SIKLUS PENGGAJIAN

KECURANGAN DAN PENGGENDALIAN DALAM SIKLUS PENGGAJIAN
Bentuk Kecurangan:
Titip absen
Pengendalian yang Relevan:
– Penempatan buku absen atau kartu waktu di dekat satpam.
– Penggunaan absensi sidik jari.

Bentuk Kecurangan:
Karyawan hantu
Pengendalian yang Relevan:
– Supervisor pabrik tidak boleh memiliki kewenangan untuk mengangkat karyawan (tanpa keterlibatan bagian personalia).
– Mesin kartu waktu ditempatkan dekat satpam agar tidak ada peluang bagu seorang karyawan untuk memasukkan kartu waktu dua kali.
– Kewenangan membagikan gaji ada di tangan kasir. Setiap karyawan harus datang ke kasir dan menandatangani bukti penerimaan gaji. Pengambilan gaji tidak dapat diwakilkan.

Lilis Setiawati

Widarti

SIKLUS PENGELUARAN KAS KECIL

Berikut ini akan disajikan kecurangan dan pengendalian dalam siklus pengeluaran kas kecil.
Kecurangan dan Pengendalian dalam Siklus Kas Kecil
Bentuk Kecurangan:
Pemanfaatan kas oleh pengelola kas kecil
Pengendalian yang Relevan:
– Penggunaan system imprest dalam pengelolaan kas.
– Penggunaan kas bon yang bernomor urut tercetak.
– Audit mendadak atas saldo kas dan bukti transaksi yang ada di tangan pengelola kas kecil.
– Penetapan batas waktu untuk penyelesaian kas bon.

Bentuk Kecurangan:
Pemanfaatan nota kosong oleh pengguna kas kecil
Pengendalian yang Relevan:
– Standar uang makan bagi staf yang dinas luar.
– Penetapan daftar pemasok sehingga karyawan hanya boleh berbelanja kebutuhan rutin pada pemasok yang terdaftar.

Bentuk Kecurangan:
Melaporkan biaya personal sebagai pengeluaran kantor.
Pengendalian yang Relevan:
– Penggunaan formulir permintaan pembelian.
– Pembelian hanya boleh dilakukan oleh bagian pembelian.
– Saat memberi penggantian uang ke karyawan, kasir wajib mengecek kesesuaian informasi dalam permintaan pembelian dengan nota pembelian dari pemasok.

Bentuk Kecurangan:
Mengubah nota transaksi
Pengendalian yang Relevan:
– Saat memberi penggantian uang ke karyawan, kasir wajib mengecek kebenaran penghitungan di setiap nota.
– Kewajaran harga beli sebuah barang dapat dibandingkan dengan barang serupa dalam nota yang lain.

Bentuk Kecurangan:
Melaporkan satu nota dua kali.
Pengendalian yang Relevan:
– Pengecekan oleh auditor ada tidak nota kembar.

Bentuk Kecurangan:
Memanfaatkan biaya tanpa nota
Pengendalian yang Relevan:
– Penggunaan bukti pengeluaran uang yang ditandatangani oleh pihak penerima uang (khususnya untuk transaksi yang nilainya material).

Lilis Setiawati

Widarti

SIKLUS PEMBELIAN

KECURANGAN DALAM SIKLUS PEMBELIAN
Kecurangan dalam siklus pembelian dapat dilakukan oleh karyawan perusahaan maupun oleh pemasok, atau kerja sama kedua pihak tersebut. Kecurangan karyawan dalam siklus pembelian dapat berupa:
1. Berpura-pura menjadi pemasok dengan mengirim tagihan ke perusahaan, padahal sebenarnya karyawan tersebut tidak pernah mengirimkan barang ke perusahaan.
2. Mendirikan perusahaan yang khusus didirikan hanya untuk memasok barang ke perusahaan kita. Jadi perusahaan ini tidak memiliki konsumen lain , selain kita.
3. Membeli barang ke pemasok, dan meminta pemasok untuk mengirimkan barang ke rumah si karyawan. Sementara perusahaan akan menanggung biaya pembelian tersebut.
4. Karyawan berkolusi dengan pemasok untuk mendapat komisi atau tip.

Berikut adalah penjelasan pengendalian yang dapat dilakukan untuk meminimalkan keempat bentuk kecurangan tersebut.
Pengendalian yang relevan dalam Siklus Pembelian

– Kebijakan untuk membeli hanya pada pemasok yang ada dalam daftar pemasok.
– Kehati-hatian saat menambah pemasok baru. Perusahaan harus memastikan bahwa pemasok baru tersebut benar-benar ada.
– Wewenang pembelian ada di tangan bagian pembelian.
– Bagian pembelian mesti terpisah dari bagian akuntansi dan bagian penerimaan barang.
– Pembayaran atas utang dagang hanya dilakukan jika barang sudah diterima dari pemasok, yang dibuktikan dengan adanya laporan penerimaan barang yang dibuat oleh bagian penerimaan barang.
– Laporan penerimaan barang mesti bernomor urut tercetak dan ada dalam tanggung jawab bagian penerimaan barang. Blangko laporan penerimaan barang tidak boleh diletakkan di sembarang tempat, sehingga bisa dicuri dan dimanfaatkan orang.
– Bagian utang mesti dipisahkan dengan karyawan yang berwenang menandatangani cek.
– Karyawan yang hendak menandatangani cek wajib untuk mengecek kelengkapan dokumen pendukung (seperti adanya faktur dari pemasok dan laporan penerimaan barang dari bagian penerimaan barang).
– Bagian utang dagang mesti memastikan bahwa informasi yang tertera dalam dokumen surat order pembelian, dokumen laporan penerimaan barang, serta dokumen faktur dari pemasok memang cocok.
– Pengiriman barang ke rumah karyawan dapat dideteksi dengan mengecek alamat pengiriman yang tertera dalam dokumen surat order pembelian, dalam faktur dan dalam surat muat dari kurir yang mengirimkan barang.
– Pantang bagi karyawan yang berwenang untuk menandatangani cek yang masih kosong (blank cek).
– Wewenang untuk membuat kesepakatan harga dengan pemasok mesti dipisahkan dengan wewenang untuk memesan barang ke pemasok.
– Untuk pembelian aktiva ataupun bahan baku yang nilainya material, baik jika perusahaan mengajukan quotation ke beberapa calon pemasok. Dengan membandingkan quotation dari banyak pemasok ini, pemasok yang harganya mahal (karena tidak efisien, akibat pemberian ekstra tip atau komisi) akan tertangkap.
– Pembelian aktiva dengan nilai yang sangat material, dapat diawali dengan lelang.

Kecurangan lain yang bisa terjadi dalam siklus pembelian adalah pemanfaatan cek perusahaan oleh orang yang tidak berwenang. Tip untuk mengamankam cek perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Menyimpan blangko cek kosong di tempat yang terkunci, sehingga tidak sembarang orang bisa mengakses blangko cek.
2. Bonggol cek harus selalu diisi lengkap sehingga bonggol cek dapat dicocokkan dengan laporan bank.
3. Pelaksanaan rekonsiliasi bank oleh karyawan yang tidak bertanggung jawab menyimpan cek dan menandatangani cek.
4. Cek yang salah isi, diarsip rapid dan diberi tulisan BATAL agar cek salah isi tidak dimanfaatkan oleh pelaku kecurangan.

Lilis Setiawati

Widarti R

KECURANGAN DAN PENGENDALIAN DALAM PENJUALAN KREDIT

Bentuk Kecurangan:
Lapping
Pengendalian yang Relevan:
– Pemisahan tugas antara karyawan yang bertanggung jawab untuk menerima kas dari pelunasan piutang konsumen dan karyawan yang bertanggung jawab untuk mencatat pelunasan piutang.
– Mendorong konsumen untuk melunasi piutang dengan transfer ke rekening perusahaan.
– Rutin mengirim pernyataan piutang kepada konsumen sehingga konsumen akan komplain jika ada lapping.
– Mewajibkan setiap karyawan untuk memakai hak cuti mereka agar pekerjaan setiap karyawan dapat di-review orang lain.

Bentuk Kecurangan:
Konsumen hantu (konsumen fiktif)
Pengendalian yang relevan:
– Pemisahan tugas antara bagian pencatatan piutang dan pihak yang berwenang untuk menghapus piutang macet.
– Ketelitian pada saat menelaah calon konsumen baru, termasuk memastikan bahwa calon konsumen tersebut benar-benar eksis.

Bentuk Kecurangan:
Pencurian cek yang diterima dari konsumen
Pengendalian yang relevan:
– Kebijakan untuk meminta konsumen membuat cek atau BG atas nama. Jadi, nama perusahaan kita sebagai pihak penerima kas mesti tertulis secara eksplisit dalam lembar cek.
– Kebijakan bahwa cek tidak boleh diuangkan. Cek hanya bisa dicairkan dan dana akan langsung masuk ke rekening perusahaan.
– Rutin mengirim surat pernyataan piutang ke konsumen.
– Pemisahan tugas antara yang berwenang untuk menerima cek dari konsumen dan yang menyetorkan cek ke bank.
– Meminta konsumen memberitahukan secara tertulis jika konsumen melakukan pelunasan piutang (misalnya mentransfer uang).

Bentuk Kecurangan:
Konsumen yang sengaja membuat kredit macet
Pengendalian yang relevan:
– Memastikan keberadaan konsumen.
– Memberi kredit sesuai dengan kapasitas konsumen (besar kecilnya usaha dan omzet konsumen).
– Penetapan kebijakan bahwa setiap faktur dari transaksi sebelumnya harus lunas sebelum konsumen bisa membeli secara kredit.

Lilis Setiawati

Widarti R

Kecurangan dan Pengendalian dalam Penjualan Tunai

Pengendalian Teknis untuk Meminimalkan Ragam Kecurangan di Perusahaan
Kecurangan dan Pengendalian dalam Penjualan Tunai
Bentuk Kecurangan:
Penggelapan kas dari penjualan tunai
Pengendalian yang Relevan:
– Penggunaan nota penjualan bernomor urut tercetak
– Penggunaan cash register
– Pemisahan tugas antara kasir dan pelayan toko
– Pencatatan mutasi persediaan
– Pelaksanaan stok fisik persediaan oleh karyawan selain karyawan gudang

Bentuk Kecurangan:
Pencurian setoran kas dari para kasir
Pengendalian yang Relevan:
– Penggunaan bukti serah terima uang kas dari kasir ke manajer cabang
– Penerapan kebijakan bahwa total kas diterima dari penjualan harus disetorkan ke bank
– Pengecekan oleh auditor internal bahwa total bukti serah terima pada satu hari sama dengan total kas yang disetorkan ke bank

Bentuk Kecurangan:
Pencurian kas yang akan disetorkan ke bank
Pengendalian yang Relevan:
– Memisahkan karyawan yang bertugas menyetorkan uang ke bank dengan akryawan yang bertugas menghitung dan menyiapkan kas yang akan disetorkan ke bank.
– Auditor Internal mesti mencocokkan kesesuaian jumlah setoran yang tertulis di slip setoran bank dan hasil hitungan jumlah kas yang akan disetorkan ke bank.

Lilis Setiawati

Widarti

Istilah Akuntansi Inggris – Indonesia

Current assets : Aset lancar
Cash and cash equivalents : Kas dan setara kas
Restricted cash in banks : Kas di bank yang dibatasi penggunaannya
Short term investment : Investasi jangka pendek
Available-for-sale financial assets : Aset keuangan tersedia untuk dijual
Notes receivable : Wesel tagih
Derivative assets : Aset derivative
Trade receivables : Piutang usaha
Third parties : Pihak ketiga
Related parties : Pihak berelasi
Due from related parties : Piutang pihak berelasi
Inventories : Persediaan
Value-added tax recoverable : Tagihan Pajak Pertambahan Nilai
Non-current assets : Aset tidak lancar
Investments in associates : Investasi pada entitas asosiasi
Fixed assets : Aset tetap
Deferred costs : Biaya tangguhan
Claims for tax refund : Tagihan pajak
Deferred financing costs : Biaya keuangan tangguhan
Restated : Telah disajikan kembali
Current liabilities : Liabilitas jangka pendek
Short-term loans : Pinjaman jangka pendek
Trade payables : Utang usaha
Due to Government of Indonesia : Utang kepada Pemerintah Indonesia
Accrued expenses : Beban yang masih harus dibayar
Taxes payable : Utang pajak
Derivated liabilities : Liabilitas derivative
Current maturities of long-term liabilities: Liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun
Long-term loans : Pinjaman jangka panjang
Obligation under financial leases : Utang sewa pembiayaan
Accrued redemption-premium current portion : Premi penebusan – bagian jangka pendek
Non current liabilities : Liabilitas jangka panjang
Due to related parties : Utang pihak berelasi
Deferred tax liabilities-net : Liabilitas pajak tangguhan – neto
Employee benefits obligation : Liabilitas manfaat karyawan
Deferred revenue : Pendapatan ditangguhkan
Long term liabilities – net of current maturities : Liabilitas jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun
Obligation under finance leases : Utang sewa pembiayaan
Convertible bonds : Obligasi konversi
Equity attributable to equity holders of the parent : Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
Capital stock : Modal saham
Additional paid-in capital-net : Tambahan modal disetor – neto
Other capital reserves : Cadangan modal lainnya
Retained earnings : Saldo laba
Equity attributable to the owners of the parent : Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
Non-controlling interest : Kepentingan non pengendali
Revenues : Pendapatan
Cost of revenues : Beban pokok pendapatan
Gross profit : Laba bruto
Operating expenses : Beban usaha
Gain on derivative transactions : Laba atas transaksi derivatif
Equity in net income of associates : Bagian atas laba neto entitas asosiasi
Gain on foreign exchange-net : Laba selisih kurs-neto
Interest income : Penghasilan bunga
Gain (loss) on sale of investments : Laba (rugi) atas pelepasan investasi
Interest expenses and finance charges : Beban bunga dan keuangan
Loss on cancellation of sale of shares of stock : Rugi atas pembatalan penjualan saham
Asset write-off : Penghapusbukuan asset
Interest on late payment of tax : Bunga keterlambatan pembayaran pajak
Loss on sale of fixed asset : Rugi atas penjualan asset tetap
Income before income tax benefit (expense) : Laba sebelum manfaat (beban) pajak penghasilan
Income tax benefit (expense) : Manfaat (beban) pajak penghasilan
Owners of the parent : Pemilik entitas induk
Subsidiaries : Entitas anak
Exchange differences due to financial statements translation : Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan
Change in equity transaction of a subsidiary/associate: Perubahan atas transaksi ekuitas dari entitas anak/entitas asosiasi
Increase in fair value of available-for sale financial assets : Kenaikan nilai wajar asset keuangan tersedia untuk dijual
Net comprehensive income : Laba komprehensif neto
Cash flows from operating activities : Arus kas dari aktivitas operasi
Receipts from customers : Penerimaan dari pelanggan
Receipts from interest income : Penghasilan bunga
Payments of income taxes : Pembayaran pajak penghasilan
Payments of interest and bank charges : Pembayaran bunga dan beban bank
Net cash flows provided by operating activities : Kas neto yang diperoleh dari aktivitas operasi
Net acquisitions of fixed assets : Pembelian asset tetap – neto
Disbursements for exploration and development costs : Pembayaran biaya eksplorasi dan pengembangan
Placement of time deposits and restricted cash in banks : Penempatan deposito berjangka dank as di bank yang dibatasi penggunaannya
Additions to oil and gas properties : Penambahan asset minyak dan gas bumi
Acquisitions of shares-net : Pembelian saham – neto
Dividend received : Penerimaan dividen
Advances for business development projects : Uang muka proyek pengembangan usaha
Issuance of notes receivable : Penerbitan wesel tagih
Net cash flows used in investing activities : Kas neto digunakan untuk investing activities
Disbursements for exploration and development costs : Pembayaran biaya eksplorasi dan pengembangan
Placement of time deposits and restricted cash in banks : Penempatan deposito berjangka dank as di bank yang dibatasi penggunaanya
Payment of loans : Pembayaran atas pinjaman
Proceed from loans : Penerimaan dan pinjaman
Payment of financing leases obligation : Pembayaran utang sewa pembiayaan
Proceed (payment) in related parties-net: Penerimaan (pembayaran) pihak berelasi – neto
Cash settlement of convertible bonds : Pembayaran obligasi konversi

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

Apabila barang dagang yang dibeli termasuk kategori barang mewah (peraturan perpajakan), selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM sesuai dengan tarif barang mewah sesuai dengan peraturan perpajakan.

Nilai PPnBM tersebut diperlakukan menambah nilai harga pokok barang yang dibeli, jadi tidak boleh dicatat sebagai PPnBM masukan.

Contoh 8:

PT. MATAHARI PUTRA PRIMA membeli 1000 krat minuman ringan sirup ABC dari PT. ABC dengan perincian sebagai berikut:

Harga 1000 krat sirup @200                    Rp. 200.000

PPN 10% = 10% x Rp.200.000                           Rp.   20.000

PPnBM 20%                                                    Rp.     4.000

Jumlah Invoice                                              Rp.  260.000

* menurut peraturan perpajakan, minuman ringan masuk dalam kategori barang mewah dengan tarif 20%.

Jurnal PT. MATAHARI (Sistem Fisik):

Pembelian                                 Rp. 240.000

PPN Masukan                              Rp.   20.000

Hutang Dagang                                     Rp. 260.000

Jurnal PT. MATAHARI (Sistem Perpetual):

Persediaan Barang                      Rp. 240.000

PPN Masukan                              Rp.   20.000

Hutang Dagang                                     Rp. 260.000

Irsan L.

Widarti

PPN Keluaran dan PPN BM

Khusus PPN Keluaran pada akhir bulan dilakukan kompensasi dengan PPN Masukan dan pembelian Barang Kena Pajak (BKP) yang berkaitan dengan usaha atau barang modal.

Apabila jumlah PPN Keluaran lebih besar dari PPN Masukan, maka selisihnya disebut PPN kurang bayar (PPN-KB) yang harus dilunasi paling lambat 15 bulan takwin berikutnya. Sedangkan apabila PPN Keluaran lebih kecil dari PPN Masukan, maka selisihnya disebut PPN lebih bayar (PPN-LB) yang dapat direstitusikan atau dikreditkan dengan PPN-KB bulan berikutnya.

Khusus PPn-BM tidak dapat dikreditkan tetapi harus dilunasi paling lambat tanggal 15 bulan takwin berikutnya bersama-sama dengan Surat Setoran Pajak (SSP) PPN Kurang Bayar.

Contoh 17: Penjualan Tunai dan Kredit

PKP PT Bintang menjual barang dagang kepada PT Matahari dengan perincian:

100 krat kecap ABCmenjual barang dagang kepada PT Matahari dengan perincian:

100 krat kecap ABC                              Rp.  5.000.000

200 krat sambal ABC                             Rp.  6.000.000

Jumlah harga jual                                 Rp. 11.000.000

PPN 10% x Rp. 11.000.000                     Rp.  1.100.000

Total Faktur                                         Rp. 12.100.000

Jurnal Penjualan Tunai

Kas                                                     Rp. 12.100.000

          Penjualan                                            Rp. 11.000.000

          PPN Keluaran                             Rp.  1.100.000

Jurnal Penjualan Kredit

Piutang Dagang                                    Rp. 12.100.000

          Penjualan                                            Rp. 11.000.000

          PPN Keluaran                             Rp.   1.100.000

Contoh 18: Penjualan dengan Pembayaran Sebagian

PKP PT Bintang menjual barang dagang kepada PT Matahari dengan perincian sebagai berikut:

100 krat kecap ABC                              Rp.  5.000.000

200 krat sambal ABC                             Rp.  6.000.000

Jumlah harga jual                                 Rp. 11.000.000

PPN 10% x Rp. 11.000.000                     Rp.   1.100.000
Total Faktur                                         Rp. 12.100.000

Dibayar tunai                                       Rp.   4.000.000

Sisa tagihan                                         Rp.   8.100.000

Jurnal Pembayaran Sebagian:

Kas                                                     Rp.  4.000.000

Piutang Dagang                                    Rp.  8.100.000

          Penjualan                                            Rp. 11.000.000

          PPN Keluaran                             Rp.   1.100.000

Contoh 19: Penjualan atas Barang Mewah

PKP PT.ABC menjual barang dagang kepada PT.Matahar sebagai berikut:

100 krat kecap ABC                              Rp.  5.000.000

200 krat sambal ABC                             Rp.  6.000.000

Jumlah harga jual                                 Rp. 11.000.000

PPN 10% x Rp.11.000.000                      Rp.   1.100.000

PPn-BM 20% x Rp.11.000.000                 Rp.   2.200.000

Total Faktur                                        Rp. 14.300.000

Jurnal Penjualan Kredit:

Piutang dagang                                    Rp. 14.300.000

          Penjualan                                            Rp. 11.000.000

          PPn Keluaran                                       Rp.   1.100.000

          Hutang PPn-BM                                     Rp.   2.200.000

Contoh 20: Penjualan kepada Pemungut PPN dan PPh 22 (Instansi Pemerintah)

PT. Bunda Cemerlang menjual alat tulis kantor kepada Pemda TK 2 Tangeran dengan perincian sebagai berikut:

Kertas HVS 200 rim                                         Rp. 4.000.000

Tinta Printer 10 Unit                                       Rp. 5.000.000

Jumlah Harga                                                 Rp. 9.000.000

PPN 10% x Rp 9.000.000                                  Rp.    900.000

Jumlah Faktur                                                Rp. 9.900.000

Dipungut PPN dan PPh 22 oleh Perum Pegadaian

PPh Pasal 22: (1.5% x Rp. 9.000.000)      Rp.135.000

PPN 10% x Rp.9.000.000                        Rp.900.000

Jumlah Pungutan                                            Rp. 1.035.000

Jumlah Pembayaran yang diterima                  Rp. 8.865.000

Jurnal

Kas                                                     Rp. 8.865.000

Uang muka PPh Pasal 22                        Rp.    135.000

PPn Keluaran                                       Rp.    900.000

          Penjualan                                                      Rp.9.000.000

          PPN Keluaran                                       Rp.   900.000

Irsan L.

Widarti

Akuntansi Penjualan Perusahan Dagang

PENJUALAN (SALES)

Setiap perusahaan yang bergerak dalam perdagangan memperoleh pendapatan dari hasil penjualan barang dagangan yang menjadi bidang usahanya.

Contoh 12:

Penjualan Rp. 450.000.000
Retur Penjualan Rp. 20.000.000
Potongan Penjualan Rp. 30.000.000
Jumlah Retur & Potongan Penjualan Rp.  50.000.000
Penjualan Bersih (Neto) Rp. 400.000.000
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan awal Rp. 150.000.000
Pembelian Rp. 300.000.000
Retur Pembelian Rp.15.000.000
Potongan Pembelian Rp.10.000.000
Jumlah Retur & Potongan Pembelian Rp.   25.000.000
Pembelian bersih (neto) Rp.  275.000.000
Biaya Angkut Pembelian Rp.    35.000.000
Harga Pokok Pembelian Rp. 310.000.000
Barang Tersedia Untuk Dijual (TUD) Rp. 460.000.000
Persediaan Akhir Rp. 200.000.000
Harga Pokok Penjualan (HPP) Rp. 260.000.000
Laba Kotor Rp. 140.000.000

Contoh 13: Penjualan Tunai

Toko beras “Cap Ayam Jago” pada tanggal 3 Maret menjual 5 (lima) ton beras @ Rp. 10.000.000,- kepada took “Aneka” secara tunai, harga pokok beras tersebut sebesar Rp. 6.000.000/ton.

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Fisik):

Kas                                            Rp. 50.000.000,-

Penjualan                                   Rp. 50.000.000,-

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Perpetual)”

Kas                                           Rp.  50.000.000,-

Penjualan                                  Rp. 50.000.000,-

Harga Pokok Penjualan                Rp. 30.000.000,-

Persediaan Barang Dagang           Rp. 30.000.000,-

Contoh 14: Penjualan dengan pembayaran sebagian

Toko beras “Cap Ayam Jago” pada tanggal 3 Maret menjual 5 (lima) ton beras @ Rp.10.000.000,- kepada Toko “Aneka” dari jumlah tersebut diterima tunai Rp. 30.000.000,- dan sisanya sebesar Rp. 20.000.000,- dibayar bulan depan. Harga pokok beras tersebut Rp. 6.000.000/ton.

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Fisik):

Kas                                           Rp. 30.000.000,-

Piutang Dagang                           Rp. 20.000.000,-

Penjualan                                  Rp. 50.000.000,-

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Perpetual):

Kas                                           Rp. 30.000.000,-

Piutang Dagang                           Rp. 20.000.000,-

Penjualan                                  Rp. 50.000.000,-

Harga Pokok Penjualan                Rp. 30.000.000,-

Persediaan Barang Dagang           Rp. 30.000.000,-

Contoh 15: Penjualan Kredit

Toko beras “Cap Ayam Jago” pada tanggal 3 Maret menjual 5 (lima) ton beras @ Rp.10.000.000,- kepada Toko “Aneka” syarat pembayaran 2/10, n/30. Harga pokok penjualan beras tersebut Rp.6.000.000/ton.

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Fisik):

Piutang Dagang                           Rp. 50.000.000,-

Penjualan                                  Rp. 50.000.000,-

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Perpetual):

Piutang Dagang                           Rp. 50.000.000,-

Penjualan                                  Rp. 50.000.000,-

Harga Pokok Penjualan                Rp. 30.000.000,-

Persediaan Barang Dagang           Rp. 30.000.000,-

Contoh 16: Retur Penjualan (SALES RETURN)

Diterima kembali dari “Toko Aneka” atas beras yang dijual sebanyak 1 ton tersebut pada contoh 15.

Jurnal Toko “Cap Ayam Jago” (Sistem Fisik):

Retur Penjualan                          Rp. 10.000.000,-

Piutang Dagang                           Rp. 10.000.000,-

Persediaan Barang Dagang           Rp.  6.000.000,-

Harga Pokok Penjualan                Rp.  6.000.000,-

Irsan L.

Widarti