ISO 9001 Versi 2015

ISO 9001 merupakan suatu standar yang digunakan oleh seluruh dunia terhadap mutu dari sebuah perusahaan serta produk yang diproduksinya. Dengan adanyaiso 9001 ini maka akan sangat menguntungkan bagi perusahaan dan pelanggannya. Karena jika suatu produk sudah diakui dunia, maka tentunya kita tidak perlu khawatir lagi. Sertifikasi yang berstandar internasional pastinya susah didapat dan orang yang memberikan standarisasi tersebut bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah orang-orang terbaik dari negaranya yang paling mengerti dengan betul seperti apa mutu terbaik yang dibutuhkan oleh semua perusahaan beserta produknya. Demi bisa sesuai dengan perubahan zaman, maka ISO 9001 juga mengalami perubahan. Perubahannya yang paling baru terjadi di tahun 2015 ini dengan dimunculkannya ISO 9001 versi 2015. Ada beberapa perubahan yang terjadi di dalam ISO 9001 versi 2015 ini. Isi di dalam standarisasinya diperbarui sehingga bisa lebih baik dan lebih baik lagi. Tentunya bagi perusahaan-perusahaan di dunia, ini bisa jadi makin mempersulit atau mempermudah mereka.

Apa saja perubahan pada ISO 9001 versi 2015 ini, berikut di antaranya :

Struktur Klausul Yang Berubah
Pada ISO 9001 versi 2015 akan terjadi perubahan pada struktur klausul yang ada di dalam iso 9001 yang sebelumnya. Bila pada versi yang sebelumnya pada tahun 2008 terdapat sebanyak 8 klausul yang ada di dalamnya. Maka pada iso 9001 versi 2015 ini aka nada penambahan klasul menjadi 10 klausul. Maka dapat dikatakan terdapat penambahan 2 klausul dalam ISO 9001 Versi 2015. Klausul yang ditambah itu akan membahas tentang performa dan perubahan atau improvement.

Ditambahkannya Manajemen Resiko
Jika sebelumnya dalam menangani masalah, maka ISO 9001 versi 2008 lebih mengutamakan pada tindakan yang akan dilakukan untuk perbaikan dan juga pencegahan untuk menghadapi sebuah masalah yang mungkin dialami oleh sebuah perusahaan. Maka pada ISO 9001 Versi 2015 ini tidak hanya dua hal tersebut yang menjadi poin penting namun juga akan difokuskan pada Manajemen Resiko ( Risk Management ) yang mungkin timbul pada perusahaan itu selama masa produksi.

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Advertisements

MENENTUKAN HARGA JUAL BARANG BEKAS

Sekarang kita bicara cara menentukan harga jual barang bekas. Tidak hanya barang baru, sekarang ini masyarakat juga sering memburu barang-barang bekas. Situs penjualan barang-barang bekas bermunculan di internet. Penggunanya adalah mereka yang mencari barang bekas dengan berbagai alasan. Ada yang membeli karena melihat nilai histori dari barang sehingga barang itu juga disebut sebagai barang antik. Alasan lainnya adalah faktor keaslian produk. Banyak pabrik yang tidak lagi mengeluarkan seri produk tertentu sehingga para pemakai produk dengan seri tersebut harus mencari komponen sejenis di tempat penjualan barang bekas. Kemudian, alasan lain mengapa barang second menjadi incaran adalah faktor harga.

Walaupun suatu barang merupakan keluaran terbaru, namun bila sudah berpindah tangan, maka nilai jualnya akan lebih rendah. Dari beberapa alasan tersebut, baik pasar loak tradisional maupun situs jual beli barang bekas online akan tetap diminati oleh banyak kalangan. Itu artinya ada peluang bisnis yang besar bagi pemilik barang bekas.

Apakah Anda memiliki banyak barang bekas yang tidak dipakai lagi? Apakah benda-benda tersebut masih bisa dimanfaatkan? Daripada menyimpannya di gudang, lebih baik Anda menjualnya. Ada banyak pembeli potensial yang tentunya mencari penawaran harga terbaik untuk setiap produk second. Misalnya saja furniture, produk elektronik, produk otomotif dan lain sebagainya. namun, pastikan Anda mengetahui cara bermain dalam transaksi jual beli barang bekas. Yang harus diperhatikan adalah harga jual. Anda tidak bisa menawarkan produk yang sudah dipakai dengan harga setara dengan produk baru. Misalnya saja untuk produk elektronik, harga jual untuk produk bekas umumnya sekitar 60 -70% dari harga pasar.

Bisnis barang bekas mungkin tidak terlalu menarik bagi sebagian orang. akan tetapi tingginya minat akan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau membuat pasar barang bekas selalu ramai. Selain untuk lahan bisnis, pemilih barang sendiri juga bisa memanfaatkan kondisi ini untuk mengurangi tumpukan barang lama yang masih layak pakai di rumahnya. Untuk mengetahui harga jual yang tepat untuk barang bekas yang akan Anda tawarkan, lakukanlah survey terlebih dahulu. Anda dapat mencari informasi tersebut di internet. kemudian, sesuaikan pula kisaran harga dengan kondisi barang, lama pemakaian, kelengkapan barang serta tingkat kebutuhannya di pasaran. Selain itu, jangan lupa untuk memperhatikan kelebihan dan kekurangan barang tersebut. untuk produk yang sangat diminati pasar, Anda dapat mengedepankan faktor merek sehingga harga jualnya nanti tidak sebatas berapa lama produk tersebut sudah tidak dipakai. Untuk barang yang memiliki nilai artistik tinggi serta termasuk antik, unik dan langka, biasanya harga jual justru bisa lebih tinggi dari pasaran.

Berikut ini tips untuk menentukan harga jual barang bekas:

1. Cek kondisi barang second yang akan dijual. Pastikan bahwa benda-benda tersebut masih layak pakai
Perhatikan setiap detailnya seperti tampilan apakah ada kerusakan atau tidak. pisahkan masing-masing item berdasarkan kondisinya tersebut misalnya Baik, Cukup dan Kurang. Untuk produk yang tidak memiliki atau sedikit cacat, masih memungkinkan untuk dikategorikan dalam produk yang masih tampak seperti baru.
2. Cari informasi tentang harga resmi dan tidak resmi di pasaran. Gunakan petunjuk dalam menentukan harga barang tertentu. Anda juga bisa mendapatkan kisaran harga untuk barang sejenis sebagai gambaran untuk membandrol barang bekas jualan Anda.
Pelajari pula bagaimana para penjual lain mendeskripsikan produk second mereka sehingga Anda juga dapat memberikan informasi yang bisa diterima oleh calon pembeli dan tentunya sesuai dengan harga yang mereka inginkan.
3. Tawarkan harga yang bersaing namun tetap masuk akal. Saat menentukan harga, pastikan tidak terlampau tinggi dari pasaran karena akan membuat pembeli tidak tertarik. Sebaliknya, harga yang terlalu rendah dari pasaran justru bisa membuat pembeli berpikir bahwa produk yang Anda tawarakan tidak berkualitas.

Tidak hanya penjual, pembeli juga perlu mengetahui bagaimana cara menafsir harga jual sebuah barang bekas. Apabila Anda kesulitan untuk menentukan kiasaran harga tersebut, maka Anda dapat meminta tolong kepada ahlinya, terutama untuk barang-barang yang memiliki nilai jual sangat tinggi saat masih baru, seperti perhiasan dan kendaraan bermotor.

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email :info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

rumuslengkap

MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. tujuan dari laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.

Dilihat dari tujuannya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai, maka laporan keuangan memiliki empat karakteristik kualitatif, yaitu:

  • Dapat dipahami – informasi yang disampaikan dapat dipahami dan istilah yang digunakan disesuaikan dengan pemahaman pemakai
  • Relevan – informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan dapat mempengaruhi keputusan pengguna, sehingga isinya haruslah relevan.
  • Keandalan – informasi yang disusun dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkandan kesalahan material
  • Dapat diperbandingkan – laporan keuangan akan berguna apabila bisa dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya

Dalam peyusunan laporan keuangan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah komponen yang harus ada pada laporan keuangan itu sendiri.

  1. Neraca – laporan posisi keuangan dari entitas pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada akhir tahun.
  2. Laporan rugi laba – laporan hasil operasi sebuah entitas selama periode tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun.
  3. Laporan ekuitas (modal)pemilik – laporan yang menyajikan ikhtisar perubahan yang terjadi dalam ekuitas pemilik pada suatu entitas untuk suatu periode tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun.
  4. Laporan arus kas – laporan yang menggambarkan jumlah kas masuk (penerimaan kas) dan jumlah kas keluar (pengeluaran kas) dalam suatu periode tertentu

LANGKAH – LANGKAH MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

Penyusunan laporan keuangan harus dilakukan dengan bertahap dan teliti karena nantinya informasi yang disajikan akan dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Langkah-langkah tersebut secara sederhana dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Menyusun Neraca Saldo. Neraca saldo adalah suatu daftar rekening-rekening buku besar dengan saldo debet atau kredit. Penyusunan ini dilakukan kalau semua jurnal sudah dibukukan ke dalam masing-masing rekeningnya di buku besar. Karena penyusunannya sebelum adanya ayat jurnal penyesuaian maka neraca ini sering disebut Neraca Saldo sebelum Penyesuaian, dimana informasi yang disajikan dapat digunakan untuk mengecek keseimbangan debet dan kredit dari seluruh rekening di buku besar dan merupakan tahap pertama untuk membuat jurnal penyesuaian dan neraca lajur.

2. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk membuat jurnal penyesuaian. Beberapa transaksi mungkin belum tercatat dan masih tidak sesuai dengan keadaan di akhir periode, sehingga data tersebut dikumpulkan untuk membuat jurnal penyesuaian.

3. Menyusun neraca lajur (worksheet). Neraca lajur atau kertas kerja merupakan suatu cara yang memudahkan penyusunan laporan keuangan yang dimulai dari neraca saldo dan disesuaikan dengan data yang diperoleh dari jurnal penyesuaian. Kemudian, saldo yang sudah disesuaikan akan nampak pada kolom neraca saldo disesuaikan dan merupakan saldo-saldo yang akan dilaporkan dalam neraca dan laporan rugi laba.

4. Menyusun laporan keuangan yang terdiri dari laporan rugi laba dan laporan perubahan modal serta laporan-laporan lainnya. Laporan-laporan tersebut dapat disusun langsung di neraca lajur, karena dalam neraca lajur sudah dipisahkan jumlah-jumlah yang dilaporkan dalam neraca atau laporan rugi laba. Kemudian, kedua laporan tersebut diubah bentuknya sehingga dapat dihasilkan neraca dan laporan rugi laba yang lebih mudah dibaca dan dianalisa.

5. Menyesuaikan dan menutup rekening-rekening. Setelah rekening-rekening di dalam buku besar disesuaikan, maka berikutnya adalah membuat jurnal penutupan untuk menutup rekening-rekening nominal ke rekening rugi laba dan memindahkan saldo rugi laba ke rekening laba tidak dibagi. Setelah itu, informasi pada jurnal tersebut dibukukan ke buku besar sesuai dengan rekening-rekening yang bersangkutan.

6. Menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan. Untuk mengecek keseimbangan debet dan kredit rekening-rekening yang masih terbuka, maka dibuatlah neraca saldo setelah penutupan yang isinya rekening-rekening real saja, bukan termasuk nominal yang sudah ditutup.

rumuslengkap

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Software Akuntansi Cloud

Untuk saat ini bagi Anda para UMKM dapat menggunakan software akuntansi dengan harga terjangkau dimulai dari harga Rp. 89.000/bulan.

Software Akuntansi Cloud untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Akses, Kelola dan Kolaborasikan data usaha Anda secara Online

Semua yang anda butuhkan untuk usaha anda

Pembelian, Penjualan, Invoicing, Kas dan Bank, Penggajian, Kontak Customer maupun Supplier dan Pelaporan Keuangan semua bisa anda lakukan dengan mudah

Mudah digunakan

Tampilan sederhana dan ramah pengguna, dilengkapi dengan panduan penggunaan serta dukungan Customer Support yang siap membantu anda setiap hari dan jam kerja

Kapanpun dan dimanapun

Anda dapat bekerja darimana saja dan kapan saja, bisnis anda dapat diakses setiap saat, dari desktop, laptop atau bahkan telepon pintar anda

Keamanan terjamin

Kami mengunci data-data rahasia anda sebaik mungkin
1 Database per Organisasi dan Backup otomatis

Pay as you go

Coba gratis semua fitur, bayar ketika sudah siap atau berhenti kapan saja anda mau. Tidak ada kontrak yang mengikat
semua anda yang menentukan

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi kami di:

ISO | Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

Apakah Perusahaan Kecil Perlu Menerapkan Pembukuan-Akuntansi?

Pertanyaan “apakah perusahaan (kecil) saya perlu menerapkan pembukuan-akuntansi” ini sangat sering diajukan oleh pengusaha kecil (UKM), misalnya: salon kecantikan, toko kelontong, penjahit pakaian (tailor), konveksi, bengkel, gerai cellular, bistro, sampai e-commerce dan bisnis online dadakan yang belakangan menjamur via Facebook dan media sosial lainnya. Pertanyaan serupa yang cukup sering ditanyakan adalah: “kapan perusahaan saya memerlukan pembukuan dan akuntansi?

Jika anda—orang accounting—yang ditanya, kira-kira apa jawaban anda? Apakah perusahaan kecil seperti itu perlu pembukuan dan akuntansi? Kapan suatu usaha memerlukan pembukuan dan akuntansi?

ObviouslyDi satu sisi, kita—sebagai orang accounting—sudah pasti menyarankan mereka untuk menerapkan akuntansi, minimal pembukuan. Iya kan?

Di sisi lainnya, saya yakin, para pelaku usaha kecil rata-rata sudah tahu bahwa, menerapkan pembukuan dan akuntansi adalah bagus. Dari buku, majalah, radio, televisi, koran, media online, pasti mereka pernah baca/dengar.

Anehnya, entah mengapa, sampai saat ini sebagian besar pengusaha kecil seolah-olah tak terbujuk oleh anjuran itu, dan masih saja menganggap bahwa….

 

Proses Pembukuan/Akuntansi Merepotkan, Mengkonsumsi Biaya dan Waktu

Bukan anggapan yang salah. Proses menjalankan pembukuan—terlebih akuntansi—memang merepotkan, mengkonsumsi biaya dan waktu. Mari kita gunakan ‘kaca-mata’ pengusaha, sejenak:

1. Biaya – Proses pembukuan dan akuntansi adalah pekerjaan teknikal. Tidak semua orang bisa menjalankannya. Untuk bisa, perlu melalui proses pembelajaran khusus (workshop, kursus, atau belajar akuntansi di bangku kuliah). Mereka yang tidak bisa, terpaksa merekrut-dan-menggaji pegawai pembukuan/accounting. Atau, menggunakan jasa pembukuan/akuntansi dari pihak ketiga (konsultan). Dan itu, bisa jadi beban (biaya) serius bagi para pelaku usaha kecil.

Misalnya: revenue (mereka menyebutnya “omset”) usaha salon kecantikan hanya 15 juta, dengan keuntungan rata-rata 5 juta per bulan. Kalau bayar konsultannya sampai 2 juta/bulan, habislah untungnya. Merekrut dan menggaji pegawai accounting Rp 2 – 3 juta/bulan, ya sama saja.

2. Waktu – Katakanlah pengusahanya memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, sehingga tidak perlu merekrut (dan menggaji) pegawai accounting atau pakai konsultan, semua dikerjakan sendiri. Tetap saja proses akuntansi mengkonsumsi waktu. Apalagi bagi pengusaha kecil yang tidak menguasai akuntansi, sudah pasti sangat merepotkan. Dalam pandangan umum, pembukuan dan akuntansi sifatnya administrative belaka, tidak menghasilkan uang. Bagi banyak pegusaha kecil, waktu mereka akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk membuat barang-dagangan atau melayani pelanggan (ketimbang melakukan pekerjaan administrative macam pembukuan dan akuntansi).

Itu sebabnya mengapa jarang ada perusahaan kecil yang mau menerapkan pembukuan (terlebih-lebih akuntansi) secara serius. Dari sekian banyak usaha kecil yang pernah saya tangani, kalaupun ada pencatatan (dan pengarsipan bukti transaksi), biasanya masih berantakan. Pencatatan dilakukan—sekedarnya saja—oleh pegawai yang tidak memiliki skill yang cukup. Itupun masih dianggap aktivitas sambilan, setelah pekerjaan lainnya selesai.

Memangnya akuntansi bisa membuat aku dapat banyak pelanggan, dapat supply bahan baku murah, sehingga menjadi untung?

…tanya saudara sepupu saya (pengusaha handicraft di Yogayakarta sana), antara skeptis dan sinis.

Jujur saja, saya tidak tahu jawabannya. Lha wong saya bukan pengusaha, cuma lulusan SMEA, mantan pegawai accounting abal-abal. Lagipula, saya tidak pintar menjelaskan sesuatu—apalagi debat. I definitely am not.

Tapi saya ingin share satu kasus yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh pengusaha kecil. Siapa tahu, ada manfaatnya. Jika tertarik, silahkan lanjutkan membaca…

 

Mengapa Usaha Kecil Rentan Terhadap Kebangkrutan?

Sekitar 2 tahun lalu, salah satu klien saya, pengusaha (menengah) yang cukup sukses, menanyakan tentang bagaimana caranya mengelola uang pinjaman agar kelak tidak menimbulkan masalah bagi perusahaanya (baik dari aspek keuangan maupun perpajakan).

Tadinya saya pikir dia meminjam uang bank untuk menambah modal kerja. Ternyata tidak. Justru dia yang meminjamkan uang kepada adiknya, pengusaha konveksi sekaligus bistro (outlet pakaian jadi) yang kondisi keuangannya kembang kempis, nyaris bangkrut.

Selesai memberikan masukan seperlunya, waktunya mendengarkan keluh-kesah klien dalam menjalankan usaha. Ini sudah menjadi semacam rutinitas bagi saya.

Klien saya itu mengeluhkan betapa capeknya dia meminjamkan uang kepada adiknya. Dikasih pinjaman 1 M habis dalam setahun. Pinjam 500 juta, tidak seberapa lama habis lagi. Begitu terus berkali-kali.

Ya mau bagaimana lagi?” kata klien saya itu setengah putus-asa.

Terlebih-lebih adik, membantu tetangga yang sedang ditimpa kesusahanpun baik, malahan wajib (dalam banyak kasus). Hanya saja, pada kondisi-kondisi tertentu bisa jadi bantuan itu (terutama uang) justru menjerumuskan orang yang kita bantu. Contohnya? Ya, klien saya itu. Bantuan kas yang terus-menerus membuat si adik tak pernah menyadari kalau pengelolaan usaha konveksinya, selama ini, tidak beres.

In general, perusahaan yang meminjam kas berkali-kali (darimanapun sumbernya), sesungguhnya, tidak sedang mengalami masalah uang, tetapi masalah pengelolaan uang—yang bisa jadi berawal dari ketidakberesan dalam pengelolaan operasional.

Hutang/pinjaman kas, tidak menyembuhkan penyakit keuangan maupun operasional. Jika dianalogikan dengan penderita typus, cairan infus memang bisa membuat dia tetap bertahan hidup, tetapi tidak membebaskannya dari rongrongan virus. Selain asupan infus, hal terpenting yang dibutuhkan adalah antibiotic. Setuju?

Demikian halnya dengan perusahaan yang sedang kesulitan keuangan; pinjaman kas hanya bisa membuat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek (membayar tagihan-tagihan jatuh tempo), sehingga bisa ‘stay-in-business’, untuk sementara waktu. Jika pengelolaan keuangan dan operasional tidak diperbaiki, maka akan terlilit masalah yang sama begitu kas pinjamannya habis.

Itulah yang saya sampaikan ke klien. Atas rekomendasi kakaknya, beberapa hari kemudian si adik (pemilik konveksi dan bistro yang kembang-kempis) menghubungi saya—untuk konsultasi.

Hal pertama yang saya sampaikan adalah: pentingnya menerapkan akuntansi dengan serius, setidaknya pembukuan. Tetapi (sudah saya duga), dia menggunakan mindset yang sama seperti adik sepupu saya: pembukuan dan akuntansi lebih banyak merepotkan (dan membebani) ketimbang membantu.

Ada solusi lain, pak?” dia bertanya.

Saya katakan “tidak ada.” Percuma jika saya jelaskan—apa itu fungsi pembukuan dan akuntansi panjang lebar—dengan cara klise.

Sebagai gantinya, saya menanyakan apa hambatan terberat yang dia hadapi selama menjalankan usaha.

Jawabannya: “Saya selalu kesulitan kas”.

Ketika saya tanya apakah perusahaan dalam posisi untung atau rugi, dia mengatakan “kayaknya sih rugi.” Dan, ketika saya menanyakan “berapa kerugian bulan lalu?” dia tidak tahu berapa persisnya.

Saya tidak kaget—itu kondisi yang khas di lingkungan usaha kecil; tidak banyak pengusaha kecil yang tahu persis berapa keuntungan yang mereka peroleh (atau kerugian yang mereka derita) setiap bulannya. Lebih parahnya (dan ini mayoritas), mereka bahkan tidak tahu persis apakah perusahaannya sedang untung atau rugi. Yang mereka pakai adalah ‘sense’ (“kira-kira untung” atau “kira-kira rugi”), dari ketersediaan kas:

  • Jika kas melimpah (bisa membayar dengan lancar), berarti untung
  • Jika kas sedikit (mengalami kesulitan membayar), berarti rugi

Soal menggunakan instinct dan sense, tidak perlu diragukan lagi. Mereka (para pengusaha) memiliki keistimewaan dalam menggunakan instinct. Sehingga dalam mengambil keputusan, asalkan ‘make (business) sense’, mereka jalan.

Mereka jarang mengarahkan perhatian pada hal-hal yang detail, apalagi angka-angka kecil, lebih memilih mencurahkan perhatian pada hal-hal yang lebih besar, khususnya business strategy (menarik pelanggan, memenangkan kompetisi, mencari supplier bagus, cari pinjaman modal kerja, dan sejenisnya).

Apakah itu buruk, kaitannya dengan pengelolaan keuangan?

First of all. Yang namanya usaha, ada pasang surutnya, ‘peak-and-valley’, ‘high-and-low season‘. Dan sudah pasti, kondisi ini berpengaruh terhadap tingkat laba/rugi, ketersediaan kas, dan lancar-tidaknya operasional perusahaan.

  • Pada tingkat profitabilitas yang tinggi (terlepas apakah si pengusahanya tahu berapa persisnya),  risiko yang timbul akibat lebih banyak menghandalkan sense (ketimbang detail), tidak terlalu terasa. Konkretnya, gangguan kas maupun operasional nyaris tidak ada, sehingga mereka berpikir “we are fine”. Padahal, bisa jadi itu hanya kondisi sementara—sebelum gelombang surut datang.
  • Giliran gelombang sedang surut (low season), tingkat laba perusahaan menurun (atau bahkan merugi), ketersediaan kas menipis dan tersendat, operasional perusahaan mulai terganggu. Apakah sense mereka sudah tidak tajam lagi? Oh masih. Rata-rata pengusaha memiliki ‘sense-of-crisis’ yang tinggi. Jika tidak, mana mungkin mereka panik mencari pinjaman kesana-kemari. Mereka ‘merasakan’ adanya ketidakberesan, tetapi dalam banyak kasus (pengusaha konveksi di atas misalnya), mereka tidak tahu; apa persisnya yang tidak beres, di bagian mana persisnya ketidakberesan terjadi.

Untuk tahu apa PERSIS-nya yang tidak beres dan dimana terjadi, INSTINCT dan SENSE SAJA TIDAK CUKUP. Diperlukan perhatian khusus hingga ke hal-hal detail. Jika mau bicara ekstrim, angka satu rupiahpun penting untuk diketahui; darimana berasal dan kemana perginya.

  • Untuk menelusuri (tracking) uang masuk dari mana dan digunakan untuk apa, apakah digunakan dengan efektif atau dihambur-hamburkan, perlu minimal MENERAPKAN PEMBUKUAN. Apa itu pembukuan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang beres dalam pengelolaan keuangan dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI KEUANGAN. Apa itu akuntansi keuangan? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.
  • Untuk mengetahui apa yang tidak beres/apa yang yang beres dalam pengelolaan operasional dan dimana persisnya terjadi, perlu MENERAPKAN AKUNTANSI MANAJEMEN. Apa itu akuntansi manajemen? Bagaimana prosesnya? Saya akan bahas sebentar lagi.

Minimal 3 hal itu yang harus diperhatikan hingga ke hal yang paling detail, untuk bisa mengendalikan kondisi keuangan dan operasional perusahaan. Tidak bisa lagi mengandalkan sense dan instinct.

Mereka yang tetap mengandalkan instinct-dan-sense dalam segala kondisi—dan ogah menerapkan pembukuan/akuntansi—sudah pasti mengalami kesulitan untuk keluar dari gangguan keuangan. Sayangnya, tidak banyak pengusaha kecil yang bisa lolos dari masalah keuangan, sehingga lebih banyak yang bangkrut ketimbang yang ‘stay-in-business’ dalam jangka waktu panjang.

Sebagai pembanding….

 

Mengapa Korporasi Besar Relative Lebih Stabil Dibandingkan Usaha Kecil

Aktivis dan pengamat ekonomi boleh menggiring opini publik—melalui media masa—dengan mengatakan bahwa, “usaha kecil lebih tahan terhadap gangguan ekonomi.” Bisa jadi apa yang para pengamat katakan itu benar—setidaknya jika dikaitkan dengan gangguan ekonomi makro, tetapi tidak dalam scope kondisi keuangan perusahaan itu sendiri.

Hasil pandangan mata saya sendiri setiap hari—bergelut dengan laporan keuangan mereka setiap hari, terlibat dalam cost reduction exercise, mengevaluasi sistim pengendalian intern, menyiapkan due diligent akuisisi—menemukan kenyataan bahwa: korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil. Ini kenyataan.

Jika anda pengusaha kecil, silahkan rasakan sendiri bagaimana kondisi keuangan dan operasional perusahaan anda? Mulus atau ngos-ngosan setiap hari?

Tidak perlu dijawab. Saya sudah tahu. Dan itu typical, lumrah, terjadi dimana-mana dari Sabang sampai Merauke.

Pertanyaannya: mengapa korporasi besar relative lebih stabil dibandingkan usaha kecil?

Mirip seperti pembalap off-road yang berpacu di alam bebas, harus melewati berbagai macam rintangan untuk sampai di garis finish.

1. Korporasi Besar – Ibarat pembalap off-road  PRO yang sudah kenyang pengalaman. Mungkinkah mereka gagal mencapai garis finish? Bisa saja, tetapi kemungkinannya  kecil. Masih lebih besar peluang berhasilnya.

  • Apakah karena mereka tidak menemui hambatan di perjalanan? Namanya juga off-road, sudah pasti ada banyak rintangan.
  • Apakah karena mereka menggunakan 4WD powered vehicle yang CC-nya sangat besar? Pada umumnya, IYA, dan memang ada pengaruhnya, tetapi bukan itu kunci utama keberhasilannya.

Saya kenal beberapa PRO OFF-ROADers (pengusaha yang sudah berpengalaman, termasuk mantan boss saya). Yang pasti sekali, mereka turun ke lintasan balap dengan persiapan yang matang dan dilengkapi peralatan yang cukup. Mengajak navigator yang siap dengan peta dan kompas di tangan.

Disepanjang lintasan pacu, sang pembalap fokus untuk mengatur laju-gerak mesin mobil yang dikendarainya. Sementara sang navigator fokus untuk mengamati peta lintasan dan melihat kompas. Hasilnya?

Mereka lebih sering berada dalam lintasan (on-track) ketimbang nyasar ke luar kemana-mana, karena sang navigator selalu memandu sang pembalap, sesekali dia berteriak “banting kanan” atau “kiri” untuk menghindari kubangan atau batu besar. Beberapa dari mereka (meskipun jarang) pernah jauh keluar lintasan—mungkin karena pembalapnya rada ugal dan bandel. Bila itu terjadi, biasanya mereka berhenti sejenak, melihat peta dan kompas bersama-sama, berembug untuk mencari jalan kembali ke lintasan. Dan memang berhasil. Begitu cara kerja pembalap off-road yang PRO.

2. Usaha Kecil – Ibarat pembalap off-road amatiran. Nekat berangkat sendiri karena TIDAK MAMPU membayar navigator. Sudah tanpa navigator, tidak membawa peta dan kompas pula. Modalnya cuma nekat. Pakai instinct dan sense-pun, keduanya juga belum cukup terasah, masih tumpul (By the way: Instinct business itu bukan bawaan lahir, tapi hasil akumulasi pengalaman-panjang yang mengendap di bawah alam-sadar, dan muncul ke permukaan ketika dibutuhkan).

Kemungkinan berhasil melewati rintangan? Sangat rendah. Yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ arah lintasan, sehingga kemungkinan terjebak lubang atau terhalang batu, sangat tinggi. Dan… ketika tersesat keluar lintasan, yang mereka lakukan hanya ‘mengira-ngira’ lalu menginjak pedal gas sekencang mungkin, sambil berharap bisa kembali ke lintasan. Iya kalau persediaan bensin tidak terbatas, bagimana kalau bensin habis sebelum sampai ke garis finish? Dan itu, most likely. Kalau pinjam istilahnya IFRS, “more than probable”.

Idealnya, setiap pembalap (amatir dan pro) turun ke medan balap dengan persiapan dan peralatan yang memadai. Demikian halnya dengan mereka yang terjun untuk menjalankan roda usaha.

Oke. Hidup memang tidak seindah itu. Pada kenyataannya, kondisi ideal tidak selalu bisa kita hadirkan (atau capai). Tetapi dengan pertimbangan yang sedikit lebih matang, mau bersusah-payah dan kerepotan, mestinya bisa menghadirkan kondisi yang setidaknya masih lebih baik ketimbang buruk samasekali.

Pertanyaannya: apa navigator, peta lintasan dan kompasnya roda usaha?

 

Pembukuan dan Akuntansi Menjaga Perusahaan Agara Tetap On-Track

Pengusaha kecil tidak mampu bayar konsultan untuk dijadikan navigator (“muahaal!” kata mereka), sangat masuk-akal dan bisa dimengerti. Tetapi mereka bisa merekrut pegawai pembukuan atau accounting yang tentu costnya lebih murah.

Untuk bisa tetap on-track mereka juga bisa membuat budget sederhana, menerapkan pembukuan, sebagai peta-lintasan dan kompas.

Iya. Bagi pengelolaan keuangan dan operasional,

Pembukuan dan akuntansi adalah peta dan kompasnya perusahaan

Untuk yang tidak berlatarbelakang pendidikan akuntansi, saya jelaskan sedikit apa itu pembukuan dan akuntansi, dan apa fungsi mereka masing-masing—dari perspektif pengusaha kecil (bukan dari perspektif regulator, investor atau lantai bursa saham).

1. PEMBUKUAN – Sederhahanya, “pembukuan” adalah istilah yang digunakan untuk mewakili aktivitas: mengumpulan bukti transaksi (nota) —> mencatat (menjurnal)—> mengelompokan (ke dalam akun-akun buku besar sesuai aktivitas)—> menyusunan laporan keuangan.

Proses pembukuan, dilakukan oleh seorang pegawai pembukuan yang memiliki skill khusus pembukuan (lumrah disebut “bookkeeper”). Tidak perlu sarjana akuntansi. D3 akuntansi (bahkan lulusan SMK Akuntansi) pun sudah cukup, sehingga tidak harus berbayar super-mahal.

Data yang dihasilkan dari proses pembukuan (pengumpulan bukti transkasi, pencatatan, pengelompokan, dan penyusunan laporan keuangan) minimal bisa digunakan untuk mengelola 3 elemen penting ini:

  • Mengelola Modal Kerja Berupa Kas – Apakah persediaan kas cukup untuk membiayai operasional hari ini, satu minggu, satu bulan atau satu kuartal ke depan. Lebih jauh lagi, bisa melihat dari mana datangnya kas, untuk apa kas digunakan, apakah kas digunakan secara efisien atau tidak.
  • Mengelola Modal Kerja Non Kas – Modal kerja non-kas meliputi: (a) Piutang: data pembukuan bisa digunakan untuk mengetahui berapa jumlah piutang hari ini, satu minggu ini, dan satu bulan ini. Dari total itu, berapa piutang yang jatuh tempo (akan cair) dan siapa saja pelanggannya—sehingga pengusaha bisa mengkoordinasikan penagihan dengan tepat waktu. (b) Utang: di sisi lainnya, pengusaha juga bisa tahu berapa nilai utang yang jatuh tempo (harus dibayar) hari ini, minggu ini dan bulan ini—sehingga bisa merencanakan pembayaran dengan lebih teratur (tanpa mengecewakan supplier). (c) Persediaan: data pembukuan juga bisa menjadi alat pengelola persediaan; berapa jumlah persediaan yang ada hari ini, akhir minggu ini, akhir bulan ini—apakah cukup atau berlebih-lebihan.
  • Mengola Aktiva Tetap – Disamping bangunan dan kendaraan operasional yang relative lebih mudah untuk dikelola, pada jenis usaha tertentu mesin dan peralatan adalah aset vital yang membuat perusahaan bisa beroperasi dengan lancar. Memastikan peralatan ini tidak hilang atau rusak adalah penting. Pembukuan menyediakan data pasti atas aset-aset ini, sehingga bisa diawasi dengan lebih mudah.

Dengan menggunakan data pembukuan saja, minimal pengusaha sudah bisa mengetahui: (a) darimana dan kemana kas mengalir; (b) apakah perusahaan dalam kondisi untung/rugi dan berapa; (c) berapa besar kekayaan perusahaan; (d) berapa besarnya kewajiban (utang) perusahaan. Secara global, informasi itu bisa diperoleh hanya dengan membaca laporan keuangan. Untuk menelusuri sampai ke detail, bisa melihat catatan transaksi yang sudah dikelompoka secara sistematis dalam buku besar. Dari informasi-informasi itu pengusaha sudah bisa mengetahui apakah perusahaan ‘on-track’ atau tidak.

2. AKUNTANSI – Pembukuan hanya sebagian dari cakupan proses akuntansi secara keseluruhan. Selain proses pembukuan (pengumpulan bukti transaksi, pencatatan, pengelompokan dan penyusunan laporan keuangan), akuntansi juga melakukan proses-proses analisa untuk pengambilan keputusan yang sifatnya lebih strategis. Proses akuntansi biasanya dilakukan oleh seorang akuntan atau konsultan yang bisa menjadi navigator dalam menjalan roda opersional perusahaan.

Oke. Akuntansi itu sendiri terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

a. Akuntansi Keuangan – Dalam akuntansi keuangan, data hasil proses pembukuan (yang sudah saya bahas di atas) dianalisa lebih jauh untuk mengetahui: apakah transaksi telah diproses sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Melalui proses audit, pengusaha bisa menemukan transaksi-transaksi aneh yang bisa jadi merupakan gejala awal adanya penyelewengan (fraud)—yang jika tidak terdeteksi bisa menimbulkan kerugian besar bagi perushaan.

b. Akuntansi Manajemen – Mengguanakan data yang dihasilkan dari proses pembukuan ditambah dengan data cost, lalu dibandingkan dengan budget, pengusaha bisa memperoleh informasi untuk digunakan sebagai dalam pengambilan-keputusan yang sifatnya lebih strategis. Misalnya:

  • Dari data kas (laporan arus kas dan detailnya), pengusaha bisa mengetahui apakah kas teralokasikan ke aktivitas-aktivitas yang bernilai-tambah atau bukan, dengan cara membandingkan antara budget (rencana) dengan realisasinya.
  • Dari data penjualan (di laporan laba-rugi) dan persediaan (neraca), pengusaha bisa tahu mana produk yang menghasilkan profit tinggi (sehingga perlu dikembangkan) dan mana yang tidak (mungkin lebih baik dihentikan produksinya). Lebih jauh lagi, pengusaha juga bisa tahu mana channel pemasaran yang efektif dan mana yang tidak—sehingga tahu strategi pemasaran seperti apa yang diperlukan ke depannya.
  • Dari data piutang (neraca), pengusaha bisa tahu pelanggan mana yang tepat waktu dalam membayar, malas membayar, sulit ditagih dan gagal tagih—sehingga bisa menilai pelanggan mana yang perlu diberi insentif kredit berjangkawaktu lebih panjang dan mana yang harus diketatkan. Bahkan pengusaha bisa tahu mana pelanggan yang profitable mana yang tidak—sehingga tahu harus berbuat apa terhadap mereka.
  • Dan lain sebagainya.

c. Akuntansi Pajak – Sudah menjadi rahasia umum bahwa pajak adalah salah satu beban perusahaan yang jika salah-kelola bisa menimbulkan masalah yang sulit diatasi. Dengan data akuntansi pajak, pengusaha bisa melakukan kendali yang lebih efektif terhadap setiap unsur pajak yang timbul dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perushaan selama beroperasi. Misalnya: dengan membuat tax planning.

 

Kesimpulan: Kapan Perusahaan Perlu Menerapkan Pembukuan dan Akuntansi?

Akuntansi dan pembukuan, oleh pengusaha kecil, cenderung dianggap sebagai beban, sesuatu yang merepotkan—sehingga tidak banyak usaha kecil yang mau menerpkan keduanya secara serius. Pengalaman saya selama ini menunjukan; pengusaha kecil baru menyadari pentingnya menerapkan pembukuan dan akuntansi setelah mereka mengalami masalah keuangan.

Jika diterapkan secara serius, saya pribadi berani menjamin: beban gaji untuk pegawai bookkeeper/accounting atau fee untuk konsultan, sangat kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari proses pembukuan dan akuntansi yang diterapkan. Kerepotan yang ditimbulkan akibat proses pembukuan dan akuntansi, tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerepotan yang timbul jika tidak menerapkan.

Bagaimanapun juga, khususnya kepada perusahaan kecil (UKM), saya tidak pernah memaksa mereka untuk menerapkan pembukuan dan akuntansi. Keputusan natara menerapkan-atau-tidak, adalah  ‘trade-off’ untuk dipilih antara:

  • Repotnya menerapkan pembukuan-akuntansi serta beban yang ditimbulkannya; dengan
  • Potensi manfaat yang akan diperoleh.

Jadi, kapan suatu perusahaan perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi?

Suatu perusahaan belum perlu menerapkan pembukuan dan akuntansi, bila PENGUSAHA (atau pengelolanya) BISA TAHU SECARA PERSIS:

  • Berapa keuntungan/kerugian perusahaan
  • Berapa profit margin perusahaan
  • Berapa penjualan hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Produk mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan
  • Channel pemasaran mana yang efektif dan mana yang tidak
  • Berapa biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead dan biaya umum lainnya
  • Aktivitas mana yang efisien dan mana yang boros
  • Berapa saldo kas hari ini, minggu ini, bulan ini.
  • Dari mana dan kemana kas mengalir
  • Siapa saja pelanggan yang belum bayar, berapa piutang (tagihan) ke pelanggan hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya
  • Berapa persediaan hari ini, minggu ini, bulan ini
  • Persediaan mana yang lancar dan mana yang negndon digudang berbulan-bulan
  • Siapa saja supplier yang belum dibayar, berapa utang ke supplier hari ini, minggu ini, bulan ini dan kapan jatuh temponya.
  • Berapa saldo utang bank dan kreditur lainnya dan kapan jatuh temponya
  • Berapa kewajiban pajak yang timbul hari ini, atas obyek apa, dan kapan harus dibayar

TANPA MENGALAMI KESULITAN dan pemerintah/pihak otoritas lainnya belum mewajibkan.

Catatan Untuk Teman-Teman di Accounting

Salah-satu alasan mengapa pengusaha kecil enggan merekrut bookkeeper (terlebih-lebih akuntan) adalah karena mereka menemukan kenyataan bahwa: belum banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan penuh. Sebagian besar hanya sampai pada proses pencatatan dan penyusunan laporan keuangan ‘THOK’, belum sampai melakukan analisa yang bisa dijadikan bahan pengambilan keputusan.

Itu sebabnya, banyak pengusaha kecil yang menganggap MANFAAT yang diperoleh dari menerapkan pembukuan dan akuntansi BELUM SEBANDING dengan BIAYA dan KEREPOTAN yang ditimbulkan.

Semoga kedepannya semakin banyak pegawai accounting yang bisa menjalankan fungsinya dengan lebih penuh, sehingga pengusaha tidak merasa sia-sia. Dengan terus memperdalam ilmu akuntansi dan belajar mengenai proses suatu usaha (bisnis), saya optimis semua orang accounting (management dan public accountant), BISA.

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit | ISO

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

 

jurnalakuntansikeuangan

 

4 Tips Bisnis Plan Untuk Startup yang Layak Dicoba

Q: Seberapa penting memiliki bisnis plan dan termasuk apa saja?

A: Sebagai seorang pengusaha muda, mungkin kamu saat ini sedang bersemangat membangun startup dari bawah. Namun, merencanakan masa depan itu penting dengan memiliki bisnis plan dari awal.

Apakah kamu sudah membayangkan perusahaanmu dapat membantumu hingga kamu pensiun dan kamu perlu mengeluarkan biaya besar nantinya. untuk itu kamu merencakan bisnis planmu. Berikut ada 4 tips untuk meciptakan bisnis plan:

  1. Merencanakan Masa Depan

Mendefinisikan apa yang kamu inginkan dalam jangak panjang akan membantu membentuk bisnis planmu. Misalnya, sebuah bisnis keluarga yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, tentunya ini membutuhkan langkah yang berbeda dibandingkan jika kamu menghitung penjualan per hari.

  1. Menentukan Pembeli yang Potensial

Jika kamu berencana menjual, berfikirlah tentang ketertarikan pembeli dalam menilai produkmu. Seringkali, ini menjadi sebuah pesaing atau perusahaan yang lebih besar dalam industri gratis. Meskipun, kamu bisa menjadi seorang karyawan.

  1. Melakukan Penelitian Teori dengan Penilaian yang Berbeda

Memahami konsep “net present value” dan “multiple of earning” sangat penting untuk menciptakan kekayaan. Melakukan pekerjaan jangan lupa untuk menilai secara subyektif, sampai akhirnya bisnis tersebut layak kamu jual.

  1. Mempertimbangakan Penjualan Bagian Dari Bisnismu

Perlu diingat bahwa kamu pasti bisa menjual bagian struktur perusahaanmu. Kamu dapat membagi kepemilikkan menjadi 2 jenis saham, yaitu voting dan non voting, ini untuk menjaga kontrol dari keputasan besar.

Jika kamu tidak memiliki bisnis plan, maka kamu telah membuat kesalahan strategi dalam menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri dan kamu tidak bisa meninggalkannya. Sebagian pengusaha tidak pernah lupa untuk bekerja dibisnis.

Jasa akuntansi | Standar operasi prosedur | Pembukuan | Review laporan keuangan | Audit |

www.canconsulting.net / www.ccaccounting.wordpress.com

email : info@canconsulting.net

Phone/SMS/Whatsapp: +62-81-9010-11177

jejualan