membayar uang sewa kantor sebesar Rp. 1.000.000 untuk dua bulan dimuka atau kedepan. Pengeluaran (biaya) ini merupakan suatu aktiva yang berupa hak untuk menempati kantor selama dua bulan. Seiring berlalunya waktu sebagian dari masa telah terpakai (dinikmati) dan menjadi beban . Pada tanggal 31 Januari 2015 separuhnya telah terpakai sebesar Rp. 500.000 dan harus diperlakukan sebagai beban.

Ayat Jurnalnya :

Pada saat pengakuan sebagai aset/biaya

Sewa dibayar dimuka
1.000.000
kas/Bank
1.000.000

Pada saat pengakuan sebagai beban

Biaya sewa
500.000
Sewa dibayar dimuka
500.000

Contoh yang lain juga sama ketika kita membeli sebuah Mobil/kendaraan misalkan untuk pengiriman barang di balance sheet biaya dari pembelian mobil/kendaraan tersebut akan dicatat sebagai asset. Tetapi seiring berjalanya waktu, biaya tersebut akan berubah menjadi sebuah beban karena mobil tersebut tentunya akan mengalami penyusustan dari segi nilai ekonomisnya ketika dipakai dalam menjalankan bisnis dan itu pun tergantung dari metode apa dalam menghitung depresiasinya.
Ayat Jurnalnya :

Pada saat pengakuan kendaraan sebagai aset/biaya

Kendaraan/mobil
50.000.000
kas/Bank
50.000.000

Pada saat pengakuan kendaraan sebagai beban

Biaya penyusutan Kendaraan/mobil
520.833
Akumulasi penyusutan Kendaraan/mobil
520.833

Asumsi jika kendaraan disusutkan selama delapan tahun dengan metode garis lurus.

Sebagai tambahan lagi, jika di perusahaan manufacture kita mengenal istilah yang disebut Material Biaya, Direct Labor Biaya. Direct Labor Biaya ini diakui sebagai Biaya of Product (Biaya Produk). Jika produk tersebut tidak terjual maka keseluruhan Biaya of Product (termasuk Direct Labor) akan dicatat sebagai Asset. Ketika produk tersebut dijual, maka Biaya of Product tersebut akan dilaporkan sebagai Biaya Of Good Sold.

Pada saat barang belum terjual

Persediaan
50.000.000
Harga Pokok Penjualan
50.000.000

Pada saat barang terjual

Harga Poko Penjualan
520.833
Persediaan
520.833

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami di:

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

kiper.com

Advertisements

MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. tujuan dari laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.

Dilihat dari tujuannya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai, maka laporan keuangan memiliki empat karakteristik kualitatif, yaitu:

  • Dapat dipahami – informasi yang disampaikan dapat dipahami dan istilah yang digunakan disesuaikan dengan pemahaman pemakai
  • Relevan – informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi keputusan pengguna, sehingga isinya haruslah relevan.
  • Keandalan – informasi yang disusun dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkandan kesalahan material
  • Dapat diperbandingkan – laporan keuangan akan berguna apabila bisa dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya

Dalam peyusunan laporan keuangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah komponen yang harus ada pada laporan keuangan itu sendiri.

  1. Neraca – laporan posisi keuangan dari entitas pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada akhir tahun.
  2. Laporan rugi laba – laporan hasil operasi sebuah entitas selama periode tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun.
  3. Laporan ekuitas (modal)pemilik – laporan yang menyajikan ikhtisar perubahan yang terjadi dalam ekuitas pemilik pada suatu entitas untuk suatu periode tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun.
  4. Laporan arus kas – laporan yang menggambarkan jumlah kas masuk (penerimaan kas) dan jumlah kas keluar (pengeluaran kas) dalam suatu periode tertentu

LANGKAH – LANGKAH MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

Penyusunan laporan keuangan harus dilakukan dengan bertahap dan teliti karena nantinya informasi yang disajikan akan dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Langkah-langkah tersebut secara sederhana dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Menyusun Neraca Saldo. Neraca saldo adalah suatu daftar rekening-rekening buku besar dengan saldo debet atau kredit. Penyusunan ini dilakukan kalau semua jurnal sudah dibukukan ke dalam masing-masing rekeningnya di buku besar. Karena penyusunannya sebelum adanya ayat jurnal penyesuaian maka neraca ini sering disebut Neraca Saldo sebelum Penyesuaian, dimana informasi yang disajikan dapat digunakan untuk mengecek keseimbangan debet dan kredit dari seluruh rekening di buku besar dan merupakan tahap pertama untuk membuat jurnal penyesuaian dan neraca lajur.

2. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk membuat jurnal penyesuaian. Beberapa transaksi mungkin belum tercatat dan masih tidak sesuai dengan keadaan di akhir periode, sehingga data tersebut dikumpulkan untuk membuat jurnal penyesuaian.

3. Menyusun neraca lajur (worksheet). Neraca lajur atau kertas kerja merupakan suatu cara yang memudahkan penyusunan laporan keuangan yang dimulai dari neraca saldo dan disesuaikan dengan data yang diperoleh dari jurnal penyesuaian. Kemudian, saldo yang sudah disesuaikan akan nampak pada kolom neraca saldo disesuaikan dan merupakan saldo-saldo yang akan dilaporkan dalam neraca dan laporan rugi laba.

4. Menyusun laporan keuangan yang terdiri dari laporan rugi laba dan laporan perubahan modal serta laporan-laporan lainnya. Laporan-laporan tersebut dapat disusun langsung di neraca lajur, karena dalam neraca lajur sudah dipisahkan jumlah-jumlah yang dilaporkan dalam neraca atau laporan rugi laba. Kemudian, kedua laporan tersebut diubah bentuknya sehingga dapat dihasilkan neraca dan laporan rugi laba yang lebih mudah dibaca dan dianalisa.

5. Menyesuaikan dan menutup rekening-rekening. Setelah rekening-rekening di dalam buku besar disesuaikan, maka berikutnya adalah membuat jurnal penutupan untuk menutup rekening-rekening nominal ke rekening rugi laba dan memindahkan saldo rugi laba ke rekening laba tidak dibagi. Setelah itu, informasi pada jurnal tersebut dibukukan ke buku besar sesuai dengan rekening-rekening yang bersangkutan.

6. Menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan. Untuk mengecek keseimbangan debet dan kredit rekening-rekening yang masih terbuka, maka dibuatlah neraca saldo setelah penutupan yang isinya rekening-rekening real saja, bukan termasuk nominal yang sudah ditutup.

rumuslengkap

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Software Akuntansi Cloud

Untuk saat ini bagi Anda para UMKM dapat menggunakan software akuntansi dengan harga terjangkau dimulai dari harga Rp. 89.000/bulan.

Software Akuntansi Cloud untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Akses, Kelola dan Kolaborasikan data usaha Anda secara Online

Semua yang anda butuhkan untuk usaha anda

Pembelian, Penjualan, Invoicing, Kas dan Bank, Penggajian, Kontak Customer maupun Supplier dan Pelaporan Keuangan semua bisa anda lakukan dengan mudah

Mudah digunakan

Tampilan sederhana dan ramah pengguna, dilengkapi dengan panduan penggunaan serta dukungan Customer Support yang siap membantu anda setiap hari dan jam kerja

Kapanpun dan dimanapun

Anda dapat bekerja darimana saja dan kapan saja, bisnis anda dapat diakses setiap saat, dari desktop, laptop atau bahkan telepon pintar anda

Keamanan terjamin

Kami mengunci data-data rahasia anda sebaik mungkin
1 Database per Organisasi dan Backup otomatis

Pay as you go

Coba gratis semua fitur, bayar ketika sudah siap atau berhenti kapan saja anda mau. Tidak ada kontrak yang mengikat
semua anda yang menentukan

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami di:

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Apakah Perusahaan Kecil Perlu Menerapkan Pembukuan-Akuntansi?

Pertanyaan “apakah perusahaan (kecil) saya perlu menerapkan pembukuan-akuntansi” ini sangat sering diajukan oleh pengusaha kecil (UKM), misalnya: salon kecantikan, toko kelontong, penjahit pakaian (tailor), konveksi, bengkel, gerai cellular, bistro, sampai e-commerce dan bisnis online dadakan yang belakangan menjamur via Facebook dan media sosial lainnya. Pertanyaan serupa yang cukup sering ditanyakan adalah: “kapan perusahaan saya memerlukan pembukuan dan akuntansi?

Jika anda—orang accounting—yang ditanya, kira-kira apa jawaban anda? Apakah perusahaan kecil seperti itu perlu pembukuan dan akuntansi? Kapan suatu usaha memerlukan pembukuan dan akuntansi?

ObviouslyDi satu sisi, kita—sebagai orang accounting—sudah pasti menyarankan mereka untuk menerapkan akuntansi, minimal pembukuan. Iya kan?

Di sisi lainnya, saya yakin, para pelaku usaha kecil rata-rata sudah tahu bahwa, menerapkan pembukuan dan akuntansi adalah bagus. Dari buku, majalah, radio, televisi, koran, media online, pasti mereka pernah baca/dengar.

Anehnya, entah mengapa, sampai saat ini sebagian besar pengusaha kecil seolah-olah tak terbujuk oleh anjuran itu, dan masih saja menganggap bahwa….

 

Proses Pembukuan/Akuntansi Merepotkan, Mengkonsumsi Biaya dan Waktu

Bukan anggapan yang salah. Proses menjalankan pembukuan—terlebih akuntansi—memang merepotkan, mengkonsumsi biaya dan waktu. Mari kita gunakan ‘kaca-mata’ pengusaha, sejenak:

1. Biaya – Proses pembukuan dan akuntansi adalah pekerjaan teknikal. Tidak semua orang bisa menjalankannya. Untuk bisa, perlu melalui proses pembelajaran khusus (workshop, kursus, atau belajar akuntansi di bangku kuliah). Mereka yang tidak bisa, terpaksa merekrut-dan-menggaji pegawai pembukuan/accounting. Atau, menggunakan jasa pembukuan/akuntansi dari pihak ketiga (konsultan). Dan itu, bisa jadi beban (biaya) serius bagi para pelaku usaha kecil.

Misalnya: revenue (mereka menyebutnya “omset”) usaha salon kecantikan hanya 15 juta, dengan keuntungan rata-rata 5 juta per bulan. Kalau bayar konsultannya sampai 2 juta/bulan, habislah untungnya. Merekrut dan menggaji pegawai accounting Rp 2 – 3 juta/bulan, ya sama saja.

2. Waktu – Katakanlah pengusahanya memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, sehingga tidak perlu merekrut (dan menggaji) pegawai accounting atau pakai konsultan, semua dikerjakan sendiri. Tetap saja proses akuntansi mengkonsumsi waktu. Apalagi bagi pengusaha kecil yang tidak menguasai akuntansi, sudah pasti sangat merepotkan. Dalam pandangan umum, pembukuan dan akuntansi sifatnya administrative belaka, tidak menghasilkan uang. Bagi banyak pegusaha kecil, waktu mereka akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membuat barang-dagangan atau melayani pelanggan (ketimbang melakukan pekerjaan administrative macam pembukuan dan akuntansi).

Itu sebabnya mengapa jarang ada perusahaan kecil yang mau menerapkan pembukuan (terlebih-lebih akuntansi) secara serius. Dari sekian banyak usaha kecil yang pernah saya tangani, kalaupun ada pencatatan (dan pengarsipan bukti transaksi), biasanya masih berantakan. Pencatatan dilakukan—sekedarnya saja—oleh pegawai yang tidak memiliki skill yang cukup. Itupun masih dianggap aktivitas sambilan, setelah pekerjaan lainnya selesai.

Memangnya akuntansi bisa membuat aku dapat banyak pelanggan, dapat supply bahan baku murah, sehingga menjadi untung?

…tanya saudara sepupu saya (pengusaha handicraft di Yogayakarta sana), antara skeptis dan sinis.

Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Lha wong saya bukan pengusaha, cuma lulusan SMEA, mantan pegawai accounting abal-abal. Lagipula, saya tidak pintar menjelaskan sesuatu—apalagi debat. I definitely am not.

Tapi saya ingin share satu kasus yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh pengusaha kecil. Siapa tahu, ada manfaatnya. Jika tertarik, silahkan lanjutkan membaca…

 

Mengapa Usaha Kecil Rentan Terhadap Kebangkrutan?

Sekitar 2 tahun lalu, salah satu klien saya, pengusaha (menengah) yang cukup sukses, menanyakan tentang bagaimana caranya mengelola uang pinjaman agar kelak tidak menimbulkan masalah bagi perusahaanya (baik dari aspek keuangan maupun perpajakan).

Tadinya saya pikir dia meminjam uang bank untuk menambah modal kerja. Ternyata tidak. Justru dia yang meminjamkan uang kepada adiknya, pengusaha konveksi sekaligus bistro (outlet pakaian jadi) yang kondisi keuangannya kembang kempis, nyaris bangkrut.

Selesai memberikan masukan seperlunya, waktunya mendengarkan keluh-kesah klien dalam menjalankan usaha. Ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi saya.

Klien saya itu mengeluhkan betapa capeknya dia meminjamkan uang kepada adiknya. Dikasih pinjaman 1 M habis dalam setahun. Pinjam 500 juta, tidak seberapa lama habis lagi. Begitu terus berkali-kali.

Ya mau bagaimana lagi?” kata klien saya itu setengah putus-asa.

Terlebih-lebih adik, membantu tetangga yang sedang ditimpa kesusahanpun baik, malahan wajib (dalam banyak kasus). Hanya saja, pada kondisi-kondisi tertentu bisa jadi bantuan itu (terutama uang) justru menjerumuskan orang yang kita bantu. Contohnya? Ya, klien saya itu. Bantuan kas yang terus-menerus membuat si adik tak pernah menyadari kalau pengelolaan usaha konveksinya, selama ini, tidak beres.

In general, perusahaan yang meminjam kas berkali-kali (darimanapun sumbernya), sesungguhnya, tidak sedang mengalami masalah uang, tetapi masalah pengelolaan uang—yang bisa jadi berawal dari ketidakberesan dalam pengelolaan operasional.

Hutang/pinjaman kas, tidak menyembuhkan penyakit keuangan maupun operasional. Jika dianalogikan dengan penderita typus, cairan infus memang bisa membuat dia tetap bertahan hidup, tetapi tidak membebaskannya dari rongrongan virus. Selain asupan infus, hal terpenting yang dibutuhkan adalah antibiotic. Setuju?

Demikian halnya dengan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan; pinjaman kas hanya bisa membuat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek (membayar tagihan-tagihan jatuh tempo), sehingga bisa ‘stay-in-business’, untuk sementara waktu. Jika pengelolaan keuangan dan operasional tidak diperbaiki, maka akan terlilit masalah yang sama begitu kas pinjamannya habis.

Itulah yang saya sampaikan ke klien. Atas rekomendasi kakaknya, beberapa hari kemudian si adik (pemilik konveksi dan bistro yang kembang-kempis) menghubungi saya—untuk konsultasi.

Hal pertama yang saya sampaikan adalah: pentingnya menerapkan akuntansi dengan serius, setidaknya pembukuan. Tetapi (sudah saya duga), dia menggunakan mindset yang sama seperti adik sepupu saya: pembukuan dan akuntansi lebih banyak merepotkan (dan membebani) ketimbang membantu.

Ada solusi lain, pak?” dia bertanya.

Saya katakan “tidak ada.” Percuma jika saya jelaskan—apa itu fungsi pembukuan dan akuntansi panjang lebar—dengan cara klise.

Sebagai gantinya, saya menanyakan apa hambatan terberat yang dia hadapi selama menjalankan usaha.

Jawabannya: “Saya selalu kesulitan kas”.

Ketika saya tanya apakah perusahaan dalam posisi untung atau rugi, dia mengatakan “kayaknya sih rugi.” Dan, ketika saya menanyakan “berapa kerugian bulan lalu?” dia tidak tahu berapa persisnya.

Saya tidak kaget—itu kondisi yang khas di lingkungan usaha kecil; tidak banyak pengusaha kecil yang tahu persis berapa keuntungan yang mereka peroleh (atau kerugian yang mereka derita) setiap bulannya. Lebih parahnya (dan ini mayoritas), mereka bahkan tidak tahu persis apakah perusahaannya sedang untung atau rugi. Yang mereka pakai adalah ‘sense’ (“kira-kira untung” atau “kira-kira rugi”), dari ketersediaan kas:

  • Jika kas melimpah (bisa membayar dengan lancar), berarti untung
  • Jika kas sedikit (mengalami kesulitan membayar), berarti rugi

Soal menggunakan instinct dan sense, tidak perlu diragukan lagi. Mereka (para pengusaha) memiliki keistimewaan dalam menggunakan instinct. Sehingga dalam mengambil keputusan, asalkan ‘make (business) sense’, mereka jalan.

Mereka jarang mengarahkan perhatian pada hal-hal yang detail, apalagi angka-angka kecil, lebih memilih mencurahkan perhatian pada hal-hal yang lebih besar, khususnya business strategy (menarik pelanggan, memenangkan kompetisi, mencari supplier bagus, cari pinjaman modal kerja, dan sejenisnya).

Apakah itu buruk, kaitannya dengan pengelolaan keuangan?

First of all. Yang namanya usaha, ada pasang surutnya, ‘peak-and-valley’, ‘high-and-low season‘. Dan sudah pasti, kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat laba/rugi, ketersediaan kas, dan lancar-tidaknya operasional perusahaan.

  • Pada tingkat profitabilitas yang tinggi (terlepas apakah si pengusahanya tahu berapa persisnya),  risiko yang timbul akibat lebih banyak menghandalkan sense (ketimbang detail), tidak terlalu terasa. Konkretnya, gangguan kas maupun operasional nyaris tidak ada, sehingga mereka berpikir “we are fine”. Padahal, bisa jadi itu hanya kondisi sementara—sebelum gelombang surut datang.
  • Giliran gelombang sedang surut (low season), tingkat laba perusahaan menurun (atau bahkan merugi), ketersediaan kas menipis dan tersendat, operasional perusahaan mulai terganggu. Apakah sense mereka sudah tidak tajam lagi? Oh masih. Rata-rata pengusaha memiliki ‘sense-of-crisis’ yang tinggi. Jika tidak, mana mungkin mereka panik mencari pinjaman kesana-kemari. Mereka ‘merasakan’ adanya ketidakberesan, tetapi dalam banyak kasus (pengusaha konveksi di atas misalnya), mereka tidak tahu; apa persisnya yang tidak beres, di bagian mana persisnya ketidakberesan terjadi.

Untuk tahu apa PERSIS-nya yang tidak beres dan dimana terjadi, INSTINCT dan SENSE SAJA TIDAK CUKUP. Diperlukan perhatian khusus hingga ke hal-hal detail. Jika mau bicara ekstrim, angka satu rupiahpun penting untuk diketahui; darimana berasal dan kemana perginya.

  • Untuk menelusuri (tracking) uang masuk dari mana dan digunakan untuk apa, apakah digunakan dengan efektif atau dihambur-hamburkan, perlu minimal MENERAPKAN PEMBUKUAN. Apa itu pembukuan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang beres dalam pengelolaan keuangan dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI KEUANGAN. Apa itu akuntansi keuangan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang yang beres dalam pengelolaan operasional dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI MANAJEMEN. Apa itu akuntansi manajemen? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.

Minimal 3 hal itu yang harus diperhatikan hingga ke hal yang paling detail, untuk bisa mengendalikan kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Tidak bisa lagi mengandalkan sense dan instinct.

Mereka yang tetap mengandalkan instinct-dan-sense dalam segala kondisi—dan ogah menerapkan pembukuan/akuntansi—sudah pasti mengalami kesulitan untuk keluar dari gangguan keuangan. Sayangnya, tidak banyak pengusaha kecil yang bisa lolos dari masalah keuangan, sehingga lebih banyak yang bangkrut ketimbang yang ‘stay-in-business’ dalam jangka waktu panjang.

Sebagai pembanding….

 

Mengapa Korporasi Besar Relative Lebih Stabil Dibandingkan Usaha Kecil

Aktivis dan pengamat ekonomi boleh menggiring opini publik—melalui media masa—dengan mengatakan bahwa, “usaha kecil lebih tahan terhadap gangguan ekonomi.” Bisa jadi apa yang para pengamat katakan itu benar—setidaknya jika dikaitkan dengan gangguan ekonomi makro, tetapi tidak dalam scope kondisi keuangan perusahaan itu sendiri.

Hasil pandangan mata saya sendiri setiap hari—bergelut dengan laporan keuangan mereka setiap hari, terlibat dalam cost reduction exercise, mengevaluasi sistim pengendalian intern, menyiapkan due diligent akuisisi—menemukan kenyataan bahwa: korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil. Ini kenyataan.

Jika anda pengusaha kecil, silahkan rasakan sendiri bagaimana kondisi keuangan dan operasional perusahaan anda? Mulus atau ngos-ngosan setiap hari?

Tidak perlu dijawab. Saya sudah tahu. Dan itu typical, lumrah, terjadi dimana-mana dari Sabang sampai Merauke.

Pertanyaannya: mengapa korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil?

Mirip seperti pembalap off-road yang berpacu di alam bebas, harus melewati berbagai macam rintangan untuk sampai di garis finish.

1. Korporasi Besar – Ibarat pembalap off-road  PRO yang sudah kenyang pengalaman. Mungkinkah mereka gagal mencapai garis finish? Bisa saja, tetapi kemungkinannya  kecil. Masih lebih besar peluang berhasilnya.

  • Apakah karena mereka tidak menemui hambatan di perjalanan? Namanya juga off-road, sudah pasti ada banyak rintangan.
  • Apakah karena mereka menggunakan 4WD powered vehicle yang CC-nya sangat besar? Pada umumnya, IYA, dan memang ada pengaruhnya, tetapi bukan itu kunci utama keberhasilannya.

Saya kenal beberapa PRO OFF-ROADers (pengusaha yang sudah berpengalaman, termasuk mantan boss saya). Yang pasti sekali, mereka turun ke lintasan balap dengan persiapan yang matang dan dilengkapi peralatan yang cukup. Mengajak navigator yang siap dengan peta dan kompas di tangan.

Disepanjang lintasan pacu, sang pembalap fokus untuk mengatur laju-gerak mesin mobil yang dikendarainya. Sementara sang navigator fokus untuk mengamati peta lintasan dan melihat kompas. Hasilnya?

Mereka lebih sering berada dalam lintasan (on-track) ketimbang nyasar ke luar kemana-mana, karena sang navigator selalu memandu sang pembalap, sesekali dia berteriak “banting kanan” atau “kiri” untuk menghindari kubangan atau batu besar. Beberapa dari mereka (meskipun jarang) pernah jauh keluar lintasan—mungkin karena pembalapnya rada ugal dan bandel. Bila itu terjadi, biasanya mereka berhenti sejenak, melihat peta dan kompas bersama-sama, berembug untuk mencari jalan kembali ke lintasan. Dan memang berhasil. Begitu cara kerja pembalap off-road yang PRO.

2. Usaha Kecil – Ibarat pembalap off-road amatiran. Nekat berangkat sendiri karena TIDAK MAMPU membayar navigator. Sudah tanpa navigator, tidak membawa peta dan kompas pula. Modalnya cuma nekat. Pakai instinct dan sense-pun, keduanya juga belum cukup terasah, masih tumpul (By the way: Instinct business itu bukan bawaan lahir, tapi hasil akumulasi pengalaman-panjang yang mengendap di bawah alam-sadar, dan muncul ke permukaan ketika dibutuhkan).

Kemungkinan berhasil melewati rintangan? Sangat rendah. Yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ arah lintasan, sehingga kemungkinan terjebak lubang atau terhalang batu, sangat tinggi. Dan… ketika tersesat keluar lintasan, yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ lalu menginjak pedal gas sekencang mungkin, sambil berharap bisa kembali ke lintasan. Iya kalau persediaan bensin tidak terbatas, bagimana kalau bensin habis sebelum sampai ke garis finish? Dan itu, most likely. Kalau pinjam istilahnya IFRS, “more than probable”.

Idealnya, setiap pembalap (amatir dan pro) turun ke medan balap dengan persiapan dan peralatan yang memadai. Demikian halnya dengan mereka yang terjun untuk menjalankan roda usaha.

Oke. Hidup memang tidak seindah itu. Pada kenyataannya, kondisi ideal tidak selalu bisa kita hadirkan (atau capai). Tetapi dengan pertimbangan yang sedikit lebih matang, mau bersusah-payah dan kerepotan, mestinya bisa menghadirkan kondisi yang setidaknya masih lebih baik ketimbang buruk samasekali.

Pertanyaannya: apa navigator, peta lintasan dan kompasnya roda usaha?

 

Pembukuan dan Akuntansi Menjaga Perusahaan Agara Tetap On-Track

Pengusaha kecil tidak mampu bayar konsultan untuk dijadikan navigator (“muahaal!” kata mereka), sangat masuk-akal dan bisa dimengerti. Tetapi mereka bisa merekrut pegawai pembukuan atau accounting yang tentu costnya lebih murah.

Untuk bisa tetap on-track mereka juga bisa membuat budget sederhana, menerapkan pembukuan, sebagai peta-lintasan dan kompas.

Iya. Bagi pengelolaan keuangan dan operasional,

Pembukuan dan akuntansi adalah peta dan kompasnya perusahaan

Untuk yang tidak berlatarbelakang pendidikan akuntansi, saya jelaskan sedikit apa itu pembukuan dan akuntansi, dan apa fungsi mereka masing-masing—dari perspektif pengusaha kecil (bukan dari perspektif regulator, investor atau lantai bursa saham).

1. PEMBUKUAN – Sederhahanya, “pembukuan” adalah istilah yang digunakan untuk mewakili aktivitas: mengumpulan bukti transaksi (nota) —> mencatat (menjurnal)—> mengelompokan (ke dalam akun-akun buku besar sesuai aktivitas)—> menyusunan laporan keuangan.

Proses pembukuan, dilakukan oleh seorang pegawai pembukuan yang memiliki skill khusus pembukuan (lumrah disebut “bookkeeper”). Tidak perlu sarjana akuntansi. D3 akuntansi (bahkan lulusan SMK Akuntansi) pun sudah cukup, sehingga tidak harus berbayar super-mahal.

Data yang dihasilkan dari proses pembukuan (pengumpulan bukti transkasi, pencatatan, pengelompokan, dan penyusunan laporan keuangan) minimal bisa digunakan untuk mengelola 3 elemen penting ini:

  • Mengelola Modal Kerja Berupa Kas – Apakah persediaan kas cukup untuk membiayai operasional hari ini, satu minggu, satu bulan atau satu kuartal ke depan. Lebih jauh lagi, bisa melihat dari mana datangnya kas, untuk apa kas digunakan, apakah kas digunakan secara efisien atau tidak.
  • Mengelola Modal Kerja Non Kas – Modal kerja non-kas meliputi: (a) Piutang: data pembukuan bisa digunakan untuk mengetahui berapa jumlah piutang hari ini, satu minggu ini, dan satu bulan ini. Dari total itu, berapa piutang yang jatuh tempo (akan cair) dan siapa saja pelanggannya—sehingga pengusaha bisa mengkoordinasikan penagihan dengan tepat waktu. (b) Utang: di sisi lainnya, pengusaha juga bisa tahu berapa nilai utang yang jatuh tempo (harus dibayar) hari ini, minggu ini dan bulan ini—sehingga bisa merencanakan pembayaran dengan lebih teratur (tanpa mengecewakan supplier). (c) Persediaan: data pembukuan juga bisa menjadi alat pengelola persediaan; berapa jumlah persediaan yang ada hari ini, akhir minggu ini, akhir bulan ini—apakah cukup atau berlebih-lebihan.
  • Mengola Aktiva Tetap – Disamping bangunan dan kendaraan operasional yang relative lebih mudah untuk dikelola, pada jenis usaha tertentu mesin dan peralatan adalah aset vital yang membuat perusahaan bisa beroperasi dengan lancar. Memastikan peralatan ini tidak hilang atau rusak adalah penting. Pembukuan menyediakan data pasti atas aset-aset ini, sehingga bisa diawasi dengan lebih mudah.

Dengan menggunakan data pembukuan saja, minimal pengusaha sudah bisa mengetahui: (a) darimana dan kemana kas mengalir; (b) apakah perusahaan dalam kondisi untung/rugi dan berapa; (c) berapa besar kekayaan perusahaan; (d) berapa besarnya kewajiban (utang) perusahaan. Secara global, informasi itu bisa diperoleh hanya dengan membaca laporan keuangan. Untuk menelusuri sampai ke detail, bisa melihat catatan transaksi yang sudah dikelompoka secara sistematis dalam buku besar. Dari informasi-informasi itu pengusaha sudah bisa mengetahui apakah perusahaan ‘on-track’ atau tidak.

2. AKUNTANSI – Pembukuan hanya sebagian dari cakupan proses akuntansi secara keseluruhan. Selain proses pembukuan (pengumpulan bukti transaksi, pencatatan, pengelompokan dan penyusunan laporan keuangan), akuntansi juga melakukan proses-proses analisa untuk pengambilan keputusan yang sifatnya lebih strategis. Proses akuntansi biasanya dilakukan oleh seorang akuntan atau konsultan yang bisa menjadi navigator dalam menjalan roda opersional perusahaan.

Oke. Akuntansi itu sendiri terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

a. Akuntansi Keuangan – Dalam akuntansi keuangan, data hasil proses pembukuan (yang sudah saya bahas di atas) dianalisa lebih jauh untuk mengetahui: apakah transaksi telah diproses sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Melalui proses audit, pengusaha bisa menemukan transaksi-transaksi aneh yang bisa jadi merupakan gejala awal adanya penyelewengan (fraud)—yang jika tidak terdeteksi bisa menimbulkan kerugian besar bagi perushaan.

b. Akuntansi Manajemen – Mengguanakan data yang dihasilkan dari proses pembukuan ditambah dengan data cost, lalu dibandingkan dengan budget, pengusaha bisa memperoleh informasi untuk digunakan sebagai dalam pengambilan-keputusan yang sifatnya lebih strategis. Misalnya:

  • Dari data kas (laporan arus kas dan detailnya), pengusaha bisa mengetahui apakah kas teralokasikan ke aktivitas-aktivitas yang bernilai-tambah atau bukan, dengan cara membandingkan antara budget (rencana) dengan realisasinya.
  • Dari data penjualan (di laporan laba-rugi) dan persediaan (neraca), pengusaha bisa tahu mana produk yang menghasilkan profit tinggi (sehingga perlu dikembangkan) dan mana yang tidak (mungkin lebih baik dihentikan produksinya). Lebih jauh lagi, pengusaha juga bisa tahu mana channel pemasaran yang efektif dan mana yang tidak—sehingga tahu strategi pemasaran seperti apa yang diperlukan ke depannya.
  • Dari data piutang (neraca), pengusaha bisa tahu pelanggan mana yang tepat waktu dalam membayar, malas membayar, sulit ditagih dan gagal tagih—sehingga bisa menilai pelanggan mana yang perlu diberi insentif kredit berjangkawaktu lebih panjang dan mana yang harus diketatkan. Bahkan pengusaha bisa tahu mana pelanggan yang profitable mana yang tidak—sehingga tahu harus berbuat apa terhadap mereka.
  • Dan lain sebagainya.

c. Akuntansi Pajak – Sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak adalah salah satu beban perusahaan yang jika salah-kelola bisa menimbulkan masalah yang sulit diatasi. Dengan data akuntansi pajak, pengusaha bisa melakukan kendali yang lebih efektif terhadap setiap unsur pajak yang timbul dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perushaan selama beroperasi. Misalnya: dengan membuat tax planning.

 

Kesimpulan: Kapan Perusahaan Perlu Menerapkan Pembukuan dan Akuntansi?

Akuntansi dan pembukuan, oleh pengusaha kecil, cenderung dianggap sebagai beban, sesuatu yang merepotkan—sehingga tidak banyak usaha kecil yang mau menerpkan keduanya secara serius. Pengalaman saya selama ini menunjukan; pengusaha kecil baru menyadari pentingnya menerapkan pembukuan dan akuntansi setelah mereka mengalami masalah keuangan.

Jika diterapkan secara serius, saya pribadi berani menjamin: beban gaji untuk pegawai bookkeeper/accounting atau fee untuk konsultan, sangat kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari proses pembukuan dan akuntansi yang diterapkan. Kerepotan yang ditimbulkan akibat proses pembukuan dan akuntansi, tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerepotan yang timbul jika tidak menerapkan.

Bagaimanapun juga, khususnya kepada perusahaan kecil (UKM), saya tidak pernah memaksa mereka untuk menerapkan pembukuan dan akuntansi. Keputusan natara menerapkan-atau-tidak, adalah  ‘trade-off’ untuk dipilih antara:

  • Repotnya menerapkan pembukuan-akuntansi serta beban yang ditimbulkannya; dengan
  • Potensi manfaat yang akan diperoleh.

Jadi, kapan suatu perusahaan perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi?

Suatu perusahaan belum perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi, bila PENGUSAHA (atau pengelolanya) BISA TAHU SECARA PERSIS:

  • Berapa keuntungan/kerugian perusahaan
  • Berapa profit margin perusahaan
  • Berapa penjualan hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Produk mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan
  • Channel pemasaran mana yang efektif dan mana yang tidak
  • Berapa biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead dan biaya umum lainnya
  • Aktivitas mana yang efisien dan mana yang boros
  • Berapa saldo kas hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Dari mana dan kemana kas mengalir
  • Siapa saja pelanggan yang belum bayar, berapa piutang (tagihan) ke pelanggan hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya
  • Berapa persediaan hari ini, minggu ini, bulan ini
  • Persediaan mana yang lancar dan mana yang negndon digudang berbulan-bulan
  • Siapa saja supplier yang belum dibayar, berapa utang ke supplier hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya.
  • Berapa saldo utang bank dan kreditur lainnya dan kapan jatuh temponya
  • Berapa kewajiban pajak yang timbul hari ini, atas obyek apa, dan kapan harus dibayar

TANPA MENGALAMI KESULITAN dan pemerintah/pihak otoritas lainnya belum mewajibkan.

Catatan Untuk Teman-Teman di Accounting

Salah-satu alasan mengapa pengusaha kecil enggan merekrut bookkeeper (terlebih-lebih akuntan) adalah karena mereka menemukan kenyataan bahwa: belum banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan penuh. Sebagian besar hanya sampai pada proses pencatatan dan penyusunan laporan keuangan ‘THOK’, belum sampai melakukan analisa yang bisa dijadikan bahan pengambilan keputusan.

Itu sebabnya, banyak pengusaha kecil yang menganggap MANFAAT yang diperoleh dari menerapkan pembukuan dan akuntansi BELUM SEBANDING dengan BIAYA dan KEREPOTAN yang ditimbulkan.

Semoga kedepannya semakin banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan lebih penuh, sehingga pengusaha tidak merasa sia-sia. Dengan terus memperdalam ilmu akuntansi dan belajar mengenai proses suatu usaha (bisnis), saya optimis semua orang accounting (management dan public accountant), BISA.

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | ISO

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

jurnalakuntansikeuangan

 

Apa Saja Yang Termasuk dalam Komponen Modal Kerja

Mengelola modal kerja (working capital) secara efektif, krusial bagi setiap usaha—apapun usaha yang dijalankan. Jika salah kelola, bukan hanya bisa membuat operasional perusahaan menjadi tidak lancar, bahkan bisa bikin bangkrut. Sehingga, bisa dikatakan bahwa: pengelolaan modal kerja sangat menentukan kelangsungan hidup perusahaan. Apa saja komponen modal kerja itu, bagaimana caranya mengelola modal kerja secara efektif?

Apa Itu Modal Kerja Yang Sesungguhnya, Apa Saja Elemennya?

Istilah “Modal Kerja”, sesungguhnya sudah dikenal luas. Tidak hanya pengusaha kelas konglomerat yang biasa menyebut “Kredit Modal Kerja,” penjual pasir kubikanpun kenal dengan jenis kredit yang satu ini.

Mas Tugiyo pemilik warung sebelahpun bisa mengatakan “kekurangan modal kerja” ketika ingin menambah barang dagangannnya jual pulsa HP

Namun apa yang disebut dengan “modal kerja” oleh Mas Tugiyo mungkin hanya sebagian, atau bahkan sama sekali berbeda dengan “modal kerja” dari perspektif keuangan maupun akuntansi.

Tergantung:

  • Jika yang dimaksudkan oleh Mas Tugiyo adalah uang untuk membayar tambahan sewa perluasan warung, berarti tidak sama dengan modal kerja dari perspektif keuangan.
  • Jika yang dimaksudkan oleh Mas Tugiyo adalah uang untuk membeli rak pajangan HP atau kartu perdana, berarti tidak sama dengan modal kerja dari sudut pandang keuangan.
  • Jika yang dimaksudkan oleh Mas Tugiyo adalah uang untuk merehab warung supaya lebih kinclong, berarti tidak sama dengan modal kerja menurut akuntansi dan keuangan.

Menurut keuangan maupun akuntansi, yang dimaksud dengan modal kerja adalah modal (tidak selalu dalam bentuk kas) yang dipergunakan untuk menjalankan aktivitas pembentukan jasa/produk yang dijual, di sepanjang siklus, yang waktu perputarannya relatif singkat—biasanya di bawah satu tahun buku.

Catatan: Yang dimaksud dengan perputaran di sini adalah perubahan bentuk (wujud) dari awal hingga kembali lagi ke bentuk semula. Perputaran kas misalnya, adalah perubahan dari kas menjadi bentuk lain, hingga akhirnya kembali ke bentuk kas lagi.

 

Untuk kasus Mas Tugiyo misalnya, rak pajangan HP bukan bagian dari modal kerja karena wujudnya akan tetap rak—tidak akan pernah berubah menjadi kas kembali, karena tujuan utama Mas Tugiyo bukan untuk jualan rak. Sedangkan stok kartu perdana adalah bagian dari modal kerja karena wujudnya bisa berubah menjadi penjualan, pendapatan lalu kembali ke bentuk kas dalam waktu yang relatif singkat.

Nah itu kan warung pulsa—yang sudah pasti aktivitas dan volumenya jauh lebih kecil dan lebih sederhana jika dibandingkan dengan mini market, apalagi perusahaan berskala korporasi. Bagaimana dengan di perusahaan berskala menengah atau besar?

Pada dasarnya sama, hanya saja ragam dan skalanya lebih besar dan proses perputarannya lebih rumit. Nah, apa saja itu?

Jika dilihat di Neraca perusahaan, yang masuk dalam kelompok modal kerja adalah: semua jenis aktiva lancar—mulai dari kas, piutang dagang, hingga persediaan barang.

Sekalilagi yang merupakan elemen modal kerja meliputi: Kas, Piutang, Surat Berharga, dan Persediaan barang dagangan. Keempat akun ini memiliki perputaran yang pendek—yang jika salah kelola (mismanaged), bukan saja mengganggu operasional perusahaan tetapi juga bisa bikin bangkrut. Sebaliknya jika dikelola secara efektif, minimal bisa membuat operasional perusahaan berjalan mulus. Lebih bagus lagi jika dapat menciptakan peluang untuk memperoleh keuntungan.

jurnalakuntansikeuangan

Salam,
CAN CONSULTING

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

e. info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

RINGKASAN PENGATURAN SAK ETAP

Saat ini kita akan membahas mengenai SAK ETAP. SAK ETAP merupakan singkatan dari Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.

SAK ETAP

  • Terdiri dari 30 Bab
  • Berlaku efektif untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperbolehkan untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2010.
  • Auditor yang memeriksa entitas pengadposi SAK ETAP juga harus menggunakan SAK ETAP dalam memeriksa entitas tersebut.

KARAKTERISTIK SAK ETAP

  • Tidak mengacu kepada SAK UMUM
  • Mayoritas menggunakan historical cost concept
  • Hanya mengatur transaksi yang umum dilakukan Usaha Kecil dan Menengah
  • Pengaturan lebih sederhana dibandingkan dengan SAK UMUM yaitu alternatif metode yang dipilih yang paling sederhana, penyederhanaan pengakuan dan pengukuran dan pengurangn pengungkapan
  • Tidak akan berubah selama beberapa tahun

ISI SAK ETAP

Bab 1               : Ruang Lingkup

Bab 2               : Konsep dan Prinsip Pervasif

Bab 3               : Penyajian Laporan Keuangan

Bab 4,5,6,7,8  : Laporan Keuangan

Bab 9              : Kebijakan Akuntansi, Estimasi dan Kesalahan

Bab 10-16,22   : Akuntansi Aset (Investasi, Persediaan, Properti, Investasi, Aset Tetap, Aset Tidak Berwujud dan Penurunan Nilai Aset)

Bab 17             : Sewa

Bab 18             : Kewajiban Diestimasi dan Kontijensi

Bab 19             : Ekuitas

Bab 20             : Pendapatan

Bab 21             : Biaya Pinjaman

Bab 23             : Imbalan Kerja

Bab 24             : Pajak Penghasilan

Bab 25             : Mata Uang Pelaporan

Bab 26             : Transaksi dalam Mata Uang Asing

Bab 27             : Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan

Bab 28             : Pengungkapan Pihak-Pihak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa

Bab 29             : Ketentuan Transisi

Bab 30             : Tanggal Efektif

Pada unggahan berikutnya kita akan membahas isi per bab. Terima kasih.

CAN CONSULTING

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

  1. info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Konsep Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)

Konsep akan Nilai Waktu Uang

Nilai waktu uang atau time value of money adalah salah satu topik yang sangat penting dalam bidang manajemen keuangan terutama dalam bidang investasi. Nilai waktu uang mengacu pada nilai uang pada waktu tertentu dibandingkan dengan waktu yang lain. Sebagai contoh, nilai uang Rp100.000,- saat ini tentunya lebih berharga daripada nilai sebesar uang tersebut pada 5 tahun mendatang. Ini disebabkan karena adanya inflasi atau tingkat suku bunga
Dalam konsep nilai uang, kita akan membahas tentang
1.Present value (nilai uang saat ini) dan
2.Future value (nilai uang di waktu mendatang).

Present Value mengacu pada nilai uang saat ini dari arus kas yang akan datang yang didiskon dengan tingkat diskon yang sesuai. Pada kasus ini, diskon menghitung present value sejumlah uang di masa yang akan datang.
Present Value (PV) dirumuskan dengan PV = 1 / (1 + r)^t, dengan r tingkat bunga dan t periode waktu.

Future value mengacu pada jumlah uang investasi yang bertumbuh selama periode tertentu dengan adanya tingkat suku bunga (interest rate).
Tingkat bunga sendiri terbagi menjadi bunga sederhana dan bunga majemuk. Bunga sederhana adalah bunga yang diterima hanya sebesar besar bunga dari uang yang diinvestasikan, sedangkan bunga majemuk adalah bunga yang dikenakan berasal dari bunga dari uang yang diinvestasikan serta bunga dari bunga yang diperoleh dari periode sebelumnya.
Future Value (FV) biasa dirumuskan dengan FV = (1 + r)^t dengan r tingkat bunga dan t periode waktu.

Demikian pembahasan dasar akan nilai waktu uang yang umumnya digunakan dalam menghitung nilai investasi perusahaan.

CAN CONSULTING
Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | Software akuntansi
www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com
e. info@canconsulting.net
Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177, +62-24-70137070